
Kelvan termenung di tempat dengan tangan menggantung di udara. Dia terlambat meraih Livia yang kini sudah menyatu dengan tanah. Sawah di sana baru saja selesai dibajak, jadi hanya dipenuhi oleh tanah berair. Wanita itu bangkit dengan wajah yang tidak bisa dilihat jelas tampangnya lantaran sudah dilapisi tanah.
Livia ingin menangis, tetapi lapisan tanah di wajahnya menampung kesedihan. Dia sangat kesal, mukanya memanas, terlebih ketika dirinya menatap Kelvan. Bagaimana bisa dia berakhir menjadi seperti itu di depan kekasihnya sendiri.
"An—da—"
"Jangan bicara apa pun," ucap Kelvan dengan cepat. Dia mengulurkan tangan, kemudian berkata kembali, "Jika Anda bicara, maka tanah itu akan masuk ke dalam mulut nantinya. Sekarang pegang tangan saya supaya Anda bisa naik ke atas sini."
Livia tidak memiliki alasan untuk menolak, meskipun dia sangat malu sekarang. Dia meraih tangan pria itu, lalu dirinya ditarik perlahan. Sayangnya, lagi-lagi dia menginjak tanah yang sama sehingga membuatnya tergelincir kembali.
Kali ini Kelvan tidak terlambat. Dia berhasil menyeimbangkan diri dan juga menangkap Livia. Jantungnya berdegup kencang akan dua hal, dirinya yang memeluk Livia, lalu dirinya yang hampir tenggelam dalam tanah. Tidak pernah terpikirkan bagaimana nanti jika dia berada di posisi Livia dengan wajah penuh lumpur.
Livia setidaknya membuang lapisan di mukanya sedikit, berpindah menempeli pakaian Kelvan. Dia merasa lebih bersalah pada apa yang menimpa mereka.
"S—saya—"
"Saya sudah katakan untuk tidak bicara."
__ADS_1
"Tapi—"
"Lebih baik kita kembali sekarang."
Livia merasakan kemarahan dari sikap itu. Dia tidak ingin bicara lagi, karena takut nantinya akan membuat Kelvan lebih marah. Nanti setelah mereka berada dalam kondisi baik, dia bertekad untuk memperbaiki kesalahannya.
Sampai di rumah nenek, tiga orang yang tertinggal langsung tercengang, terlebih pada Livia yang mukanya dipenuhi oleh tanah. Bahkan, dari tanah berair itu ada yang sudah kering sehingga warnanya berbeda-beda, pun dengan pakaiannya.
"A—apa yang terjadi?" Nea berkata.
"Apa kau Livia?" Sang nenek mengerutkan dahi. "Aku hampir tidak mengenali cucuku sendiri di balik wajah berlumpur itu!" Dia terpingkal-pingkal, bahkan bertepuk tangan.
Livia menundukkan kepala dalam-dalam. Tawa tiga orang di depan sana masih terdengar, mengejek apa yang menimpanya. Sementara, dia harus memperbaiki kesalahan serta rasa malunya di depan Kelvan.
"Maafkan saya. Anda pasti sangat marah, karena kecerobohan saya yang membuat pakaian mahal Anda menjadi kotor."
"Saya tidak menyesalinya."
__ADS_1
Livia mengangkat pandangan matanya. "Bagaimana bisa begitu? Saya telah merugikan Anda."
Kelvan tersenyum. "Merugikan saya? Kita baru pertama kali berpegangan tangan dan berpelukan. Dibandingkan merugikan, menurut saya itu lebih kepada keuntungan."
Livia merona merah mukanya. "Tiba-tiba ... A—anda membuat saya merasa malu."
Kelvan mengalihkan tatapannya dari Livia ke arah lain. Dia menjadi sangat malu setelah mengatakan hal itu dan jantungnya berdegup kencang sekarang, sesuatu yang sudah lama tidak dirasakannya. Dan kenapa dia terlihat seperti anak remaja dengan bertingkah malu-malu?
"Sebaiknya Anda pergi. S—saya tidak berpikir akan sanggup diam saja jika melihat Anda terus bersama saya di sini."
Harus dia akui kalau dirinya tidak dapat menolak kenyataan malu-malu seperti anak remaja.
"Tapi pakaian Anda ...."
Kelvan memperhatikan pakaian yang dikenakannya. Sangat kotor.
"Saya sepertinya memiliki sesuatu untuk Anda pakai sementara waktu selagi menunggu pakaian Anda kering."
__ADS_1
...***...
...Ada yang protes kenapa formal banget panggilannya saya dan anda, padahal udah pacaran. Hihi. Sabar, ya. Kita ikuti perkembangan mereka perlahan ;)...