
Kelvan hanya melihat Livia yang tengah tidur dari pintu. Dia tidak masuk ke dalam kamar, meskipun Nea sudah mempersilakan. Satu hari ini waktu yang dilaluinya sangat berat dan hal paling dia butuh sekarang adalah beristirahat.
"Ayah, maaf ...." Nea yang ragu-ragu berkata akhirnya memberanikan diri. "Aku sudah mengecewakanmu."
Kelvan menatap putrinya kini menundukkan kepala seolah sikapnya menunjukkan penyesalan. Dia tidak bisa menyalahkan siapa pun atas keadaan, terlebih semua telah terjadi.
Hubungan dirinya dan Jennifer tidak akan pernah kembali. Sikap Nea hanya sebagai bentuk kekhawatiran seorang anak. Jennifer juga memiliki pertimbangan sampai memutuskan supaya mereka membuat jarak dan menjadi sebuah kesalahpahaman yang baru mereka komunikasikan sekarang.
Lalu, Livia ....
Kelvan berpikir kalau mereka harus bicara besok. Wanita itu mengalami apa yang dinamakan kecemburuan. Dia seharusnya memahami posisi Livia yang kesulitan pula untuk berlapang dada.
__ADS_1
Kelvan mengusap kepala sang putri. "Beristirahatlah," ucapnya, kemudian beranjak dari sana.
Esok hari Kelvan dibangunkan oleh Nea. Dia melihat putrinya itu baru saja menyibakkan tirai. Hal pertama yang diingatnya ketika membuka mata adalah kejadian kemarin dan Livia ... Wanita itu tidak datang langsung untuknya pagi ini, sepertinya masih marah terhadapnya.
"Ayah, cepatlah bangun! Kalau tidak, kita akan terlambat! Aku sudah selesai bersiap-siap, sedangkan Ayah? Baru membuka mata."
Kelvan bergeser agar dapat duduk, lalu berkata, "Tidak biasanya kau membangunkan ayah."
Kelvan sedikit bingung, tetapi tetap beranjak keluar setelah menyelesaikan urusan di kamar mandi. Seperti kata Nea, makanan sudah disajikan untuk mereka. Pada saat itu, dia memandangi Livia yang hanya sibuk pada persiapan sarapan, tidak melihat ke arahnya sama sekali.
"Oh, Ayah! Duduklah di sini." Nea mendorong ayahnya ke satu tempat.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, Kelvan melihat sang istri mengambilkan makanan untuknya. Kelvan masih belum mengerti akan situasi, lebih tidak mungkin menganggap kalau kejadian kemarin adalah mimpi.
"Setiap hari seperti ini akan sangat menyenangkan," ucap Nea lagi. "Aku tidak ingin kehilangan waktu berharga bersama kalian kecuali," saat berkata sebenarnya dia hampir menandaskan sarapan. Jadi, tidak bisa berlama-lama, karena dirinya juga harus berangkat, "jadwalku sudah memaksaku untuk segera pergi!" Dia bangkit dari duduknya. "Aku benar-benar harus pergi kali ini. Tidak tahu akan seperti apa hukuman yang diberikan oleh dosen killer-ku!"
Waktu pagi itu berjalan singkat di mana Nea pergi dengan terburu-buru. Alasannya, tidak murni karena takut dihukum saja, tetapi juga ingin memberikan waktu bagi orangtuanya bicara tentang masalah kemarin.
Kelvan tidak berkata apa-apa sampai dirinya harus bersiap pula untuk pergi bekerja. Dia tidak tahu bagaimana harus memulai. Seumur hidupnya hanya kali ini merasa takut pada seorang wanita, takut jikalau Livia membuat keputusan terburuk.
Kelvan keluar dari kamar tidak lama setelah selesai bersiap, tidak sengaja melihat Livia yang masih berkutat di dapur. Saat itu dia menyadari kalau ketakutan terbesarnya bukanlah Livia yang mungkin akan membuat keputusan terburuk, tetapi dirinya yang mungkin akan kehilangan Livia. Jadi, dia akhirnya memutuskan untuk menghampiri istrinya dengan harapan dapat menyelesaikan masalah mereka.
Livia yang mengetahui keberadaan Kelvan sempat menoleh sebelum fokus pada blender di hadapannya kembali. "Aku belum pernah menggunakan benda ini, tidak tahu bagaimana cara memfungsikannya. Apa kau bisa membantuku?"
__ADS_1