Gara-Gara Sampah

Gara-Gara Sampah
Berbohong


__ADS_3

Sesampainya di kamar, Ayu mencari benda pipih dan mengetik nama seseorang di aplikasi hijaunya.


"Ayo, dong Pa. Angkat," gumam Ayu mondar-mandir sambil menggigit kukunya.


"Halo, Nak?" tanya seseorang dari sebrang.


Ayu langsung duduk di pinggir kasur dengan wajah sumbring.


"Assalamualaikum, Pa," salam Ayu terlebih dahulu.


"Waalaikumsalam, ada apa nih anak gadis Papa nelpon?" tanya Angga--papa Ayu.


"Pa, kita ketemuan, yuk! Ayu kangen sama Papa," lirih Ayu dengan wajah sendu.


"Cup-cup-cup, anak gadis Papa kayaknya rindu berat, nih. Mau tinggal sama Papa aja kamu?" tanya Angga.


"Emangnya boleh Pa? Nanti, kalo Kakak marah gimana?"


"Kakak?" tanya Angga menaikkan alisnya.


"Iya, Pa. Mama gak mau kalo Ayu manggil dengan sebutan itu, hehe. Mama mau Ayu manggil dia dengan sebutan Kakak aja," jelas Ayu tertawa getir.


Angga yang mendengar penuturan anaknya itu hanya bisa mengusap kasar wajahnya. Hak asuh anak memang jatuh ke tangan Diva seutuhnya.


Namun, bukan berarti Ayu tak berhak untuk tinggal dengan Angga, bukan? Bagaimana pun Angga tetap ayah kandungnya.


"Maafin Papa, ya, Nak. Seharusnya Papa bisa bawa kamu dari rumah itu, tapi Papa takut kalo kamu malah disakiti nantinya oleh Kakak kamu itu."


"Iya Pa, gak papa kok."


"Oh, iya, jadinya kita akan ketemu di mana?" tanya Angga mengalihkan pembicaraan.


"Mmm ... di mall aja deh Pa," saran Ayu.


"Oke, nanti kamu share lock aja. Papa akan langsung siap-siap ke sana."


"Emangnya, Papa gak sibuk, ya?" tanya Ayu hati-hati. Karena, ini masih waktu kerja.


"Untuk anak kesayangan Papa, jangankan waktu. Nyawa aja akan Papa beri," kata Angga.


Ayu tertegun mendengar ucapan Angga, tanpa dirinya sadari air mata lolos begitu saja dari pelupuk matanya.

__ADS_1


Bahkan, suara cairan yang keluar dari hidung pun sampai terdengar ke sebrang, "Sayang, kamu kenapa nangis?" tanya Angga yang panik.


"Gak papa Pa, Ayu cuma berharap bukan hanya Papa yang sayang sama Ayu tapi Kakak juga," pinta Ayu mengusap air mata.


"Aamiin, kamu doa sama Allah supaya Allah lembutkan hati Kakak biar bisa nerima kamu, ya."


"Iya, Pa. Yaudah kalau gitu, Ayu mau siap-siap dulu, ya. Sampai ketemu di mall Pa. Assalamualaikum," salam Ayu dan mematikan handphone.


Ia langsung mengirimkan alamat mall yang biasanya ia kunjungi, jadi nanti tak perlu membawa handphone.


Selesai mengirim alamat, handphone kembali di charger dan Ayu memilih masuk ke dalam kamar mandi untuk berganti pakaian.


Setelah kejadian bahwa Diva ketahuan hamil dengan Angga, memang mereka langsung dinikahkan.


Akan tetapi, tetap saja Diva tak menerima Angga untuk tinggal sekamar. Jangankan sekamar, Angga saja tak diberi izin tinggal di rumah orang tua Diva.


Setelah lahir Ayu ke dunia, Diva langsung melayangkan gugatan perceraian. Angga tak masalah.


Dirinya meminta Ayu agar diserahkan kepadanya. Namun, Diva malah meminta pengadilan agar memberikan hak asuh anak jatuh kepadanya seutuhnya.


Angga belum memutuskan untuk menikah lagi setelah dirinya menyandang status duda belasan tahun lalu.


Ia fokus pada karir hingga akhirnya mendapatkan jabatan sebagai direktur di tempat kerjanya dulu. Angga yang dulunya hanya tinggal di apartemen.


