
"Ada tujuan apa kau datang kemari?," tanya sang ratu. "Aku kemari ingin bertemu dengan ibuku, Chu Ziyao," jawab Feng May. "Chu..Chu Ziyao ibumu?," tanya sang ratu dengan ekspresi terkejut. "Iya," jawab Feng May singkat.
"Kenapa?," tanya Feng May. "Chu Ziyao tidak bisa kembali! Karena dia memiliki garis keturunan sang ratu terdahulu!," ucap sang ratu. "Kalau begitu hapus saja lambang itu," ucap Feng May. "Itu bukanlah sesuatu yang diberikan, melainkan sejak Chu Ziyao lahir ia sudah memiliki tanda itu. Itu adalah takdirnya," jelas sang ratu.
Feng May diam tak membalas. "Bukankah sudah ada kau yang menjadi ratu kenapa harus membawa ibuku kemari?," tanya Feng May. "Karena dia adalah ratu yang sah," jawab ratu. "Kalau begitu kenapa kau yang duduk di singgasana?," ucap Feng May.
Ratu itu terdiam. "Benar bukankah Chu Ziyao yang ratu sebenarnya sudah kembali! seharusnya kan beliau yang duduk di singgasana! Bukan beliau," gumam jenderal istana dalam hati. Semua orang ditempat terdiam dengan ucapan Feng May.
__ADS_1
"Sudahlah! aku kemari ingin membawa ibuku kembali! Bukan untuk memperdebatkan posisi ratu," ucap Feng May memecah keheningan.
"Untuk hal itu tidak bisa!," tolak perdana menteri istana yang sejak tadi hanya diam memperhatikan. "Alasan apa yang ingin kau buat untuk menahan ibuku disini?," ucap Feng May dengan tatapan tajam menusuk. "Hal itu harus dibicarakan dengan tetua istana," ucap perdana menteri.
"Kalau begitu biarkan aku menemui ibuku," ucap Feng May. Perdana menteri itu menganggukan kepalanya dan berjalan mendahului diikuti oleh Feng May dibelakangnya.
"Anda bisa bicara dan melihat beliau," ucap perdana menteri. Feng May mengeryit "Apa maksudnya ini?," tanya Feng May sambil menunjuk pintu kaca transparan tersebut. "Untuk sementara keputusan yang diambil tetua adalah membiarkan beliau didalam dan meningkatkan kekuatannya. Setelah itu beliau akan menjalani tes untuk memimpin istana," jelas perdana menteri tersebut.
__ADS_1
"Apa maksud kalian ibuku harus dikurung disana?! Apa kau tidak lihat wajah ibuku yang tertekan didalam sana hah?!," teriak Feng May geram karena melihat ibunya yang terlihat kurus dan hanya berfokus untuk berlatih meningkatkan kekuatannya.
Perdana menteri itu hanya diam saja melihat kemarahan diwajah Feng May. "Nona ini keputusan tetua dan saya tidak bisa melakukan apapun. ^ang memiliki akses untuk masuk hanya tetua dan ratu saya dan jenderal hanya mampu melihat dengan kaca transparan ini," jelas perdana menteri tersebut.
Feng May menghirup udara dalam-dalam dan kemudian menghembuskannya. "Aku ingin bertemu dengan tetua," ucap Feng May. "Saya tidak melakukan itu. Bahkan ratu sendiri harus mendapatkan ijin setelah 1 bulan mengajukan usulan untuk bertemu," ucap perdana menteri.
"Bagaimana agar aku bisa bertemu dengan orang itu?," tanya Feng May. "Jika ada masalah mendesak beliau akan datang," jelas perdana menteri.
__ADS_1
Feng May diam dan kemudian memandang pintu kaca dan perdana menteri itu bergantian. Satu ide muncul dikepala Feng May. Perdana menteri tahu apa yang dipikirkan oleh Feng May, gadis itu ingin menghancurkan pintu kaca yang merupakan fasilitas istana dengan pertimbangan tetua sendiri. Namun perdana menteri itu hanya diam saja, dia tidak berniat menghentikan gadis itu.