
Pikiran Feng May yang masih mencoba menebak-nebak identitas ke-2 tuan muda ditambah lagi dengan lagi kekuatan ke-2 orang itu berada jauh diatasnya. Dan Liu Zi ia pun bingung dengan kekuatan asli orang itu.
Tanpa disadari oleh Feng May, Chu Ziyao masuk kedalam kamarnya dan mengejutkannya. Ia memandang kearah ibunya tersebut.
"May'er bisakah kau mengajak Chu Shiya untuk masuk keakademi Utara?,"
Feng May menatap tajam ibunya tersebut.
"Tidak, aku tidak bisa apa-apa. Dan bukankah ia diterima sebuah akademi khusus wanita. Akademi tersebut masuk dalam jajaran 10 akademi besar hanya tingkatannya saja yang kurang dari 5 akademi besar yang bisa dibilang adalah akademi terbaik," kata Feng May dengan ketus.
"**Tapi sepupu..,"
"Hah, sepupu! hei sejak kapan aku punya sepupu yang tidak punya malu**," kata Feng May sambil memutar bola matanya jengah.
Sedangkan Chu Shiya yang mendengarnya menjadi sangat marah. Ibunya yang mendengar kata-katanya pun meneriaki Feng May. Untuk beberapa saat Feng May dan ibunya bersitatap, sampai akhirnya Feng May berjalan melewati mereka berdua.
"Aku ragu bahwa kau adalah ibu kandung ku, ibu yang seharusnya aku hormati," katanya sambil berlalu.
"Bibi sudahlah! Aku baik-baik saja, tidak masalah jika aku harus masuk keakademi khusus wanita tersebut," kata Chu Shiya.
" Tapi didalam keluarga Chu, hanya kau yang mampu sampai pada tahap ini. Sebelum kehadiran Feng May kau adalah sijenius dari keluarga Chu," katanya sambil menghela nafas.
"Hah! jenius! sungguh memalukan," gumam Shangguan Yujing yang tidak sengaja lewat kepenginapan Feng May.
Ditempat lainnya....
Feng May pergi kearah selatan dimana tumbuh pohon-pohon bunga yang indah, lebat dan juga tinggi. Jadi sangat menguntungkan untuknya yang suka tidur diatas pohon dan tubuhnya langsung diterpa angin.
Ia berjalan menyusuri tempat itu dan berhenti disalah satu pohon yang menjulang tinggi dan terlihat dahannya sangat kokoh. Ia melompat dan berhenti didahan pohon yang cukup besar untuk ia berbaring. Ia segera membaringkan tubuhnya dan mulai memejamkan matanya dan segera ia melaju menuju alam mimpi.
"Kemana gadis itu? Ia menghilang tanpa jejak sama sekali," kata Shangguan Yujing sambil menoleh kekanan dan kesisi kiri.
Keesokan harinya...
Feng May merasakan sinar matahari menerpa hangat kewajahnya. Perlahan-lahan ia mulai membuka matanya dan mengerjap-ngerjap beberapa kali, sampai akhirnya ia tersadar sepenuhnya dari tidurnya.
Ia langsung merenggangkan badannya untuk melemaskan ototnya yang terasa kaku. Kemudian ia turun dari atas pohon, dan menguap lebar sambil menutupinya dengan telapak tangannya.
__ADS_1
"May'er kau darimana saja? Aku mencarimu dari kemaren," tanya yang langsung membuat Feng May menatap kearahnya.
"Aku dari atas pohon," jawabnya sambil berjalan.
Pemuda itu melihat pohon kemudian kembali menatap Feng May yang telah berjalan menjauh darinya.
"Kau kemarin tidur diatas pohon?," tanyanya sambil mengejar Feng May.
Feng May hanya menganggukan kepalanya sambil berlalu dan sama sekali tidak memandang kearah lawan bicaranya.
"Kita akan pergi kemana?," tanyanya.
"Kita akan pergi keakademi pilihan masing-masing," jawabnya.
"May'er apa yang kau lakukan?," tanyanya.
"Ah..kak aku akan pergi ketempat pengiriman untuk berangkat menuju akademi Utara," jawabnya.
"Lalu apa yang dilakukan yang mulia pangeran ke-4 disini?," tanyanya kepada pangeran ke-4.
