Gara-Gara Sampah

Gara-Gara Sampah
Kembali ke Persidangan


__ADS_3

"Ayu, kamu mau ke mana Nak?" tanya Angga yang tengah berada di ruang tamu sambil membaca koran.


"Eh, mau ke dapur Pa. Mau buat cake," jelas Ayu menampilkan cengengesan.


"Wah ... anak Papa mau belajar masak, nih, kayaknya!" seru Angga bangkit dari sofa dan berjalan ke arah Ayu.


"Iseng doang Pa, mana tau enak 'kan?" tanya Ayu menaikkan sebelah alisnya.


"Iya-iya, sana deh. Papa mau mandi aja, mana tau setelah mandi udah ada cake juga teh di bangku depan," sindir Angga.


"Oh, ini maksudnya ngode Pa?"


"Haha, enggak kok."


"Hehehe, yaudah. Ntar Ayu buat, ya, Papa sayang."


"Pak ...!" seru Pak penjaga berjalan dengan terengeh-engeh.


Ayu dan Angga yang tadinya tengah senyum seketika mendatarkan wajah saat melihat penjaga rumah datang dengan raut wajah yang seperti itu.


"Ada apa?" tanya Angga menatapnya.


"Pak, di depan ada 3 orang preman atau asisten gitu. Maksa mau masuk, bawa Neng Ayu," jelas Pak penjaga sambil menetralkan napas.


Angga langsung menatap ke arah Ayu, sedangkan Ayu menatap dengan alis berkerut. Meskipun, mereka sudah tahu itu suruhan siapa lagi kalau bukan Diva.


Mereka berjalan ke arah luar pagar, Pak penjaga tak memberi mereka masuk membuat mereka semakin menjadi-jadi.


"Ada apa?" tanya Angga dari dalam pagar. Tak langsung membuka pagar.


"Kami ke sini disuruh untuk membawa Nona Ayu pulang kembali ke rumah Nyonya Diva," jelas bodygurd.


Ayu menggelengkan kepalanya dengan raut wajah ketakutan, jika sudah begini pasti Diva marah besar.


Diva bisa melakukan hal yang lebih parah, bukan hanya sekadar menghina Ayu bahwa anak tersebut anak haram.


"Ayu gak mau Pa," lirih Ayu memegang lengan kekar Angga dengan ketakutan.


Angga menatap wajah Ayu, ia langsung merasa sakit melihat ekspresi anaknya itu. Ia usap tangan Ayu yang ada di lengannya.


"Kalian dengar apa yang dia katakan? Dia gak mau!" tegas Angga.

__ADS_1


"Maaf, tapi ini adalah perintah. Kami memang sudah diperintah Nyonya Diva seperti itu," bantah orang suruh Diva tetap kekeh.


Angga mengambil handphone yang berada di saku celananya, ia mencari nomor rumah Diva.


"Iya, halo?" tanya seseorang.


"Bik Tati?" tanya Angga menebak suara orang yang mengangkat telepon darinya itu.


"Iya, ini siapa, ya?"


"Saya Angga, Bik. Tolong kasikan teleponnya ke Diva," perintah Angga.


"Baik, bentar, ya, Pak."


Handphone langsung di lespeker 'kan Angga agar anak buah Diva bisa mendengar percakapan mereka.


"Apa?" tanya orang di sebrang dengan ketus tanpa basa-basi.


"Saya sudah izin sama Mama kamu untuk Ayu tinggal dengan saya, jadi suruh aja anak buah kamu pulang. Mama kamu juga sudah mengizinkan saya buat mengurus Ayu!"


"Hahaha, dongeng dari mana itu tercipta?" tanya Diva tertawa.


"Kamu dengar apa yang dia bicarakan tadi 'kan? Saya rasa kamu gak budeg, dia bukan anak kecil lagi yang bisa kamu atur semau kamu. Jadi, biarkan dia tinggal dengan saya!" tegas Angga mematikan handphone.


