Gadis Kecil Milik Tuan Presdir

Gadis Kecil Milik Tuan Presdir
Bab 113


__ADS_3

"Jadi aku tetap tidak bisa kembali lagi bekerja di kedai kampus mu." jawab Zia.


"Bukan,maksud mu apakah kita bisa lagi untuk saling bertemu?" tanya Shane.


Sesaat Zia pun memandang Shane dengan keraguan.Sejujurnya ia pun tak mempermasalahkan jika Shane selalu menemuinya.Hanya saja ia berpikir tidak mau pihak dari mana pun yang merasa keberatan dengan dirinya.Yang terlebih dari kalangan yang berbeda dengan Shane.


"Entah lah..Aku sudah sibuk bekerja,aku tidak bisa memastikannya tuan." jawab Zia.


"Tidak masalah,aku mengerti kau sibuk.Asal kau masih mengijinkan untuk bertemu,itu sudah membuat ku senang." ujar Shane.


Zia hanya mengangguk paham. "Anda pulang lah,sudah tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan." ujar Zia menyuruh Shane untuk pulang.


"Oh,tapi sejujurnya aku kesini ada hal lain lagi yang ingin ku katakan padamu."


Zia pun menatap penasaran.


*


*


"Keluarkan aku dari sini..!!Aku tidak bersalah pak..!!" teriak Gretta yang menyuruh sang petugas untuk mengeluarkan dirinya dari lapas.Tapi sang petugas mengabaikan Gretta. Sebab Gretta sudah berulang kali berteriak dan mengatakan hal yang sama.Yang sampai kapan pun sang petugas tidak akan mengeluarkan dirinya dari lapas.


Gretta pun divonis bersalah atas tindakan bully yang dilakukannya pada Zia.Shane yang memiliki bukti visum dari luka yang dialami Zia pada perutnya.Memperkuat bukti tersebut untuk memenjarakan Gretta dengan waktu yang cukup lama.


Orang tua Gretta yang mengetahui ulah Gretta,begitu syok dan tak menyangka Jika anak kesayangan mereka akan bertindak arogan dan kejam pada orang lain.


Orang tua Gretta pun memilih membiarkan Gretta mendekam dalam penjara.Untuk menyadarkan Gretta agar sadar dan bertindak lebih berperasaan pada orang lain.


...****************...


Setibanya dikediaman,Shane langsung mencari keberadaan Velyn sang ibu.


"Ma..Mama..Aku sudah pulang." teriak Shane memanggil sang ibu.


Velyn pun langsung datang dan menghampiri Shane. "Shane kamu sudah pulang." ujar Velyn.


"Iyah ma..Dan sesuai janji ku,aku sudah mengajak Zia ikut bersama ku." ujar Shane memberitahu Velyn.


"Oya??Dimana gadis itu?" tanya Velyn dengan tidak sabar.


"Ada ma..Tunggu." ujar Shane langsung keluar dan mengajak Zia masuk.


Velyn seketika tersenyum lebar dan menyambut kedatangan Zia.Bahkan Velyn langsung memeluk Zia dengan hangat.Layaknya seorang ibu yang memeluk anaknya.


Zia pun membalasnya dan begitu terharu dengan sikap ibu Shane yang ternyata menyambutnya dengan ramah dan hangat.Terlebih dengan statusnya yang berbeda jauh dengannya.Ia takut jika ibu Shane akan berpandangan sebelah mata dengannya.


"Zia..Akhirnya kamu datang lagi..Tante sangat senang bisa bertemu dengan mu lagi." sapa Velyn dengan nada yang ramah.


"Terima kasih Tante..Apa kabar tante?" sapa balik Zia dan bertanya kabar pada Velyn.


"Tante sangat baik..Ayo kita duduk santai disana..Tante ingin mengobrol banyak dengan mu." ujar Velyn langsung merangkul Zia dan mengajaknya ke ruang tengah.


Dan secara bersamaan,Velita sang adik Shane melihat Zia yang asing baginya.Velita pun langsung menghampiri mereka sebelum menuju ke ruang tengah.


"Siapa dia ma?" tanya Velita penasaran.


"Ah,sayang..Kenalkan gadis ini namanya Zia.Dia adalah teman kakak mu." jawab Velyn memperkenalkan Zia pada Velita.


"Dan Zia,ini adalah Velita adik bungsu Shane." ujar Velyn mengenalkan Velita pada Zia.


Zia pun langsung tersenyum dan berniat akan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.

