
Keesokan harinya..
Karena kondisi Velyn sudah mulai membaik.Akhirnya Velyn pun diperbolehkan untuk pulang.Arsej dengan sigap mendampingi Velyn dan mengantarnya hingga ke rumah.
Sesampainya di rumah,Arsen langsung menggendong tubuh Velyn.Sebelum Velyn akan turun dari mobilnya dan berjalan.
Hal itu jelas membuat Velyn langsung kaget.
"Hei..Tuan,turunkan aku.Aku bisa jalan sendiri.!" hardik Velyn menyuruh Arsen menurun tubuhnya.
Namun,Arsen justru mengabaikan perintah Velyn dan tetap menggendongnya hingga masuk kedalam rumah.
"Tidak mungkin aku membiarkan gadis ku berjalan dengan kondisi yang baru saja pulih." ujar Arsen sembari menurunkan Velyn dan menyandarkan tubuhnya diatas sofa.
Velyn pun hanya menatap datar ke arah Arsen. "Anda terlalu berlebihan tuan." cetus Velyn.
"Terserah apa kata mu.Yang terpenting sebagai lelaki mu,aku wajib melakukan apa pun untuk mu.Termasuk malam ini aku akan menginap dirumah mu." jawab Arsen dengan santainya.
"Apa.!!" seru Velyn yang langsung tersentak kaget.
...****************...
Lewis yang sudah mengetahui Velyn masuk rumah sakit.Dengan cepat ia bergegas ingin menemuinya.Ia baru sempat akan menjenguknya karena sebelumnya ia terlalu sibuk dengan pekerjaan.Tujuan ia ingin menemui Velyn pun hanya untuk meminta maaf atas kelakuan Claudia padanya.
Namun sayangnya,Lewis harus menelan kekecewaan.Karena ternyata Velyn sudah diperbolehkan pulang.Dan ia pun tidak sempat untuk melihat keadaan Velyn.
Ia pun cuma bisa menghela nafas panjang. "Sayang sekali aku tidak bisa melihat kondisinya langsung.Ck.."gerutunya yang masih berdiri tepat didepan kamar,dimana Velyn sebelumnya dirawat.
Dan beberapa saat ia pun teringat akan sesuatu.Lewis segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Halo,tolong kirimkan alamat office girl bernama Velyn.Secepatnya." ujar Lewis memerintahkan seseorang yang berada dikantor.
Setelah menghubungi orang kantor,Lewis pun langsung meninggalkan rumah sakit dan pergi melajukan mobilnya.
...****************...
"Hei..kenapa reaksi mu seperti itu??Tidak perlu kaget marmut kecil." ujar Arsen sambil tersenyum.
"Siapa yang mengijinkan anda boleh menginap di rumah ku?Tidak boleh.!" protes Velyn yang menolak mentah Arsen akan menginap di rumahnya.
__ADS_1
"Dengar ya marmut kecil..Sekarang kita sudah bertunangan.Yang tak lama lagi juga kita akan menikah.Jadi tidak ada salahnya jika calon suami mu ini menginap di rumah bukan?" ujar Arsen masih dengan santainya sambil menatap girang.
"Tapi bukan berarti anda bisa semudah itu memutuskan menginap di rumah ku." celoteh Velyn sambil memasang wajah cemberut.
Arsen pun langsung mengalir ujung bibir Velyn. "Kau tahu,jika kau kau menunjukkan ekspresi seperti ini.Bibir mu terlihat seperti bibir ikan louhan." ejek Arsen dengan gurauannya.
Seketika membuat Velyn semakin menunjukkan wajah cemberut.
"Dasar pria stres." gerutunya dengan pelan.
"Kau bilang apa?" tanya Arsen yang ternyata mendengar gerutuan Velyn.
"Tidak ada.Aku lapar aku mau masak." jawab Velyn bergegas bangkit dan akan berjalan ke dapur.
Namun,Arsen langsung menghalangi Velyn ke dapur dengan tangannya.
"Siapa yang menyuruh mu untuk ke dapur?" tanya Arsen.
Velyn pun mengernyitkan alisnya keatas. "Kemauan ku sendiri karena aku lapar." jawab Velyn sambil mengusap perutnya yang lapar.
Belum menanggapi perkataan Velyn,terdengar suara ketukan pintu dari depan rumah Velyn.
