Gadis Kecil Milik Tuan Presdir

Gadis Kecil Milik Tuan Presdir
Bab 37


__ADS_3

Arsen pun langsung melepaskan tangannya dari bibir Velyn.Sesaat ia pun menoleh ke arah Jeremy sambil melirik ke arah pintu.Yang mengisyaratkan Jeremy untuk keluar dari ruangannya.


Jeremy yang mengerti akan tatapan Arsen,langsung mengangguk dan meninggalkan ruangan Arsen.


Kini Arsen menatap dingin ke arah Velyn.


"Katakan,apakah kau pergi ke rumah sakit untuk menemui bajingan itu?" tanya Arsen mulai menginterogasi Velyn dengan serius.


Velyn pun seketika langsung gugup dengan kepala menunduk.


"Melihat gelagat mu,kau pasti berniat menemui dia bukan?" tanya Arsen lagi.


"I..Iya tuan,maaf." jawab Velyn dengan nada pelan.


"Kenapa kau bisa kesana?kau bahkan pergi tanpa seijin ku." tanya Arsen perlahan berjalan mendekati Velyn.


Velyn pun memundurkan langkah kakinya saat Arsen mulai mendekatinya.


"Ma..Maaf tuan,aku mengaku salah karena sudah melanggar aturan mu." ucap Velyn mengaku bersalah pada Arsen.


Arsen terus berjalan mendekati Velyn hingga ia pun terpojok.Dan membuatnya tidak bisa lagi menghindar,kala Arsen sudah tepat berdiri dihadapannya dengan jarak yang sangat dekat.


Velyn pun tak berkutik dan hanya berdiri memaku.

__ADS_1


"Menurut mu hukuman apa yang bisa kau lakukan?sebuah kesalahan yang sudah kau buat,bukankah harus ada konsekuensi nya?"tanya Arsen yang sengaja menguji Velyn.


Velyn masih memaku dengan perasaan panik dan hanya menggelengkan kepalanya.


Arsen mulai membungkukkan punggungnya dan mendekati wajahnya ke arah Velyn.Sebab Velyn memiliki tubuh yang cukup mungil dan mengharuskan Arsen harus melakukan nya.


"Tu..Tuan mau apa?" tanya Velyn masih tidak berani menatap Arsen.


"Menurut mu apa yang harus ku lakukan padamu,setelah kau melanggar aturan ku?"


"Baik lah tuan,aku akan melakukan apa pun.Ini memang salah ku karena melanggar aturan mu.Aku hanya mengkhawatirkan keadaan kakak ku.Makanya aku terpaksa diam-diam pergi untuk menemuinya." jelas Velyn dengan sejujurnya.


Arsen pun semakin mendekatkan wajahnya ke arah wajah Velyn.Yang jaraknya hanya beberapa senti saja,membuat Velyn semakin takut dan gugup.Bahkan sekujur tubuhnya mulai gemetar merinding,kala ia berpikir jika Arsen akan melakukan sesuatu padanya.


"Kau harus ingat,mulai sekarang kau tidak ku perbolehkan sampai kapan pun untuk menemui bajingan itu.Karena hidup mu sekarang ada ditangan ku.Jika kau berani melanggar aturan ku lagi,kaki mu akan rantai selamanya." ucap nya dengan nada dingin dan menjauhkan dirinya dari Velyn.


Velyn yang tadinya sempat menahan nafas karena rasa takut dan merindingnya.Seketika bernafas lega,saat Arsen menjauh darinya.


"Pegang kedua telinga mu." sahut Arsen sembari berjalan ke arah kursi kerjanya.


"Hah?" seru Velyn yang bingung.


"Tetap berdiri disana sambil memegangi kedua telinga mu.Jangan coba bergerak atau kau akan berdiri disitu semalaman." tukas Arsen yang langsung memberi peringatan pada Velyn sekaligus menghukumnya karena Velyn sudah melanggar aturan.

__ADS_1


Velyn langsung memasang wajah cemberutnya.


Kupikir akan lolos dari hukuman,ternyata dia tidak mau rugi juga. gerutunya dalam hati.


...****************...


Ivana yang tengah menikmati makan malam,tiba-tiba didatangi oleh asisten pribadinya.


"Maaf nona,saya menganggu waktu makan malam anda." ujar sang asisten pribadi.


"Ada apa?" tanya Ivana tanpa menoleh atau melirik ke arah sang asisten.Dan ia tetap menikmati makan malamnya.


"Saya mendengar kabar jika nyonya Tamara telah tewas akibat kecelakaan kemarin nona." ucap sang asisten memberitahukannya pada Ivana.


Ivana pun seketika tersenyum sinis.


"Heuh..Wanita sialan itu memang seharusnya mati.Karena hidupnya memang sama sekali tidak berguna." tukasnya yang justru tidak menunjukkan rasa prihatinnya atas kematian Tamara.


Sang asisten hanya diam dan tak menanggapi perkataan Ivana.


"Segera ambil bisnisnya dan singkirkan orang-orang yang menjadi pengikutnya." ucap Ivana memberi perintah pada sang asisten pribadinya.


"Baik nona." jawab sang asisten mengangguk mengerti.

__ADS_1


__ADS_2