
Beberapa saat,terlihat Shane sudah tak berdaya.Akibat di keroyok dan dipukuli oleh Bram dan temannya.
Melihat Shane tak bisa bangkit lagi akibat sudah terluka parah.Bram dan temannya pun langsung meninggalkan Shane begitu saja.Tanpa peduli dengan keadaannya yang sudah memprihatinkan.
Shane pun berusaha menyadarkan diri dan mencoba untuk bangkit.Namun,akibat pukulan yang begitu kerasa pada tubuhnya,membuat ia sulit menggerakkannya dan seakan tenaganya pun hilang begitu saja.
Sedangkan Bram begitu puas telah membalas Shane.Yang ternyata sudah sejak dulu ia ingin memberi pelajaran keras pada Shane.Yang sudah terlalu sering meremehkan dirinya.
Ketika disaat Shane sudah tak berdaya,tanpa sengaja Zia yang secara kebetulan sedang berjalan sendirian.Begitu kaget melihat seseorang yang belum ia tahu sedang terkapar dan tidak sadarkan diri.
Karena ternyata Shane yang sudah tidak tahan,akhirnya jatuh pingsan.
Zia pun segera menghampirinya dan kembali kaget jika orang yang dilihat ternyata adalah Shane sendiri.
Ia pun mulai bingung,apa yang harus dilakukannya.Haruskah menolong Shane atau justru mengabaikannya.Mengingat sikap arogan Shane yang sudah menghina dirinya.
Namun,karena hati nurani yang yang merasa tidak tega.Akhirnya Zia mencoba untuk membangunkan Shane dan menolong.
"Hei tuan..Apa kau baik-baik saja?" tanya Zia sambil mencoba membangunkan Shane.
Tapi karena kondisinya yang sudah lemah,Shane pun tetap tidak sadar.Membuat Zia semakin bingung dan pada akhirnya membawa Shane ke sebuah klinik terdekat.
Zia cuma mampu membawa Shane ke klinik untuk mengobati lukanya.Karena ia tidak akan memiliki uang banyak untuk membawa Shane ke rumah sakit.Setelah membawanya ke klinik dan diobati.Zia pun membawa Shane pulang ke rumah.Sampai menunggu Shane sadar.
Zevana yang berada dirumah,tampak merasa bingung dengan sosok asing seperti Shane.
"Siapa pria ini?Kenapa kau membawanya ke rumah kita kak?" tanya Zevana penasaran.
"Hanya orang asing.Kakak terpaksa membawanya kesini karena kondisinya masih belum sadar.Lebih baik biarkan saja sampai menunggu dia sadar." jelas Zia meninggalkan Zevana menuju dapur.
__ADS_1
Zevana pun sesaat memperhatikan wajah Shane yang belum pernah ia lihat.Seketika membuatnya langsung terpana melihat ketampanan Shane.
"Wah..Ternyata pria ini tampan juga..Dan melihat pakaiannya,sepertinya dia bukan orang biasa.Bahkan dia memakai jam tangan yang mahal." ujar Zevana yang memperhatikan penampilan Shane.
Zevana pun kembali menemui Zia yang sedang di dapur.
"Kak,apa kau yakin kau tidak kenal pria itu?" tanya Zevana memastikan.
"Sebenarnya dia orang yang sudah menabrak gerobak bakso kakak dan memberikan uang itu.Jadi kakak juga tidak tahu siapa dia.Yang jelas dia adalah pria sombong dan arogan." jelas Zia.
"Tapi dia sangat tampan dan dia pasti orang kaya,'kan?" tebak Zevana dengan semangatnya.
Zia pun menaikkan alisnya keatas dengan heran.
"Maksud kamu?" tanya Zia.
"Biarkan aku mendekati pria itu.Siapa tahu aku bisa memanfaatkan pria itu jika menjadi pacar ku." ujar Zevana dengan rencana liciknya.
"Zeva..Jangan seperti itu,kamu masih sekolah.Lebih baik kamu fokus dulu dengan pendidikan mu.Jangan berpikir untuk menjalin hubungan dengan siapa pun.Terutana dengan pria ini,kamu tidak tahu bagaimana sifat aslinya." ujar Zia menasehati Zevana.
