
Mau tak mau, Ayu hanya menurut. Ia tak bisa malarang Angga untuk tak mengantarkan dirinya, di dalam mobil dirinya hanya bisa menenangkan diri.
Tepat tengah dua siang, mereka sudah sampai di depan gerbang rumah orang tua Diva. Mobil tidak dimasukkan.
"Pak, bukain!" pinta Ayu.
Penjaga gerbang langsung membukakan pintu, "Neng Ayu pulang sama siapa?" tanya penjaga gerbang menatap ke arah orang yang ada di samping Ayu.
"Papa Ayu," jelas Ayu tersenyum menatap sekilas ke arah Angga.
Penjaga gerbang yang tak tahu tentang Angga terlihat kaget, "M-maaf, Pak. Saya tidak tau," tuturnya menunduk.
"Haha, tidak perlu takut Pak. Saya bukan pacar atau suami dari Diva, tenang saja."
Tak ingin tahu lebih dalam dan kepo, penjaga gerbang langsung membukakan pintu untuk Ayu dan Angga masuk ke dalam.
Ayu memencet bel rumah, "Sebentar," teriak Bik Tati dan membuka pintu rumah.
"Udah Pa, Papa pulang aja sekarang," ucap Ayu menatap Angga saat pintu sudah dibuka oleh Bik Tati.
"Maaf, Neng Ayu. Neng Ayu gak boleh masuk, Non Diva udah pulang," terang Bik Tati menunduk.
"Kakak udah pulang Bik?" tanya Ayu kaget. Bik Tati hanya mengangguk membenarkan.
"Siapa Bik?" tanya suara yang tak asing di telinga mereka. Bik Tati melebarkan pintu hingga terlihatlah siapa yang berada di luar.
Diva berjalan dengan bersedekap dada ke arah ambang pintu.
Prok ...!
Prok ...!
"Wah-wah, anak sama Ayah sekarang kompakan, ya? Dua manusia penghancur masa depan orang lain tengah kumpul?" tanya Diva sampai di ambang pintu.
Ayu hanya mampu menundukkan pandangannya, ia tak berani jika harus menatap wajah Diva yang sekarang pasti tengah marah besar.
__ADS_1
"Jaga ucapan kamu, ya!" bentak Angga dengan rahang mengeras.
"Kenapa? Gak terima saya mengungkapkan fakta?" tanya Diva tersenyum miring.
Angga mencoba menahan amarahnya, ia melirik ke arah Ayu dan melihat air mata yang terjatuh ke keramik lantai.
"Ayo kita pergi!" ajak Angga mengenggam pergelangan tangan Ayu.
"Berani kamu bawa dia, akan aku buat dia tak dapat melihat kamu lagi!" ancam Diva.
"Oh, ya? Apakah kau pikir aku takut akan ancamanmu itu?" tanya Angga menaikkan aslinya.
"Wah ... orang miskin sekarang berlagak sombong, ya? Dan apakah kau kira kau dapat memenuhi kebutuhan anak haram itu?"
"Dia bukan anak haram!" bentak Angga dengan tangan terkepal menunjukkan urat-uratnya.
"Oh, iya. Bukan anak haram, tapi anak tanpa adanya Bapak. Jika kau kira kau adalah Papanya, bahkan ketika dia nikah nanti kau tetap tak bisa menjadi walinya. Miris, bukan?"
"Terserah, aku tak peduli akan hal itu!"
"Ayo, Sayang. Kau tinggal dengan Papa lebih dulu, setelah wanita gila ini pergi baru Papa akan membawamu kembali ke sini atau kalau perlu kau tak usah kembali lagi," sambung Angga.
"Ayu! Jangan pernah berpikir untuk hidup tenang, jika hadirmu mampu membuat masalah bagi hidupku. Maka, hadirku juga akan membuat masalah bagi hidupmu," gumam Diva menatap punggung kedua orang yang telah keluar dari pagar rumah yang menjulang tinggi ke atas.
Di dalam mobil, Ayu menumpahkan air matanya sejadi-jadinya. Ia tak dapat lagi membendung akan hal itu.
