Duda Beranak Satu

Duda Beranak Satu
Berempat di Dalam Mobil


__ADS_3

Livia tidak tahu apa perjalanan ke rumah neneknya akan dapat dinikmati seperti biasa. Untung saja, masih ada Nea yang ikut pula bersama mereka sehingga suasana tidak benar-benar canggung.


"I—ini hanya perjalanan pergi ke rumah nenek, tapi kalian justru mengantarkan bersama-sama. Saya jadi tidak enak hati pada kalian semua."


"Tidak perlu merasa sungkan. Anda akan menjadi bagian dari kami juga," ucap Nea.


Livia tetap saja tidak enak, tetapi apa yang dapat dilakukannya setelah jadi seperti sekarang? Kenzi tampak tidak senang dengan janji mereka, meskipun masih bisa dikatakan kalau dirinya memenuhi janji untuk jalan-jalan. Kelvan sendiri juga tampak tidak senang, karena dia tahu kalau pria itu menginginkan agar mereka menghabiskan waktu perjalanan secara pribadi.


"Saya harap semuanya akan baik-baik saja," gumam Livia.


"Apa nenek Anda tinggal seorang diri di desa?" tanya Nea, langsung memecahkan kecanggungan di antara mereka berempat.


"Benar. Saya berharap kalau nenek dapat tinggal bersama saya, tapi beliau keras kepala untuk menetap di desa saja. Alasannya, karena hidup di kota jauh lebih menyulitkan."


"Ah, saya mengerti maksud Anda. Orang tua kebanyakan sulit beradaptasi dengan lingkungan baru yang sudah maju. Wajar jika mereka memilih tinggal di tempat yang lebih nyaman. Jadi, Anda akan mengunjunginya setiap akhir pekan?"


"Kondisi nenek tidak terlalu baik. Saya datang agar bisa memastikan keadaannya."

__ADS_1


"Begitu rupanya ...."


Nea yang duduk di depan itu menoleh pada ayahnya, beralih pada Kenzi di belakang sana. Dia merasa ada kejanggalan di antara mereka, pantas saja semuanya kebanyakan tenang saja. Jika terus begitu, bukankah perjalanan tidak akan menyenangkan?


"Ayah, berhenti di depan sana sebentar."


"Ada apa?" tanya Kelvan. "Kau tidak berpikir buang air di sawah orang, bukan?"


Bukan tanpa alasan Kelvan berkata begitu, karena jalan yang sedang mereka lewati didominasi oleh sawah.


"Jangan berkata yang tidak-tidak, Ayah. Berhenti saja di depan sana."


"Seharusnya saya duduk di belakang. Bu Livia bisa pindah ke depan sekarang."


"Sungguh, tidak perlu sampai melakukan itu."


"Saya menginginkan agar bu Livia duduk di sebelah ayah. Kita tidak bisa menikmati perjalanan dengan suasana canggung, bukan? Kedua pria yang ada di dalam mobil seperti tidak menemukan hal menarik untuk dibicarakan. Mereka benar-benar karakter yang sangat sulit untuk dipahami."

__ADS_1


Livia tertawa kecil. Tidak menunggu lama untuk melihat dia duduk di kursi depan. Sedikit malu-malu, Livia melirik Kelvan yang mengemudikan mobil kembali. Pria itu sempat tersenyum padanya.


Nea melihat senyuman sang ayah, geli sendiri. Setelah itu, dia menatap ke arah Kenzi yang tidak lagi menatap ke luar jendela. Kenzi tampak tidak senang dengan keputusannya berpindah tempat, sesuatu yang belum bisa dia mengerti.


"Hei," sapa Nea, mencolek Kenzi. "Raut wajahmu terlihat sangat buruk sekarang. Apa yang membuatmu begitu marah?"


Kenzi melepaskan pandangan dari dua orang yang berbincang di hadapannya. "Bukan urusanmu."


Nea tidak menyerah, lalu mencolek Kenzi kembali, membuat anak laki-laki itu menatapnya dengan marah. "Kau tidak terlihat menyeramkan meski alismu menyatu sekali pun."


"Kenapa menggangguku? Nikmati saja pemandangan di luar jendelamu itu."


"Tapi pemandangan di sampingku jauh lebih menarik." Nea tersenyum.


Kenzi memasang wajah masam. "Kau pasti sudah kehilangan akal." Dia menoleh ke luar jendela kembali.


Nea sendiri tertawa kecil, melihat reaksi yang menurutnya begitu lucu. Dia akan berhenti mengusik Kenzi untuk sementara waktu dan fokus pada perjalanan mereka.

__ADS_1



__ADS_2