Gara-Gara Sampah

Gara-Gara Sampah
Undangan Pernikahan


__ADS_3

Suara dering menggema di kamar Ayu, dia segera meraih handphone yang berada di nakas. Matanya bebinar kala melihat nama siapa yang tertampil di benda pipihnya tersebut.


"Assalamualaikum, halo Kak Kiki!" seru Ayu dengan senyum merekah meskipun pasti tak akan diketahui oleh Kiki.


Ayu memilih duduk di pinggir tempat tidurnya.


"Waalaikumsalam, Ayu. Kamu apa kabar?" tanya Kiki di sebrang.


"Alhamdulillah, baik Kak. Ada apa, nih?" tanya Ayu yang sudah tak ingin lagi basa-basi.


"Besok pas pulang dari kampus, kamu ada kegiatan, gak?" tanya Kiki.


"Enggak, sih, Kak. Emangnya ada apa?"


"Kita ketemu, ya. Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan ke kamu juga Ningsih."


"Lah, Kakak udah pulang ke Indonesia emangnya?"


"Udah, kok. Udah ada seminggu."


"Ck! Udah seminggu, baru ini ngabari aku!"


"Haha, ya, maaf. Lagian, aku juga gak mau terlalu ganggu kamu 'kan kuliah jadi harus fokus ke kuliah kamu."


"Ya, bukan berarti gak bisa ngobrol sama temen lama gitu lho, Kak!" ketus Ayu memajukan mulutnya, cemberut.


"Iya-iya, udah gak usah cemberut. Besok pulang kalian dari kampus, kita ngobrol."


"Oke, Kak. Di mana?"


"Nanti saya sharlock."


"Oke!"


"Yaudah, maaf mengganggu malam kamu. Saya matikan dulu, ya. Selamat malam dan assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Tut ...!


Panggilan diakhiri, Ayu meletakkan kembali handphone-nya di nakas dengan senyum yang tak lekang.


Dibuangnya napas kasar dengan sekali tarikan, berdiri dan kembali ke meja makan karena dirinya tengah makan malam tadinya dengan Angga.


"Ternyata aku gak salah nunggu dan gak ungkapin perasaan aku ke kamu Yu, kamu tetap menganggap aku sebagai seorang teman dan tak lebih," lirih Kiki tersenyum getir.


Tak ada persahabatan yang benar-benar murni persahabatan atau pertemanan di antara wanita dan laki-laki!


Pasti di antara salah satunya ada yang memendam perasaan, entah itu pihak wanita atau laki-lakinya.


Itulah hendaknya, jika dirimu sudah punya pasangan. Maka, jangan pernah berteman dekat dengan lawan jenis.


Karena pada akhirnya, kalau kau tak selingkuh dari pasanganmu ke temanmu itu. Maka, kau akan membandingkan pasanganmu itu dengan temanmu.


"Siapa yang nelpon?" tanya Angga sambil mengunyah makanan.

__ADS_1


"Kak Kiki, Pa."


"Udah pulang dia?"


Ayu mengangguk dengan sendok yang berisi makanan masuk ke mulutnya, "Udah seminggu, tapi baru ini ngasih tau."


"Dia sibuk kayaknya."


"Bukan Pa, dia yang ngira kalo Ayu dan Ningsih sibuk. Mangkanya dia gak mau ngasih tau ke kita."


Angga mengangguk menanggapi ucapan Ayu, "Eh, dia ngomong apa?"


"Ngajak ketemuan, Pa. Kan, udah lama gak ketemu. Sama Ningsih, kok."


"Jangan pulang lama-lama."


"Iya, Pa. Oh, iya, Pa. Bulan depan akan ada perkemahan gitu dari kampus untuk perayaan semester akhir yang akan menghadapi skripsi. Papa ngasih izin, Ayu?" tanya Ayu dengan mata yang berbinar menatap Angga.


"Ck! Kau curang, Sayang! Kenapa meminta izin dengan wajah memelas seperti itu?"


"Hahaha, biar gampang dapat izin-nya Pa. Lagian, Ayu juga udah lama banget gak kemah Pa. Udah bertahun-tahun, lho."


"Iya, boleh kok," ujar Angga tersenyum.


"Yes! Makasih, Pa!" seru Ayu bahagia.


"Eitss ... tapi ada satu syaratnya!"


"Syarat?" tanya Ayu menautkan alis dan membuat Angga mengangguk, "apa Pa?"


"Siap, Pak!"


***


Ayu dan Ningsih tengah berada di kampus, lebih tepatnya di bawah pohon yang rindang. Mereka menunggu satu kelas lagi setelah itu akan pergi bersama-sama menemui Kiki.


"Kak Kiki sekarang gimana, ya? Apa tambah cakep kali, ya?" tanya Ningsih tersenyum dan menatap langit seolah membayangkan Kiki.


"Hadeuh, yang pasti dia masih laki-laki, sih," potong Ayu cepat yang tengah asyik menunduk karena membaca novel.


