Feng May

Feng May
Episode 42


__ADS_3

Disisi lain....


Feng May sebuah kitab yang aneh dan berjudul " Keharmonisasian unsur" Feng May memandang kitab tersebut dan kemudian mengambilnya.


"Nona bagaimana bisa kau mengambil kitab itu. Itu adalah kitab yang sangat sulit untuk dilatih. Mungkin kau akan merenggang nyawa jika tetap mempelajarinya," kata seseorang dari arah belakang Feng May.


Feng May menoleh kebelakang dan mendapati seorang pria tua yang mungkin usianya sudah ratusan tahun.


"Siapa anda?," tanya Feng May heran.


"Saya? Untuk sekarang kau tidak perlu tahu. Kalau berjodoh mungkin kita bisa bertemu kembali,"


"Ambillah ini. Jika ada yang bertanya padamu buku apa yang kau ambil jangan bilang kau mengambil kitab "Keharmonisasian unsur" ambillah satu jurus lagi. Jadi kau memiliki 3 buku jurus. Maksimal adalah 2 jurus, jadi jurus pertama yang kau ambil tidak akan dihitung,"


"Saat kau akan mengembalikannya. Aku akan datang mengambil semua kitab jurus yang kau ambil," setelah mengatakan hal itu. Pria itu pergi meninggalkan tempat tersebut dan menyisakan Feng May yang masih berusaha mencerna kata-katanya.


"Heh BuBo apa kau tahu siapa orang tua itu?,"


"Tidak,"


"Dasar bodoh"


Feng May menggerutu kesal karena ia belum sempat menanyakan sesuatu namun orang tua itu sudah hilang entah kemana. Akhirnya ia menelusuri semua tempat kitab jurus sampai ke tempat senjata dan bertemu dengan Chen Sui.


Mereka saling pandang sampai kemudian..


"Dari mana saja kau adik seperguruan?,"


"Aku jalan-jalan disekitar rak buku. Kenapa kau memanggilku adik seperguruan?,"


"Karna aku lebih tua dari mu,"


Feng May mendengus kesal mendengar jawaban dari Chen Sui. Ia kembali memperhatikan semua senjata yang ada disekitar tempat tersebut. Sampai akhirnya ia berhenti dihadapan sebuah senjata yang membuat BuBo heboh sendiri dan meminta Feng May untuk memurnikan pedang itu dengan menggunakan darahnya.



"Tunggu!,"


Feng May dan Chen Sui menoleh kearah sumber suara. Yang berteriak adalah gurunya Li An Zu dan disampingnya ada 2 orang pria muda.


"Muridku dia adalah putra ku. Dan ini adalah tetua termuda akademi Utara," katanya sambil memperhatikan 2 orang pemuda disamping kanan dan kirinya.


Feng May dan Chen Sui mengangguk kemudian memberi salam kepada tetua termuda akademi Utara.



Orang yang menjadi tetua termuda akademi Utara tersebut memandang kearah Feng May dan Chen Sui bergantian.

__ADS_1


"Siapa yang berniat mengambil pedang ini?,"


"Aku yang ingin mengambilnya karena merasakan getaran yang tidak asing dari pedang itu," kata Feng May dengan tegas.


Feng May memang merasakan getaran aneh pada dirinya saat berhadapan dengan pedang tersebut.


"Kalau begitu cobalah ambil pedang itu. Jika kau bisa memiliki pedang itu, dan membuatnya mengakuimu sebagai tuan. Maka kau bisa memilikinya,"


Feng May memandang aneh kearah tetua tersebut.


"Siapapun yang ingin mengambil pedang tersebut. Mereka selalu berakhir dengan merenggang nyawa," kata putra dari Li An Zu.


"Ah kenalkan namaku adalah Li An Jing dan ini adalah Sahabatku namanya Zue Che,"


"Ohh..," ucap Feng May dan Chen Sui serempak.


"Ambillah," perintah Zue Che.


Feng May mengangguk dan berjalan mendekati pedang itu.


"May pejamkan matamu dan gores tanganmu hingga berdarah lalu biarkan. Setelah itu serahkan padaku," kata BuBo.


Feng May menganggukan kepalanya kemudian mengambil pisau dan menggores lengannya. Ia membiarkan darahnya mengalir sampai membasahi lantai.


