
Alethea menemui seorang pengacara yang tidak lain adalah pengacara keluarganya sendiri.
"Aku ingin kau mengubah ahli waris mendiang orang tua ku menjadi nama ku sepenuhnya." ucap Alethea pada seorang pria yang menjadi pengacara keluarganya.
"Maksud nona,nona ingin menjadi ahli waris utama dan mengeluarkan nama tuan Arsen?" tanya pria itu memastikan kembali.
"Benar,ubah semua wasiat yang mengatasnamakan Arsen menjadi nama ku." ucap Alethea dengan tegas.
"Tapi nona,dalam surat wasiat orang tua nona,sudah tertera jelas jika warisan yang ditinggalkan oleh kedua orang tua nona sudah terbagi dengan tuan Arsen dan nona." kata pria itu memperjelas lagi isi surat wasiat mendiang orang tua Alethea dan Arsen.
"Aku tahu,tapi aku berhak mengubahnya lagi.Terlebih aku adalah kakak tertuanya.Aku yang lebih menentukan apakah Arsen mendapatkannya atau tidak." ucap Alethea dengan penuh yakin dan menatap tajam ke arah sang pengacara.
"Maaf nona,sepertinya tidak bisa.Sebelum tuan Alex meninggal,tuan Alex berpesan pada saya untuk tidak mengubah sedikit pun isi wasiat tersebut.Dalam arti tuan Arsen harus lebih berhak menerima dan bahkan 80% dari harta kekayaan yang dimiliki kedua orang tua nona.Jadi yang sebenarnya berhak menentukan warisan ini terbagi hanya lah tuan Arsen.Sebab tuan Arsen adalah satu-satunya anak laki-laki di keluarga anda nona."jelas pria panjang lebar dan menolak keinginan Alethea.
Sontak membuat Alethea pun meradang.
"Bagaimana bisa isi wasiatnya seperti itu.!!Seharusnya aku lah yang berhak mendapatkan warisan itu sepenuhnya.Aku adalah anak tertuanya,yang berhak menentukannya adalah aku.!" sentak Alethea yang langsung melakukan protes pada pria tersebut.
"Sekali lagi saya minta maaf nona.Isi wasiat ini sudah mutlak dan tidak bisa diubah sedikit pun."ucap sang pengacara yang tetap menolak keputusan Alethea.
Alethea hanya bisa mendengus kesal dan kecewa atas apa yang dikatakan sang pengacara.Ia tak mengira jika mendiang ayahnya lebih memilih Arsen untuk memberikan aset kekayaannya pada Arsen.
Tapi Alethea tak menyadari jika dalam surat warisan mendiang orang tuanya,anak lelaki lah yang sebenarnya lebih berhak menerimanya.Karena sang ayah tahu,jika Alethea sudah menikah akan lebih mengikuti sang suami.Dan hartanya tidak bisa sepenuhnya diatur oleh Alethea.Walaupun ia sebagai kakak tertua.
...****************...
Lewis dan Velyn bersamaan menoleh ke arah seseorang yang tidak lain adalah Claudia sendiri.Yang dengan lancangnya masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dulu.
"Nona Claudia..Berapa kali aku bilang,jika kau masuk ke ruangan ku,kau harus ketuk pintu ini lebih dulu.Dimana tata Krama mu?" tegur Lewis dengan nada yang masih sopan.
"Ah,maaf tuan.Saya pikir tidak ada anda didalam ruangan ini." ujar Claudia yang mengeles.Sambil melirik tajam ke arah Velyn.
Cs sialan..!Sedang apa dia disini?Bahkan tuan Lewis mengobati tangannya. Umpatnya yang kesal dalam hati.
"Apa pun alasan mu,kau tidak dibenarkan asal masuk ke ruangan ku.Mengerti?" tukas Lewis mengingatkan Claudia.
__ADS_1
"Baik tuan kalau saya sudah lancang." jawab Claudia mengangguk menyesal.
"Ada apa kau kesini?" tanya Lewis mengalihkan pembicaraannya.
"Maaf tuan,karena sudah selesai saya permisi." sahut Velyn yang langsung beranjak bangkit dan meninggalkan ruangan Lewis.
Claudia pun masih melirik sinis ke arah Velyn saat Velyn berjalan melaluinya.
Lewis pun tak bisa menahan Velyn untuk lebih lama di ruangannya.Terlebih saat Claudia melihatnya bersama Velyn.Ua khawatir Claudia akan menyebar rumor jelek tentang Velyn.
