
Arsen pun hanya menoleh kesal pada Velyn.Karena mencoba untuk menghalangi dirinya memarahi Shane.
"Jangan coba membela dia.!!Disini aku yang punya aturan.Dan kau,kalau memang tidak bisa diatur segera angkat kaki dari rumah ini.!" hardik Arsen pada Shane sambil menunjuk ke arah pintu keluar.
Shane tanpa menjawab langsung pergi begitu saja.Velyn yang mencoba untuk menahan Shane agar tidak pergi,langsung ditahan oleh Arsen.Supaya Velyn tidak menghalangi Shane pergi.
Setelah Shane pergi,Velyn pun menatap kecewa pada Arsen.
"Kenapa harus seperti itu pa??Kasihan Shane,dia tidak punya tempat tujuan kalau papa mengusirnya." ujar Velyn yang tidak terima dengan tindakan Arsen.
"Cukup ma.!!Jangan selalu membela anak yang tidak pernah menghormati kita.Biarkan dia pergi,justru itu akan menyadarkan dia.Jika dia pergi tidak akan ada satu pun yang akan peduli dengannya kecuali keluarganya sendiri.Dia sudah dewasa,dia tahu cara menjaga dirinya." ujar Arsen langsung pergi.
Velyn pun hanya bisa diam dan tak menjawab perkataan Arsen lagi.Ia cuma bisa menelan kecewa atas sikap Arsen yang terlalu keras pada Shane.Bahkan nekat mengusir Shane dari rumah.Membuatnya pun merasa tidak tenang dan mengkhawatirkan keadaan Shane.
Velita yang sejak tadi berdiri hanya memandangi perseteruan Shane dan sang ayah dari kejauhan.Ia seakan tidak ingin ikut campur dengan masalah yang tidak ada akhirnya.
Velita yang meras kasihan pada ibunya,mencoba untuk menghampirinya.
"Sudah ma,jangan terlalu memihak kak Shane.Papa benar,kak Shane itu sudah dewasa dan tahu cara menjaga dirinya Yang terpenting mama sudah berusaha untuk menasehati dia." ujar Velita menenangkan Velyn sang ibu.
__ADS_1
Velyn hanya bisa mengangguk dan menerima nasehat Velita untuknya.
...****************...
Shane mengendarai mobilnya dengan sangat kencang.Ia kembali dirundingkan emosi karena sikap Arsen sang ayah.Bahkan sudah melampaui batas sampai harus mengusirnya.
"Brengsek.!!Kenapa jadi seperti ini.!" umpatnya dengan kesal.
Disaat pikirannya diselimuti dengan emosi.Shane tak menyadari jika ia mulai tidak fokus dalam berkendara.Hingga akhirnya ia pun hampir menabrak sebuah mobil.
Mobil tersebut langsung berhenti dan sang sopir pun langsung turun menghampiri mobil Shane.Sesaat Shane pun memperhatikan sang sopir yang tak asing baginya.
"Bukankah dia si pecundang itu?" ujarnya menebak seseorang itu.
Tok..Tok..
"Keluar kau Brengsek.!!Apa kau sengaja ingin mati bunuh diri.!!" bentak sang pemilik mobil dengan arogannya.
Shane dengan malasnya langsung keluar dari mobilnya.
__ADS_1
"Rupanya itu mobil rongsokan mu." sahut Shane langsung menghina mobil milik seseorang itu yang tidak lain adalah Bram.
Musuh bebuyutannya di kampus.Bram yang dikenal pemuda nakal dan suka membuat onar.Selalu mencari masalah dengan Shane.Karena tidak ingin disaingi oleh Shane yang merasa dirinya lebih jago dan hebat.
Bram pun seketika menatap tajam kearah Shane.
"Sialan kau..!!Beraninya kau menghina mobilku.!!Apa kau ingin cari masalah padaku?" sentak Bram penuh emosi.
Shane langsung menyunggingkan bibirnya ke atas.
"Cih..Aku tidak ada waktu meladeni manusia sampah seperti mu.Lebih baik kau enyah saja dari hadapan ku daripada kau akan berakhir di rumah sakit." tukas Shane memberi peringatan pada Bram.
Bukannya takut,Bram pun membalasnya dengan tersenyum miring.Sesaat ia pun kembali mobil dan terlihat sedang berbicara dengan seseorang yang berada didalam mobilnya.
Shane pun hanya memperhatikan Bram dan tetap bersikap tenang.
Tak berapa lama,seseorang pun turun dari mobil Bram.Seorang pria dengan berbadan besar dan bertato seram yang terlihat seluruh tubuhnya.Pria itu berjalan menghampiri Shane sembari membawa sebuah tongkat baseball.
Bram pun berbisik ke arah pria itu sambil menunjuk kearah Shane.Dan memandang Shane dengan tatapan meremehkan.
__ADS_1
"Pecundang tetap lah pecundang..Nyali mu hanya berani pada pria bab* ini??" sindir Shane meremehkan Bram dan pria itu.
Dan tanpa pikir panjang pria itu pun langsung menyerang Shane dengan membabi buta.