Feng May menutup matanya dan seketika muncullah seekor Burung surgawi, Phoenix api sejati. Mereka yang melihat sang Phoenix muncul dibelakang Feng May terlongo-longo tak percaya.



Ke-4 orang yang melihat kejadian tersebut melongo tak percaya. Pedang Phoenix yang tidak akan mungkin dapat ditaklukan sekarang berada digenggaman gadis kecil itu.


"Jadi pedang ini sudah menjadi milikku kan?," kata-kata Feng May menyadarkan semua orang orang yang masih bengong ditempatnya masing-masing.


"Ah..iya pedang itu telah menjadi milikmu," kata Zue Che.


"Bagaimana luka ditanganmu?," tanya Chen Sui.


"Tidak apa-apa, lihatlah baik bukan?," katanya dengan senyuman.


"Syukurlah kalau begitu," kata tetua Li.


"**Jika kalian sudah selesai maka ikutlah dengan ku untuk menuju ruangan latihan. Selama 2 bulan kalian akan berlatih secara tertutup,"


"Baik guru**," jawab ke-2 orang tersebut serempak.


Sedangkan Li An Jing dan Zue Che berpamitan untuk kembali melakukan pelatihan diluar akademi.


"Guru bukankah Zue Che adalah tetua muda kenapa ia berlatih diluar akademi," tanya Feng May yang ceplas ceplos.

__ADS_1


"Hey jaga ucapanmu," kata Chen Sui sambil menyenggol bahu gadis itu.


"Hah kenapa memangnya?," tanyanya bingung.


"**Sudahlah tidak usah berdebat. Zue Che menjalankan misi untuk menangkap seorang buronan,"


"Ohh**..,"


Setelahnya mereka bertiga berjalan menuju kesebuah ruangan seperti pintu dimensi.


"Masuklah, kalian akan berlatih didalam dimensi dan setelah 2 bulan kalian akan keluar dari tempat itu sendiri,"


Mereka langsung masuk kedalam ruangan masing-masing. Feng May berada disebuah hutan yang hampir seluruhnya bercahaya. Sedangkan Chen Sui berada disebuah tempat yang banyak sekali hewan beast, ia berada disebuah Gua yang berada diatas tebing.


Setelahnya mereka berdua langsung berlatih dengan tekun. Li An Zu mengamati kedua muridnya yang memiliki bakat yang luar biasa.


"Semoga merekalah orang yang ada dalam perhitunganku," katanya dengan air mata yang menetes.


2 bulan kemudian....


Chen Sui membuka matanya, kemudian ia berjalan keluar mendapati gurunya tengah berdiri menyambutnya dengan senyuman.


"Dimana adik seperguruan? Apa ia belum keluar?," tanyanya pada sang guru.


"**Belum mungkin besok atau lusa ia akan keluar,"


"Pergilah keperpustakaan lantai ke-5 untuk mengembalikan buku yang telah kau pinjam,"


"Baik guru**," katanya sambil membungkuk hormat.


Kemudian ia melangkah keluar dari tempat tersebut dan menuju kelantai ke-5 perpustakaan.


"Jika kau sudah mengembalikan buku tersebut, kembalilah untuk segera beristirahat dikediaman milikmu," kata Li An Zu kepada Chen Sui.


Chen Sui menganggukan kepalanya dan segera berpamitan kepada gurunya tersebut dan langsung kembali kekediamannya yang berada dilingkungan A tepat dihadapan kediaman Feng May.


Keesokan harinya Feng May mulai membuka matanya dan mengerjap-ngerjap beberapa kali sampai kemudian ia bangkit dan berjalan keluar dari tempat tersebut.


Ia mendapati gurunya tengah memandang kearahnya dengan tersenyum. Ia pun membalas senyuman gurunya.


"**Pergilah keperpustakaan lantai ke-5 untuk mengembalikan buku tersebut,"


"Baik guru**," katanya sambil membungkuk hormat.


"**Kemudian langsung kembalilah kekediaman mu untuk beristirahat,"


"Ya guru**,"

__ADS_1


Setelah Feng May mengembalikan buku yang dipinjamnya, ia segera kembali kekediamannya untuk langsung merebahkan diri. Saat Feng May berjalan masuk kekediamannya ada sepasang mata yang memperhatikannya sambil tersenyum dibalik jendela kamarnya.


__ADS_2