Gara-Gara Sampah

Gara-Gara Sampah
Niat


__ADS_3

Sepulang Riki dari kediaman Angga, Ayu memilih duduk dan menatap kosong ke arah lantai. Angga yang melihat hal tersebut kemudian mendekat ke arah putrinya.


"Kenapa, hm?" tanya Angga mengusap pelan bahu Ayu.


"Ayu bukan anak Papa dong artinya, ya," lirih Ayu dengan suara isak tertahan.


"Enggak, kamu tetap anak Papa dong. Sampai kapan pun kamu akan tetap jadi anak Papa, meskipun darah Papa tidak mengalir di tubuh kamu," jawab Angga pelan seraya tersenyum hangat.


"Papa nanti kalo mau nikah, kasih tau Ayu memang, ya. Biar Ayu bisa segera nyari rumah atau kost, gak mungkin Ayu tinggal sama Papa juga keluarga baru Papa nanti padahal Ayu bukan anak kandung Papa."


Angga menarik hidung Ayu, "Kamu ini, ya. Bahasannya tentang nikah mulu, kayak gak ada aja pembahasan yang lain. Sampai kapan pun kamu adalah anak Papa, meskipun kamu bukan anak kandung Papa sudah menyayangi kamu seperti anak kandung Papa sendiri, Nak," jelas Angga.


Ayu menatap Angga dengan mata yang sudah berembun, ia memeluk Angga dan membenamkan wajahnya di dada sang papa.


"Sampai kapan pun, kamu tetap akan jadi anak Papa. Papa akan tetap menyayangi dan melindungi kamu sampai kapan pun, jadi tenanglah, Sayang," kata Angga mengecup pucuk kepala Ayu.


Suara adzan Isya menggema membuat Ayu dan Angga akhirnya memutuskan untuk masuk ke kamar masing-masing.


Ayu juga butuh waktu sendiri untuk bisa menerima apa yang terjadi pada dirinya sebenarnya.


Tentang keadaan yang ternyata berbanding terbalik dengan kenyataan yang dia bayangkan.


Kadang, semesta memang sudah bercanda pada penghuninya. Ada yang sudah sangat bahagia, tapi kebahagiannya direnggut paksa begitu saja.


Semesta tak akan bertanya kau siap atau tidak dijauhkan dengan orang tersebut, tinggal diri sendiri saja yang harus bisa mencoba mengikhlaskan.


Selesai salat, Ayu masih betah duduk di atas sajadah. Dengan menampung tangan serta sesekali menahan isak agar jangan keluar apalagi sampai terdengar oleh Angga.


Setelah menangis dan mencoba menerima serta berdamai dengan keadaan selama 10 menit, Ayu merapikan peralatan salat dan juga buku-buku yang sempat ia tinggalkan di meja belajar.


"Sayang, ayo kita makan malam!" ajak Angga dari luar pintu.


"Iya, Pa. Sebentar!" teriak Ayu yang baru selesai merapikan bukunya di meja.


Ceklek ...!


Pintu terbuka dan memperlihatkan Angga yang tersenyum juga dibalas Ayu pula senyuman laki-laki itu.


Mereka makan dengan tenang dan hanya ada suara sendok yang saling beradu dengan piring terdengar di ruangan itu.

__ADS_1


"Pa, besok Ayu pergi dan pulangnya sendiri aja ya ke kampus. Soalnya Ayu ada tugas dadakan sama Ningsih."


"Yaudah kalau gitu, biar dianter aja. Ningsih juga dianter, bareng-bareng aja."


"Haish, gak gitulah Pa. Kita mau berdua aja, naik transportasi umum."


"Mau berdua aja, atau malah mau pergi sama Akhtar?"


"Ih, kok malah sama Akhtar sih Pa? Orang sama Ningsih juga!" ketus Ayu mencebik bibirnya.


"Haha, iya-iya. Yaudah kalo emang mau pergi sama Ningsih aja, tapi pulangnya gak boleh sampe mau Magrib, ya. Sore sudah harus pulang."


"Sip, Pa!" seru Ayu.


'Aku harus tanya ke Om Riki, aku berasal dari panti mana. Pasti Om Riki tau, aku pengen datang ke panti itu dan bertanya apa benar yang dikatakan Om Riki tadi,' batin Ayu dan menyantap kembali makanannya.