Zevana pun langsung memasang wajah cemberut.
"Memangnya kenapa kalau aku berpacaran dengannya?Ini juga tidak merugikan ku.Justru aku bisa memanfaatkan dia untuk memenuhi kebutuhan hidup ku.Dan kau tidak perlu lagi bersusah payah cari untuk ku." ujar Zevana dengan percaya dirinya.
Zia kembali menarik nafas panjangnya. "Tapi kamu tidak tahu seperti apa sifat orang ini Dia tidak seperti yang kamu bayangkan Zia.Kakak rela mengembalikan uangnya karena sikapnya yang sudah keterlaluan.Jadi jangan pernah berpikir kalau kau bisa menjalin hubungan dengannya." ucap Zia menasehati Zevana dengan panjang lebar
Zevana pun hanya memasang wajah cemberut. "Kau selalu saja begitu,tidak pernah mendukung apa pun yang ku inginkan." gerutu Zevana dengan kesal dan langsung pergi.
Zia pun tak menanggapi perkataan Zevana.Sebab Zia juga ingin yang terbaik untuk Zevana.
__ADS_1
Malamnya..
Shane mulai tersadar dan mencoba untuk membangunkan tubuhnya.Kepalanya pun begitu pusing dan tubuhnya juga yang masih sangat lemah.Akibat pukulan yang diberikan Bram dan temannya.
Sesaat ia memperhatikan situasi yang tidak ia kenal.Ia merasa bingung dengan situasi yang belum pernah ia lihat.
"Dimana ini??" tanya Shane pada diri sendiri.
"Anda di rumah ku tuan." jawab Zia yang langsung datang menghampiri Shane.
Shane pun seketika kaget saat melihat sosok Zia. "Kau??Kenapa aku bisa disini??" tanya Shane.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi pada anda.Aku hanya tahu kalau kondisi anda sudah dalam keadaan terluka dan tidak sadarkan diri.Jadi aku terpaksa membawa anda ke klinik untuk mengobati luka anda.Dan baru aku membawa anda ke rumah ku,sampai menunggu anda sadar." jelas Zia panjang lebar.
Shane pun kembali kaget dan tak mengira jika Zia akan menolong dirinya yang sudah dalam keadaan terluka.
"Karena anda sudah sadar,lebih baik anda makan dulu.Dan ini obat nya,harus segera di minum untuk meredakan rasa sakit anda." ujar Zia sembari menyodorkan sepiring nasi yang lengkap dengan lauk pauk.Dan juga obat yang sudah diberikan oleh dokter klinik.
Zia pun seraya akan pergi meninggalkan Shane sendirian.Membuat Shane langsung menoleh ke arahnya.
"Kau mau kemana?" tanya Shane.
"Ke kamar.Aku akan membiarkan anda makan sendiri." jawab Zia.
"Apa cuma ini yang bisa kau berikan padaku?" tanya Shane sambil melirik kearah makanan yang diberikan Zia.
"Kenapa?Apa anda tidak bisa makan makanan seperti itu?Maaf,cuma itu yang bisa ku sediakan.Kami bukan orang kaya yang akan menghidangkan makanan mewah seperti anda makan." jelas Zia yang sengaja menyindir Shane.Seakan Shane tidak bersyukur jika dia masih mau menyediakan makanan untuknya.
"Tidak apa-apa.Aku akan coba memakannya.Terima kasih karena sudah menolongku." ucap Shane yang tak bisa mengeluh atas makanan yang disediakan Zia untuknya.Sebab ia pun memang merasa lapar dan mau tidak mau ia harus memakannya.
__ADS_1
Tapi,ia masih bingung kenapa Zia masih mau menolong dirinya.Yang seharusnya bisa saja Zia tak peduli dengan keadaannya.
Setelah menghabiskan makanannya,Shane langsung meminum obat yang juga sudah disediakan oleh Zia.Ia begitu puas dengan makanan yang sudah disediakan Zia.Yang ternyata makanan tersebut sangat enak.Dan belum pernah ia sekali pun memakannya.Walau nampak sederhana,tapi siapa yang tahu jika makanannya benar-benar enak.