...****************...
Dikantor Arsen..
"Jeremy,aku ingin kau mencari tahu dimana Velyn saat ini bekerja." sahut Arsen memberi perintah pada Jeremy.
"Saya sudah mengetahuinya tuan." jawab Jeremy.
"Hah?Kenapa hal ini kau tidak memberitahu ku?" tanya Arsen yang kaget dan heran.
Bukankah dia sering memerintahkan ku untuk mengawasi gadisnya?Kenapa dia masih tidak tahu?. batin Jeremy sesaat.
"Maaf tuan,tuan tidak bertanya pada saya."ujar Jeremy.
"Ck..Apakah aku harus bertanya baru kau memberitahu ku?" tanya Arsen protes.
"Maaf tuan..Saat ini nona Velyn bekerja disebuah perusahaan Xphand Corp tuan.Mungkin tuan sering mendengarnya." jelas Jeremy.
"Xphand Corp??Bukankah itu milik keluarga Kendrick??" tanya Arsen memastikan lagi.
"Benar tuan,saat ini perusahaan itu dijalani oleh putra tunggalnya bernama tuan Lewis Kendrick." jelas Jeremy.
"Ah,aku pernah dengar.Segera atur pertemuanku dengan nya.Aku ingin bertemu dengan nya secara langsung.Mungkin ini bisa ku manfaatkan untuk bekerja sama dengannya." ujar Arsen memerintahkan Jeremy.
"Baik tuan." jawab Jeremy langsung mengangguk.
__ADS_1
...****************...
Selesai bekerja,Velyn seperti biasa bersiap-siap.Sebelum akan meninggalkan kantor Velyn lebih dulu ke toilet.Sementara Dea sudah lebih dulu pulang duluan.
Velyn pun kini hanya seorang diri berada didalam toilet.Saat selesai dari toilet,Velyn pun membuka pintu toilet.Tapi sayangnya pintu tersebut justru tidak terbuka.Velyn pun berusaha mencoba untuk membukanya lagi.
Namun,lagi-lagi ia gagal untuk membukanya.Seketika membuat ia panik tidak karuan.
"Hei .Siapa yang sudah mengunci ku?Buka pintunya.!!" teriak Velyn sambil memukul-mukul pintu tersebut.
Karena situasi kantor yang sudah sepi,tak seorang pun yang mendengar teriakan Velyn.
"Tolong..!!Tolong buka pintunya.!!Aku terkunci disini.!!Siapa pun tolong buka pintunya !" teriak Velyn lagi sekeras mungkin.
Tak ingin menyerah,Velyn pun mencoba mendobrak pintu tersebut dengan mendorong tubuhnya ke arah pintu.Namun,tubuhnya seketika lemas karena terlalu kuat mendorong tubuhnya ke pintu tersebut.
Velyn langsung terduduk sambil menarik nafas panjang.
"Kurasa ini pasti ulah wanita itu..Kekanak-kanakan sekali.Ck." gerutunya sambil menebak siapa pelaku yang sudah menguncinya dari dalam toilet.
Kini Velyn tidak bisa berbuat apa pun,selain menunggu seseorang yang akan masuk ke dalam toilet.Dan itu pun harus ia tunggu sampai besok pagi.
Beberapa jam kemudian,Velyn tampak mulai lemas sambil memegangi perutnya.Dengan keadaan yang perut kosong,Velyn lupa jika dirinya tengah memiliki riwayat penyakit lambung.Yang seharusnya ia tidak boleh telat makan.Tadinya ia pikir sepulang kerja ia bisa langsung membeli makan diluar dan akan memakannya di rumah.
Namun,dia tak menyangka jika dirinya harus terkunci dalam toilet akibat ulah Claudia yang menurutnya.
Wajah Velyn mulai tampak pucat dan bahkan berkeringat dingin.Karena menahan rasa sakit diperutnya yang tak tertahankan.Ia bahkan tidak ada tenaga untuk bangkit atau pun bergerak.
"Tolong..Tolong buka pintunya." sahut Velyn kembali meminta tolong tapi dengan suara yang lemah dan pelan.
Merasa tak kuat lagi menahan rasa sakitnya.Pandanganya pun mulai berkunang-kunang dan kesadarannya mulai hilang.Hingga akhirnya ia pun jatuh pingsan.
Dan disaat dirinya sudah jatuh pingsan,terdengar seseorang yang langsung mendobrak pintu toilet dengan cukup keras.
Bruak..
__ADS_1