
Livia berlari di bibir pantai, sangat menyenangkan untuk tersenyum tanpa memikirkan hal lain kecuali liburan. Dia membalikkan badan ketika melambatkan langkah, memperhatikan Kelvan yang jauh tertinggal. Pria itu berjalan biasa, membuat dia terlihat seperti anak kecil.
Tanpa sengaja topi yang Livia pakai terbang ke arah laut, langsung menarik dirinya untuk mengambil kembali, akan tetapi Kelvan yang sudah mempercepat langkah itu segera menahannya sebelum membasahi pakaian lebih banyak.
"Biarkan saja."
"Ta—tapi ...." Livia melihat topinya terbawa arus.
"Nanti kita ambil dari petugas pantai."
"Oh, baiklah ...."
Kelvan menarik sang istri agar bisa menepi ke daratan. Dia memeras ujung pakaian Livia yang terendam air laut tadi.
Livia tersentuh atas perlakuan sang suami. Bukan berarti Kelvan tidak perhatian padanya, tetapi hari ini begitu berbeda. Dia merasa sangat dicintai.
"Untung saja kita memakai sandal jepit. Melihat dirimu langsung terjun ke dalam lautan, aku jadi khawatir akan ada pasir yang menumpuk."
"Maafkan aku bertindak tiba-tiba."
__ADS_1
Kelvan menggenggam tangan istrinya, lalu mereka pun berjalan kembali. "Aku berharap agar kau lebih memperhatikan diri sendiri, karena aku tidak selalu ada di sampingmu."
"Aku mengerti."
"Sekarang apa ada hal lain yang ingin kau lakukan?"
"Hmmm, aku belum memikirkannya, karena terlalu asyik dengan waktu liburan kita." Teringat akan sesuatu, Livia langsung berkata, "Oh, aku bertemu dengan Kenzi!"
"Kenzi? Dia sudah kembali?"
Livia menggelengkan kepala. "Aku tidak tahu. Dia tidak mengatakan apa pun padaku soal itu."
"Tidak sama sekali. Dia seperti orang asing dan aku tidak mengenal Kenzi yang aku lihat. Saat memanggilnya, dia tidak menoleh. Bahkan, ketika kami saling bertatapan, dia bersikap tidak acuh."
"Kau yakin kalau itu Kenzi? Mungkin saja kau salah orang."
Livia mengusap dagunya. "Apa aku salah orang?"
Kenzi yang dilihat memang sangat berbeda. Anak itu berpenampilan rapi meski suka melanggar aturan, tetapi kemarin adalah sosok lain. Tidak pernah mengira jika Kenzi akan menjadi berandalan penampilannya.
__ADS_1
Sampai di hotel, mereka melanjutkan kegiatan yang tertunda ketika berada di ruang ganti pakaian. Livia yang berbaring itu mengulurkan tangan, menyambut kedatangan suaminya tanpa malu-malu.
Kelvan naik ke atas tubuh sang istri, menatap Livia yang tersenyum padanya. Hubungan mereka sudah sampai pada tahap di mana percintaan bukanlah sesuatu yang harus disembunyikan dari keinginan mereka lagi.
"Aku harus memakai pengaman lebih dulu. Kita masih harus fokus mengurus Vian. Bukan waktu yang tepat untuk membuat Nea memiliki dua adik sekarang."
Livia berubah sedih raut wajah. "Maafkan aku. Seharusnya, aku bisa menjadi seorang ibu sekaligus istri yang lebih baik lagi."
"Mungkin, aturan liburan kita harus ditambah. Dilarang mengatakan kata maaf. Kau tidak berhenti membuat dirimu sebagai orang yang bersalah."
"Aku merasa seperti itu sekarang."
"Kau sudah berusaha melakukan yang terbaik. Tidak ada yang kurang darimu. Kami sangat menyayangimu dan aku juga sangat mencintaimu. Hanya saja, kau baru pertama kali menjadi seorang ibu sehingga masih butuh pembiasaan untuk menguasai keadaan. Seiring waktu berjalan, apa yang kau anggap sulit tidak akan begitu lagi. Aku harap kau tidak menyerah menjalaninya bersamaku."
Livia menganggukkan kepala. "Terima kasih sudah memahamiku."
Kelvan meraih pengaman yang mereka beli dalam perjalanan pulang tadi, lalu menggigit kemasannya. "Jadi, kita mulai sekarang, Istriku?"
__ADS_1