__ADS_1


Namun,Velita justru memandang sinis dan enggan membalas untuk berjabat tangan dengan Zia.Karena melihat penampilan Zia yang tidak sepadan dengannya.


"Gadis kampung mana lagi sih yang dibawa ke rumah sama kak Shane.Ck.." celoteh Velita langsung menyindir Zia dengan kata yang tajam.


Sontak membuat Zia langsung menarik tangannya dan tertunduk malu.Velyn dan Shane langsung menatap kesal pada Velita.


"Velita.!!Jaga mulut mu.!!" sentak Shane menegur Velita sang adik.


"Aku hanya mengatakan apa adanya..Lain kali bawa lah perempuan yang lebih cantik dan berkelas kak.Jangan tampilan seperti art kita.Memalukan.!" jawab Velita dengan nada lantang dan tidak merasa bersalah akan kata-katanya.


Buk..


"Mama.!" seru Velita langsung mengusap lengannya karena kesakitan.Sebab Velyn sang ibu ternyata memukul lengan Velita cukup keras.


"Sebaiknya kamu ke kamar saja.Mama tidak pernah mendidik mu bersikap kurang ajar seperti itu." tegur Velyn pada Velita dan menyuruhnya pergi.


Velita pun langsung mendengus kesal sambil menatap Zia dengan ketus.Ia pun langsung ke kamar dengan perasaan marah.


"Maafkan sikap Velita ya sayang..Tante minta jangan diambil hati.Mungkin dia sedang PMS." ujar Velyn yang mencoba menghibur Zia.


Zia hanya tersenyum sambil mengangguk."Iya Tante." jawab Zia.


Seharian berada dirumah Shane,Zia pun akhirnya berpamitan pulang.


Malam harinya Shane bersama keluarganya makan malam.Dan disela makan malam,Shane sesaat menoleh kearah kedua orang tuannya.


"Ma,pa.Ada sesuatu hal yang ingin ku katakan pada kalian." ujar Shane.


Arsen dan Velyn pun langsung menoleh kearah Shane,begitu juga dengan Velita.


"Sepertinya aku memutuskan untuk menikahi Zia." ungkap Shane secara tiba-tiba.


"Apa serius nak?" tanya Velyn memastikan.


"Iya,aku serius ma.Kalau aku tidak serius untuk apa aku bicarakan ini pada kalian." jawab Shane.


"Lalu dengan cara apa kau akan bertanggung jawab jika kau sudah menikah?Sementara kau masih menempuh pendidikan dan sama sekali belum memiliki pekerjaan.Apa kau pikir menikah itu mudah?Jika tidak memiliki kemapanan." sahut Arsen sang ayah mengingatkan Shane.


"Aku tahu papa pasti akan berkata seperti itu.Makanya aku memutuskan ingin bergabung dan belajar di perusahaan papa.Bagaimana?Apa papa masih bisa memberi ku kesempatan?" jelas Shane.


"Oh..Jadi karena gadis itu kau dengan cepat mengambil keputusan ingin belajar bisnis.Sementara papa seperti mengemis pada mu,karena kau selalu menolak." sindir Arsen pada Shane anaknya.


Shane hanya tersenyum malu.


"Kalau begitu besok kau sudah harus datang ke kantor." ujar Arsen memberitahu Shane.


"Oke pa..Aku mengerti." jawab Shane langsung mengiyakan perintah ayahnya."


"Dan mama sangat mendukung keputusan mu Shane.Terlebih untuk hubungan kalian berdua." sahut Velyn langsung menyetujui keinginan Shane yang akan menikahi Zia.


"Tapi aku menentang hubungan mu kak." sahut Velita dengan nada ketus.


Membuat Shane seketika menoleh datar ke arah Velita.


"Kenapa kau harus menentang hubungan kami?" tanya Shane ingin tahu lebih dulu.


"Karena gadis itu sama sekali tidak pantas untuk mu kak.Status kalian saja sudah beda,kenapa kau harus memilih gadis miskin seperti dia."tukas Velita langsung mengomentari Zia dengan kata-kata yang tajam.


"Velita.!!Berapa kali aku bilang,jaga ucapan mu.!!Kau tidak berhak menilai dia seperti itu.!" sentak Shane langsung menegur Velita dengan nada tinggi.


"Tapi kenyataannya memang begitu.!!Aku Saja merasa malu malu dan jijik melihat gadis miskin itu.!!" pekik Velita membalas Shane dengan nada tinggi.

__ADS_1


"Dan aku tidak butuh penilaian mu.!" hardik Arsen menatap tajam dan berusaha menahan emosinya.