Rumah yang penuh dengan asisten juga penjaga, Ayu pernah dibawa ke kediamannya. Namun, tetap saja tak pernah merasakan tidur di rumah itu.


Di bagian depan, ada kolam ikan juga ayunan dan bunga-bunga yang tertata rapi. Itu pinta Ayu, dia bilang bahwa kawasan itu miliknya dan hanya dia yang boleh membersihkan.


Angga pun tak lepas tangan soal nafkah, biaya sekolah dari TK dia ikut andil di dalamnya. Bahkan, sering kali niat baiknya itu ditolak oleh Diva.


Mau tak mau, Angga terkadang langsung berurusan dengan administrasi sekolah untuk membayar uang sekolah Ayu.


Bahkan, urusan ingin masuk ke universitas Ayu serahkan ke Angga. Diva tak tahu soal Ayu lanjut kuliah, dirinya tak pernah bertanya soal itu.


Ayu sudah selesai dengan pakaiannya, baju kemeja lengan panjang juga celana panjang warna abu-abu muda.


Tak lupa kerudung senada dengan celananya dan tas ransel, sepatu putih dan dirinya telah siap untuk bertemu dengan cinta pertamanya itu.


'Aku izin ke Bik Tati atau enggak, ya? Nanti, kalo gak izin malah dia yang dimarahi sama Kakak,' batin Ayu berjalan menuruni anak tangga dengan mengendap-ngendap.


"Neng, mau ke mana?" tanya Bik Tati yang membuat tubuh Ayu menegang. Saat pandangannya menuju dapur ternyata Tati berada di ruang tamu.

__ADS_1


"Eh, Bibi," jawab Ayu cengengesan dan berjalan dengan cepat ke arah Bik Tati.


"Neng mau ke mana? Kok udah rapi? Tadi katanya mau makan siang," tanya Bik Tati bertubi-tubi sambil menatap penampilan Ayu dari atas ke bawah.


Ayu menggaruk kepalanya dengan cengengesan, "Ini Bik, tiba-tiba Ningsih ngajak ketemuan. Ada sesuatu yang mau dibicarakan," ujar Ayu berbohong.


"Lah 'kan baru ketemu Neng, Neng Ningsih juga ikut mendaki 'kan?" tanya Bik Tati curiga.


"Iya, Bik. Tapi 'kan besok kita mau daftar ke dua kali. Nah, mau bahas soal kuliah dan jurusan nih," ucap Ayu dengan postur tubuh yang dibuat semeyakinkan mungkin.


"Bener?" tanya Bik Tati menaikkan alis.


"Iya, Bik Tati."


"Yaudah kalau gitu, jangan lama-lama, ya, Neng. Tau sendiri kalo Kakak ada di rumah, Neng Ayu dicariin mulu. Nanti, kalo Neng gak ada saya yang dimarahin!" tegur Bik Tati.


"Iya, Bik. Bentar, kok."


"Yaudah, hati-hati."


"Iya, Bik. Assalamualaikum," salam Ayu berlari ke pintu utama.


Beruntungnya, sopir keluarga lagi pergi bersama Diva. Ayu mencari ojek yang ada di pangkalan tak jauh dari kompleks rumah mereka.


"Pak, ke mall dekat sini, ya," perintah Ayu dan duduk di jok belakang.


"Siap Neng Ayu!" ujar tukang gojek menyerahkan helm. Hampir semua tukang gojek tahu nama Ayu, karena dirinya pun terkadang sekolah naik gojek jika Diva sedang ingin cepat ke kantor.


Sesekali, Ayu melihat ke arah belakang. Takut kalau tiba-tiba ada yang mengikuti dirinya, meskipun selama ini tak pernah ia ketahuan jika sedang ketemuan dengan Angga.


"Ini Pak, ongkosnya," potong seseorang memberikan uang satu lembar berwarna biru sedangkan Ayu tengah membelakangi orang itu karena membuka helm.


"Papa," ucap Ayu tersenyum sambil menyerahkan helm.


"Uang pas aja gak ada Pak?" tanya tukang gojek melihat saku kemejanya.


"Buat Bapak aja, terima kasih, ya," ujar Angga.


"Eh, kebalik Pak. Saya yang seharusnya bilang terima kasih. Terima kasih, ya, Pak."


Angga tersenyum sembari mengangguk, "Sama-sama."

__ADS_1


Ayu memberikan helm ke tukang gojek kembali, "Makasih, Pak!"


"Sama-sama Neng."


__ADS_2