"Aku mencari May'er karena ada keperluan," jawabnya dengan santai.
"Mohon pangeran ke-4 menjauhi adikku, Adikku sangatlah tidak cocok dengan anda," katanya dengan penuh penekanan.
"Tuan muda Feng, anda harus bertanya terlebih dahulu kepada May'er apakah ia bersedia denganku atau tidak?," katanya dengan tegas.
"Wah..wah sepertinya anda berniat untuk merebut adikku dari keluarganya?," tanyanya dengan nada tidak senang.
"Semua itu adalah keputusan dari nona Feng sendiri," katanya sambil berlalu meninggalkan tempat tersebut.
Ditempat lainnya....
"Nona Feng apa anda ada waktu?," tanya seorang wanita.
Feng May menatap kearah wanita itu, kemudian menggelengkan kepalanya.
"Emh....baiklah aku tidak akan menyita waktu anda. Begini aku ingin masuk salah satu dari 5 keakademi besar. Jadi bisakah kau mengalah padaku?," tanyanya.
__ADS_1
Feng May menatapnya dengan pandangan datar.
"Tidak," katanya sambil menghilang.
"Arggghh...sial dasar ******. Aku akan membuat hidupmu menderita," ucapnya dengan penuh emosi.
Disisi lain tempat tersebut....
wanita tidak tahu malu beraninya dia ingin menghancurkan hidup adikku, kata Feng Mu dalam hati.
Sepertinya Chu Shiya terlalu disayang oleh keluarga Chu, sehingga ia berani ingin menghancurkan hidup seseorang, kata pangeran ke-4 sambil mengepalkan tangannya.
Ditempat teleportasi pengiriman....
"May'er bisakah kau meluangkan waktumu?," tanya sang ibu.
Feng May memandang kearahnya, sebelum akhirnya ia dipanggil oleh perwakilan akademi Utara untuk memulai pemberangkatan. Ia masih memandang kearah ibunya, kemudian tersenyum.
Ada perasaan getir bahkan sedikit rasa penyesalan dan juga rasa sesak didada Chu Ziyao saat melihat kearah putrinya. Ia merasa menjadi ibu yang kejam, seharusnya ia memberikan ucapan selamat kepada putri satu-satunya. Tapi...
flashback (Chu Ziyao POV)
"Bibi kakek memanggil anda," kata Chu Shiya kepadaku.
Aku menoleh dan kemudian menganggukan kepalanya, ia berbalik dan berjalan menuju keaula keluarga Chu.
sesampainya diaula keluarga Chu..
"Ada apa kakek memanggil ku kemari?," tanyaku.
Semua tetua yang ada didalam aula memandang kearahku. Aku menundukkan Kepalaku sebagai tanda hormat.
"Ziyao kami ingin agar kau membantu Chu Shiya masuk kedalam akademi Utara atau akademi Zhong," kata tetua pertama.
Kata-kata dari tetua pertama sangat mengejutkan ku. Aku mendongakkan kepala ku untuk mencari kebenaran kata-kata beliau. Saat aku berusaha mencari sebuah candaan dimata tua itu, aku sama sekali tak menemukannya.
"Ka...Ehm..maksudmu tetua pertama, masuk kedalam salah satu akademi besar harus memenuhi kualifikasi terlebih dahulu. Bahkan anakku belum menjadi murid resmi dari akademi Zhong ataupun akademi Utara. Bagaimana bisa aku meminta agar mereka memasukkan Chu Shiya?," tanyaku
__ADS_1
Terlihat bahwa seluruh tetua ditempat tersebut tidak puas dengan jawaban ku. Mereka menyipitkan matanya bahkan mengeluarkan aura intimidasi. Jika dulu mungkin aku akan langsung bersujud dan meminta ampun, bahkan berusaha sekuat mungkin untuk menjadi yang terbaik dihadapan kakek dan tetua yang lainnya. Namun tidak mulai hari ini. Aku harus berdiri tegak untuk putra dan putriku.
"Kau belum melakukan apapun, bagaimana kau tahu bahwa kau tidak bisa meyakinkan anak-anak mu? kau sungguh mengecewakan Ziyao," kata seorang wanita yang dipanggil sebagai ibu olehku.