Brak...


"Sudah cukup kalian berdua.!Apa kalian tidak bisa menjaga sikap saat berada di meja makan?!" sentak Arsen menegur tegas pada kedua anaknya.


"Velita,jaga sikap mu.Hormati kakak mu." sahut Velyn langsung menasehati Velita.


Velita hanya melirik ketus pada ibunya.


"Mama terus saja bela dia.!!" pekik Velita tidak terima dengan teguran Velyn.


"Velita.!!Kenapa kau masih saja tidak menjaga sikap mu.!!Dalam hal ini kau tidak usah ikut campur.Fokus pada pendidikan mu.Paham.!" tegur Arsen lagi pada Velita.


Sambil mendengus,Velita pun langsung bangkit dan meninggalkan mereka.Nafsu makannya sudah tidak berselera karena perseteruannya dengan Shane.


Ia benar-benar tidak terima jika Shane sang kakak memilih Zia gadis miskin untuk dinikahi.Sebab ia akan merasa malu dengan teman-temannya jika sang kakak yang selalu dipuji temannya,ternyata memilik selera yang sangat rendah.


"Kenapa dengan sikap anak itu?" tanya Arsen pada Velyn.


"Entah lah pa..Mama juga tidak tahu..Nanti mama akan mencoba untuk menasehatinya." ujar Velyn.


...****************...


Velyn dan Shane berniat akan mengunjungi kediaman Zia.Velyn seakan penasaran dan ingin melihat dimana tempat tinggal Zia.


Zia yang baru saja pulang bekerja,tak mengira jika akan kedatangan tamu yaitu ibu Shane.Zia pun tampak begitu senang dan menyambutnya dengan hangat.


"Silakan duduk Tante,maaf jika keadaan rumah saya seperti ini." ujar Zia merasa sedikit malu.Karena kondisi rumahnya yang berbeda jauh dengan kediaman Shane.


"Jangan berkata seperti itu nak.Kami datang bukan untuk melihat rumah mu.Tapi ada satu hal yang ingin Shane katakan padamu.Dan dia meminta Tante ingin menemaninya." jelas Velyn panjang lebar.


"Tentang apa ya Tante?" tanya Zia Yang sesaat menoleh ke arah Shane dengan penasaran.


Dan dari kejauhan,Velita tampak mengawasi Shane dan ibunya.Velita sengaja mengikuti mereka tanpa sepengetahuan mereka.Sebab ia sempat mendengar jika Shane dan Velyn akan berniat mengunjungi kediaman Zia.


"Mereka benar-benar sudah gila.!Kenapa gadis itu yang harus dipilih.!" gerutu Velita dengan kesal.


Zia seketika kaget dan tercengang,kala Shane mengungkapkan keinginannya untuk melamar dan menikahinya.


"Hah??Me..menikah??" seru Zia yang kaget.


"Iya Zia..Apakah kau bersedia menikah dengan ku?" tanya Shane mengulang kembali kata-kata yang sebelumnya ia ucapkan.


"Ta..Tapi kenapa harus aku??Apakah ini tidak berlebihan?" tanya Zia yang masih tidak percaya.


"Yah,mungkin kamu pikir yang dikatakan Shane berlebihan dan terlalu mendadak.Karena sebenarnya kalian tidak memiliki hubungan layaknya sepasang kekasih,bukan?" ujar Velyn.


Velyn pun langsung mengangguk dan membenarkan perkataan Velyn.


"Tapi,bagi Shane tidak masalah.Justru dengan menikahi mu Shane ingin mengenal mu lebih jauh.Dan Tante sebagai orang tua Shane,sangat mendukung keputusannya.Jadi Tante harap kamu dapat menerima niat baik Shane.Bagaimana Zia?" ujar Velyn menjelaskan lagi panjang lebar.


Zia pun mulai bingung dan tidak tahu harus berkata apa.


"Tante,tuan..Bolehkah aku pikirkan lagi?Karena sepertinya aku butuh waktu untuk memutuskannya." ucap Zia pada Velyn dan Shane.


Sesaat Shane pun memandang Velyn sang ibu.


"Iya tentu saja Zia..Aku tidak memaksa mu harus menjawab sekarang.Tapi ku harap kamu dapat memberikan jawaban sesuai harapan ku.Karena aku benar-benar dengan niat yang tulus." ucap Shane dengan serius pada Zia.


Zia pun langsung mengangguk paham.

__ADS_1


__ADS_2