Duda Beranak Satu

Duda Beranak Satu
Kehidupan Normal Nea


__ADS_3

Bibi yang bekerja di rumah mereka mengatakan kalau hari ini Nea tidak ke mana-mana, hanya beristirahat saja seperti anak baik. Sekarang pun Nea sudah pulas lebih awal dari jam tidurnya.


Menatap sang putri, Kelvan jadi terpikirkan kembali pada apa yang dikatakan Tania, putrinya dikucilkan. Dia tidak mengerti dengan anak-anak zaman sekarang yang menilai kelebihan seseorang sebagai suatu ancaman.


Tapi itu bukan sesuatu yang harus membuat putrinya mengorbankan masa depan, bukan?


Kelvan mengecup dahi sang putri, lalu keluar dari sana. Dia berjalan ke kamarnya, mengganti pakaian sebelum membaringkan diri. Jujur saja, dia ingin langsung memejamkan mata dan tidur, akan tetapi bayangan Livia mengusik.


Wanita itu menangis hanya untuk putrinya.


Keesokan hari hingga seterusnya, aktivitas sudah kembali seperti biasa. Nea cukup bingung di sekolah hari itu. Kalau biasanya dia diperlakukan istimewa, justru sekarang suasana kembali seperti sedia kala. Dia dimarahi ketika melakukan kesalahan dan dia akan dihargai ketika membuat prestasi.


Pemandangan itu tentu saja membuat teman-teman sekolahnya tercengang. Lambat laun penilaian terhadap Nea yang diperlakukan istimewa memudar, meskipun masih sedikit yang mau berinteraksi dengan Nea.


Perubahan begitu saja sudah membuat Nea sangat excited membicarakannya pada Livia. Sepanjang perjalanan ketika mereka tidak sengaja bertemu sampai menuju rumah untuk melaksanakan pembelajaran privat.

__ADS_1


"Jadi, sekarang Nea terkenal sebagai anak berandal di sekolah?" ucap Livia.


Nea tertawa. "Saya tidak tahu kenapa itu jadi terdengar seperti pujian. Mungkin, karena banyak bergaul dengan teman-teman saya sebelumnya, sedikit banyak cara mereka berbicara dan bersikap menjadi kebiasaan untuk saya."


Livia tersenyum. "Anda harus mengubah kebiasaan buruk itu."


Nea menganggukkan kepala. "Saya mengerti. Ah, ngomong-ngomong, setelah situasinya jadi seperti ini, apa Anda akan tetap mengajarkan saya? Sekarang saya tidak memiliki alasan lagi untuk bermalas-malasan."


Livia terdiam untuk beberapa saat, berpikir kalau perkataan itu ada benarnya. "Anda anak yang pintar. Pasti sangat membosankan jika di sekolah belajar, lalu di rumah harus belajar lagi. Nanti saya akan membicarakan hal ini pada ayah Anda."


"Anda menganggap saya sebagai teman dekat?"


"Memangnya Anda tidak berpikir begitu?"


Livia tersenyum, sejujurnya dia sangat senang dianggap demikian. "Anda bisa menghubungi saya kapan saja."

__ADS_1


Tiba-tiba mereka yang baru saja memasuki rumah bertemu dengan Kelvan. Pria itu tidak bekerja di hari Sabtu ini, jadi memutuskan untuk menonton sambil minum secangkir kopi di ruang tamu.


"Apa kalian memiliki jadwal belajar hari ini?" tanya Kelvan.


"Tentu saja, Ayah. Karena sekarang adalah hari Sabtu." Nea menarik tangan Livia seraya berkata, "Ayo, Bu Livia. Kita belajar di kamar saya saja."


Livia sempat melihat Kelvan yang tidak begitu menggubris kedatangannya. Menurut dia, tidak ada jalan lagi untuk kembali pada hubungan mereka yang biasa saja. Dia harus berterima kasih pada kejadian di sekolah waktu itu, karena semua menjadi semakin rumit.


Waktu terus berlalu hingga sore hari. Livia dan Nea baru saja keluar kamar, Kelvan sendiri masih terlihat betah dengan aktivitas weekend-nya.


"Ayah, aku harus pergi keluar sebentar. Temanku sudah menunggu."


"Kau masih berteman dengan mereka? Semut besar itu?"


"Semut besar? Apa yang Ayah katakan? Aku harus memberikan flashdisk yang berisi tugas sekolah. Bu Livia, saya akan keluar sebentar. Jangan pergi dulu sebelum saya kembali. Okay?"

__ADS_1



__ADS_2