"A-ayu juga gak mau hadir di dunia ini Pa, Ayu juga gak mau jadi anak kalian! A-ayu capek kalo harus dicaci mulu sebagai anak haram padahal Ayu bukan anak haram yang haram itu perbuatan kalian. Kenapa, Kakak malah nyalahin dan caci Ayu terus menerus dengan kata itu?" lirih Ayu dengan mata penuh air mata juga hidung memerah.
Mobil yang tadinya berjalan segera Angga hentikan di pinggir jalan, ia tak tega dan teriris rasanya ketika mendengar keluhan Ayu yang dirinya simpan selama ini.
Angga langsung membawa Ayu ke dalam dekapannya, ia memeluk tubuh yang bergetar hebat itu.
"A-ayu benci Kakak, Pa hiks ... hiks ... Ayu-ayu capek Pa ... hiks ...."
Tak dapat berkata apa pun seolah rasa sakit yang Ayu simpan selama ini ikut dirasakan Angga seketika.
__ADS_1
Ia hanya bisa mengecup pucuk kepala anaknya, "Jangan benci sama Kakak, Sayang. Bagaimana pun juga dia yang melahirkan kamu ke dunia ini," kata Angga menasehati.
"Dia juga gak minat dan niat ingin melahirkan Ayu ke dunia ini Pa, waktu Ayu di dalam kandungan dia. Berapa banyak Ayu ingin dia bunuh, Pa? Banyak, Pa! Dia gak mau ada Ayu, Ayu pun sebenarnya gak mau ada di dunia ini!" geram Ayu melepas pelukan dan menatap ke arah Angga.
"Ayu benci sama diri Ayu sendiri! Kenapa gak ma ti aja dulu!" sambung Ayu kembali menangis.
Angga yang tak pernah mendengar keluhan Ayu seperti ini menatap iba ke arah anaknya, ia menggelengkan kepala dan memeluk Ayu kembali.
"Sutt ... hei-hei! Kenapa sama kamu, Sayang? Kenapa malah bicara begitu? Apa Kakak selama ini selalu menyakitimu? Kenapa selalu bilang okay di sana dan fine? Seharusnya kamu jujur sama Papa, Sayang," lirih Angga mencium pucuk kepala anaknya beberapa kali.
Ayu tak menjawab, saat ini hanya tangisan yang ingin dia lihatkan ke Angga bahwa dirinya tak sebahagia itu.
Dia ingin lihatkan kepada dunia bahwa dia lemah, dia capek hidup di dekat Diva. Namun, lagi-lagi wanita itu tak mungkin melepaskannya begitu saja.
Merasa tangisan Ayu sedikit mereda, Angga melepaskan pelukan dan melihat wajah anaknya. Tangannya terulur menghapus jejak air mata.
"Tenang, ya, Sayang. Jika kau bingung bertahan hidup di dunia ini untuk siapa, bertahanlah hidup untuk Papa. Papa akan sangat membutuhkan kamu, Sayang," ungkap Angga menatap manik mata Ayu yang warnanya sama dengan dirinya.
Ayu menganggukkan kepalanya perlahan, "Baiklah, jadilah anak Papa yang membanggakan," kata Angga mengusap kepala Ayu dan kembali menghidupkan mobil.
'Aku tak tau apa yang kau lakukan pada anakku selama ini, tapi apa pun itu kau akan menyesal karena telah membuat anakku terluka sedalam ini,' batin Angga dengan rahang yang mengeras.
***
"Assalamualaikum Mama," salam Leon yang sudah sampai di rumah mereka.
"Waalaikumsalam, Sayang. Kok gak bawa apa-apa? Katanya mau beli mainan dan jajan tadi," ucap Caca melihat ke arah tangan Leon dan Akhtar yang kosong.
"Ma, Leon udah boleh pacalan?" tanya Leon mendongak.
Caca menatap kaget dengan pertanyaan Leon, dia mengerutkan kening dan menatap tajam ke arah Akhtar.
"Bukan Akhtar yang ngajarin Ma," jelas Akhtar sebelum di tuduh dengan wajah masam.
"Jadi, dia tau dari mana soal pacar-pacaran kalo bukan kamu? Paling dari temen kamu itu 'kan?" tanya Caca dengan marah.
__ADS_1
"Ma boleh tidak?" tanya Leon menarik ujung baju Caca.
"Tidak Singa!" tegas Akhtar menatap ke bawah melihat arah adiknya itu.