"Sepertinya makanan kita sudah datang." ujar Arsen seraya berjalan ke arah pintu untuk membukanya.
"Ini pesanan anda tuan dan juga pakaian ganti yang anda minta." ujar Jeremy sembari memberikan bingkisan tersebut pada Arsen.
"Oke,kau pulang lah.Datang lagi besok pagi." jawab Arsen langsung menyuruh Jeremy pulang dan menutup pintu rumah Velyn.Tanpa meminta Jeremy untuk duduk dulu.
Jeremy hanya bisa berdiri mematung melihat aneh pada sikap Arsen yang seenaknya menyuruh ia pulang.
"Kenapa nasib ku menyedihkan sekali.Untungnya dia adalah bos ku,jika tidak mungkin aku sudah meracuninya." gerutunya yang tanpa sadar bicara sendiri.Yang selama ini ia tidak pernah berkomentar apa pun tentang Arsen.
Akhirnya Jeremy pun pulang dan tak menganggu masa berduanya Arsen dengan Velyn.
Velyn tampak tercengang saat melihat banyaknya makanan yang telah dibawakan Jeremy untuknya.
"Anda serius memesan makanan ini semua?" tanya Velyn yang seketika kaget melihat banyaknya makanan.
__ADS_1
"Ya,jadi kau tidak perlu masak.Makanan mu sangat tidak enak.Jadi aku berinisiatif memesannya lebih dulu.Sebelum kau berencana akan memasak." jelas Arsen dengan jujurnya.
Membuat Velyn langsung menatap datar.
"Oh,ternyata anda jujur sekali ya?Menilai masakan ku seburuk itu?" sindir Velyn dengan ketus.
"Lebih baik jujur daripada memaksakan diri untuk memakannya.Karena aku tidak suka berbohong,terlebih pada wanita yang kucintai." ungkap Arsen.
Velyn pun seketika terdiam dan tidak menanggapi ucapan Arsen.
"Sudah,jangan banyak bicara.Lebih baik makan saja.Disyukurin apa yang kita makan hari ini." ucap Arsen untuk menyudahi celoteh Velyn dan mengajaknya makan.
Namun,mereka yang baru akan mulai makan.Tiba-tiba terdengar kembali suara ketukan pintu berbunyi.
Arsen pun langsung menoleh kearah pintu.
"Mau apa lagi dia?Apa dia masih belum pulang?" tanya Arsen yang menebak jika Jeremy kembali mengetuk pintu.
"Ya sudah,biar aku saja yang buka pintunya."sahut Velyn seraya bangkit dan akan berjalan ke arah pintu.
"Tidak,kau duduk saja disini.Biar aku saja "jawab Arsen yang melarang Velyn untuk membuka pintunya.
...****************...
Alethea terlihat tidak tenang,memikirkan semua perkataan sang pengacara tentang isi wasiat mendiang orang tuanya.Ia seolah tidak terima jika ternyata ia tidak mendapatkan warisan tersebut lebih banyak dibandingkan Arsen.Ia masih menganggap jika dirinya lah yang harusnya lebih berhak mendapatkannya lebih banyak.
Tidak ingin tinggal diam,Alethea pun berniat ingin menemui Arsen dikediamannya.Walau pun Arsen sudah memutuskan hubungan saudara dengannya dan pastinya akan menolak kedatangannya untuk bertemu.
Namun,Alethea merasa tidak peduli karena tujuan utamanya hanya untuk membereskan warisan mendiang orang tuannya.Ia bertujuan ingin menuntut Arsen untuk menyerahkan seluruh harta kekayaannya untuk dirinya.
Dengan begitu dirinya pun tidak masalah jika Arsen akan memutuskan hubungan darah dengannya.
"Dimana tuan mu?" tanya Alethea saat tiba dikediaman Arsen dan disambut oleh seorang ART.
"Tuan sedang tidak berada dirumah nona." jawab sang Art.
"Kapan dia pulang?" tanya Alethea tanpa nada basa basi.
"Saya tidak tahu nona." jawab sang Art lagi.
__ADS_1
"Dasar Art tidak berguna.!!Kenapa hal itu saja kau tidak tahu.!!Tolol.!" sentak Alethea langsung meluapkan kekesalannya pada sang Art.
Akhirnya Alethea memilih untuk pulang dengan perasaan yang sangat kesal.Karena ia telah gagal untuk bertemu dengan Arsen.