***


Pagi ini, Ayu sudah harus berlari di koridor akibat ada kelas tambahan yang dibuat secara mendadak.


Mau tak mau dia harus berlari dari yang sebelumnya sudah bersiap untuk ke kantin akibat lupa buat sarapan.


Ia segera mengambil handphone dan menelpon Ningsih.


"Ningsih, kamu di mana? Kita ada kelas tambahan ini!"


"Ha? Aku lagi di taman belakang kampus, kamu kenapa gak bilang dari tadi?"


"Eh! Kamu bilang mau ke toilet, kenapa jadi ke belakang kampus segala, sih?" tanya Ayu dengan nada tinggi.


"Ya, mmm ... yaudah, aku ke sana sekarang. Bye ...."


Tut ...!


Panggilan diputuskan sepihak oleh Ningsih, Ayu hanya menggelengkan kepala dan segera masuk ke dalam kelas.


Beruntung, dosennya belum datang tapi hampir semua mahasiswa dan mahasiswi sudah memenuhi bangku dan meja mereka.


Seluruh kelas hari ini telah selesai di jam 2 siang, Ningsih dan Ayu berjalan beriringan di koridor kampus.

__ADS_1


"Kamu pulang naik apa, Ningsih?"


"Naik angkot paling. Kamu? Dijemput lagi?"


"Kamu ... sibuk, gak?"


"Enggak, emangnya kenapa?" tanya Ningsih menatap ke arah Ayu.


Sedangkan yang di tatap melihat ke bawah, 'Kalo aku ajak Ningsih, nanti dia nanya-nanya lagi kenapa aku bertanya ke Om Riki tentang panti asuhan itu.'


'Lagian, si cowok sok itu juga gak ada di rumah 'kan? Dia udah pindah nge-kost juga, jadi aman deh. Gak akan ada yang rempong juga kalo aku pergi sendirian,' batin Ayu dengan mengangguk-anggukan kepalanya.


Ningsih melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Ayu, hingga ketika wanita itu tetap tak menyadari tanpa sengaja ia menabrak cowok yang tengah berhenti di depannya.


Bruk ...!


Ayu menabrak dada bidang laki-laki itu dan syukurnya dirinya atau laki-laki tersebut tak sampai terjatuh.


"Aww ...," ringis Ayu mengusap kepalanya, "itu badan atau besi, sih? Keras banget!"


"Heh!" bentak orang tersebut sambil mendorong kepala Ayu menggunakan jari telunjuk, "itu kepala atau kelapa, sih? Keras banget!"


Ayu menatap orang yang ada di depannya kini dengan meletakkan kedua tangannya di pinggang dan siap memarahi laki-laki di depannya seolah seorang Ibu yang memarahi anaknya.


"Lu jalan gimana, sih? Jangan berhenti di tengah jalan, dong!"


"Heh! Gak jelas banget sih lu jadi cewek, lu liat gue udah berhenti di pinggir! Tapi, lunya aja yang tetap jalan ke sini. Atau jangan-jangan, lu sengaja, ya?" goda orang tersebut dengan senyum menyeringai.


"Dih! Gosah kepedean deh lu, ogah banget gue sengaja nabrak perut buncit lu itu!" ketus Ayu dan berjalan pergi meninggalkan Akhtar.


"Woy! Enak aja tuh mulut lu ngatain perut gue buncit!" teriak Akhtar ke arah Ayu tapi tak ditanggapi.


Akhtar memalingkan pandangannya ke arah Ningsih yang tengah mengulum senyum, "Apa, lu?" tanya Akhtar sengit.


"Ck! Biasa aja kali, kalian aneh, ya. Kadang romantis banget kayak Romeo dan Juliet, kadang musuhan kek Tom and Jerry," cibir Ningsih dan berlari meninggalkan Akhtar yang masih kesal.


Akhtar mengepal tangannya dan membuang napas kasar, "Dasar wanita aneh!" ejek Akhtar dan pergi dari tempatnya berdiri tadi.


Sebenarnya, ia berdiri di koridor jurusan kedokteran memang untuk menunggu dan melihat Ayu.

__ADS_1


Belakangan ini dirinya tak melihat Ayu bahkan di kantin sekali pun, kantin di kampus ini memang cuma satu.


__ADS_2