"Ck! Kalo itu, gue juga tau kali!" ketus Ningsih menatap ke arah Ayu dengan kesal.


Dirinya memalingkan wajah menghadap ke depan, "Eh, itu si Akhtar kok gak ke sini, ya?" tanya Ningsih menyenggol tubuh Ayu.


"Buat apa juga di ke sini?" tanya Ayu menatap wajah Ningsih.


"Dih, kemarin dia deketin lu. Sekarang malah jauhi lu? Aneh banget tuh orang, niat mencintai apa cuma ngebaperi?" tanya Ningsih memasang wajah marahnya.


Ayu menatap ke arah yang di tatap Ningsih juga, di sebrang sana ada Akhtar juga teman-temannya yang terlihat tengah bercengkrama.


Ia memilih fokus kembali ke novel kala melihat leher Akhtar akan berputar ke arah dirinya yang.


"Kalian lagi ada masalah, ya?" selidik Ningsih.


"Masalah apa, sih? Lagian, ya, gue sama dia juga bukan siapa-siapa. Cuma orang yang gak sengaja kenal di gunung waktu itu 'kan? Gak lebih, jadi ngapain kita harus dekat?" tanya Ayu sembari menutup bukunya.

__ADS_1


"Udah, ah. Aku mau ke kelas aja, 10 menit lagi akan di mulai kelasnya," sambung Ayu menatap arlojinya dan mengayunkan kakinya ke arah kelas yang dituju.


"Lah, gak ada hubungan ternyata? Kok pada saling cemburu sih satu sama lain? Aneh ...." Ningsih akhirnya pergi juga dari bawah pohon dengan menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Selesai sudah kelas hari ini, beruntung Ayu memberi tahu kepada Ningsih tentang pertemuan hari ini sebelum ke kampus.


Jadi, Ningsih sempat membawa dua helm. Ya, Ningsih memang menaiki sepeda motor untuk kuliah.


"Kamu yakin bisa, nih?" tanya Ayu yang belum pernah di bonceng Ningsih sebelumnya.


"Ck! Udah naik, ribut banget lu kayak Mak-mak rempong!"


"Dih, sabar kali!" ketus Ayu dan naik ke jok belakang kala helm telah terpasang di kepalanya.


Kiki memilih restoran yang memang tak terlalu jauh dari kampus Ayu, tak perlu waktu yang lama. Mereka berdua sudah sampai di restoran.


"Mana Kak Kikinya?" tanya Ningsih menyipitkan matanya melihat satu per satu orang yang ada di dalam restoran.


Ayu pun mengedarkan pandangannya, tangan seseorang terangkat ke atas, "Itu!" tunjuk Ayu tersenyum.


Mereka berjalan dengan cepat ke arah meja Kiki, Kiki yang tengah duduk langsung berdiri menyambut kedatangan Ayu dan Ningsih.


"Udah lama, Kak? Maaf, ya," ucap Ayu dan duduk.


"Enggak, kok."


Mereka akhirnya duduk dengan Kiki sendirian menghadap ke arah Ayu dan Ningsih.


"Eh, iya, kalian mau makan apa? Bentar, ya!" Kiki mengangkat tangannya, memanggil pelayan.


"Aku, nasi goreng seafood sama jus jeruk aja, ya."


"Sama-in aja Mbak," potong Ningsih dengan cepat mengikuti makanan Ayu.


"Yaudah, nasi goreng seafood-nya dua dan jus jeruknya dua, ya, Mbak," kata Kiki mengulang pesanan Ayu dan Ningsih. Dirinya sudah memesan duluan bahkan makanannya belum habis.


Gelora tawa terdengar di meja mereka, sembari menunggu pesanan datang. Mereka saling melempar pertanyaan satu dengan yang lain.


"Eh, bentar. Saya ada kejutan buat kalian," ucap Kiki mengambil sesuatu dari jasnya.


Ningsih dan Ayu saling memandang, hingga akhirnya kembali menatap Kiki dengan wajah penasaran.


"Jangan lupa datang, ya!" Kiki tersenyum dan menyerahkan dua lembar surat undangan ke hadapan Ayu juga Ningsih.


Mereka berdua kaget, Ayu bahkan mengerjapkan matanya tak percaya.


"Maksudnya apa, Kak?" tanya Ningsih menatap Kiki.


"Minggu depan saya akan menikah, masih sempat dong kalian buat datang ke nikahan saya sebelum akhirnya kemah," jelas Kiki tersenyum mencoba ikhlas.


Ayu menggigit bibir bawahnya beberapa saat dan tangannya terulur untuk membuka surat undangan.


Bibirnya membaca nama yang bersanding dengan Kiki, "Pasti cantik, ya, Kak?" tanya Ayu tersenyum dan meletakkan kembali surat undangan setelah membaca keseluruhan.


"Ya, sangat cantik. Tapi, saya milih dia bukan karena kecantikannya. Akan tetapi, karena keyakinan dia untuk mau menerima saya."

__ADS_1


"Selamat, ya," lirih Ayu masih mencoba tetap tersenyum.


__ADS_2