"Kalau kalian masih di sini dan melakukan onar di rumah saya, saya tidak akan segan-segan membawa kasus ini ke jalur hukum! Saya sudah meminta izin pada Mamanya untuk membawa cucunya atau anak kandung saya untuk tinggal bersama saya. Jadi, saya rasa ini tak ada salahnya karena dia masih sah anak kandung saya," sambung Angga menatap dingin ke arah anak buah Diva yang masih diam di hadapan Angga berbatas pagar itu.


Mereka pergi dengan wajah marah, sedangkan Angga berjalan masuk tanpa menunggu mereka jauh dari perkarangan rumahnya.


"Jangan tidur, mereka pasti akan datang lagi!" titah Angga datar dan dibalas anggukan dari Pak penjaga.


Angga berjalan setengah berlari, ia langsung menuju ke kamar Ayu yang kebetulan tak dikunci.


Terlihat, Ayu tengah duduk di kasurnya dan menutup wajahnya menggunakan bantal sedangkan tubuh bergetar hebat.


Angga duduk di samping Ayu secara perlahan.


"Pa, kita urus hak asuh lagi, yuk!" ajak Ayu dengan air mata yang masih terlihat jelas membasahi pipinya.


"Kalo si anak gak bahagia di rumah Mamanya atau Mamanya gak beri kebahagian, maka hak asuh bisa kembali berpihak ke Ayahnya. Ayo, Pa!" sambung Ayu menggoyangkan lengan Angga.


Angga mengangguk, "Iya, Sayang. Kita akan urus besok pas kamu pulang selesai dari kuliah, ya," ucap Angga lembut menenangkan putrinya.

__ADS_1


Mendengar penuturan Angga, Ayu langsung menghapus air matanya dan berhambur ke pelukan Angga.


"Kalo Papa gak ada uang buat ngurus ke pengadilan, Ayu punya uang, kok. Pake uang Ayu aja," jelas Ayu setelah melepaskan pelukan.


Angga berbinar menatap mata anaknya, ia menggelengkan kepalanya dengan air mata yang mengalir. Ia tak percaya dengan ucapan Ayu, seingin inikah dia pindah dari rumah Diva?


Padahal, rumah di kediaman Diva lebih besar dan luas daripada miliknya. Angga menghapus air mata di wajah Ayu.


"Udah, jangan nangis lagi. Nanti, Princess Papa malah jelek, lagi," ejek Angga menoel hidung pesek Ayu.


"Hais ... Papa!" rengek Ayu sebal melihat perlakuan Angga.


"Haha, yaudah. Papa mau mandi dulu, jadi gak nih mau belajar buat cake-nya?" tanya Angga menaikkan alis.


"Jadi, kok!" seru Ayu menghapus air mata di wajahnya lagi.


"Haha, yuk!"


"Oke!"


Mereka keluar dari kamar secara bersamaan, Ayu pergi ke dapur sedangkan Angga ke kamar miliknya.


Di lantai dua sebenarnya tak ada penghuni, karena di lantai dasar sudah ada 3 kamar yang cukup untuk mereka.


Sedangkan Pak penjaga, dia punya pos tersendiri yang cukup untuk tidur. Masalah makan juga minum, biasanya pembantu rumah yang akan langsung mengantarkan ke pos penjaga.


Tak perlu dia yang masuk ke dalam rumah lagi, itu sebabnya lantai dua kosong tanpa penghuni. Sesekali akan dihuni ketika sanak saudara atau teman kantor Angga bermain.


Itu pun sudah pasti di saat Ayu tak ada, tapi jika Ayu ada di rumah maka lantai dua akan kosong dan teman Angga tak berani datang karena Angga tak memberi izin.


Bermodal resep dari situs internet, Ayu mulai melakukan penimbangan bahan yang akan dijadikan cake nantinya.


Ia tampak cekatan dengan celemek di tubuhnya, pembantu yang ada hanya melihat Ayu saja. Sebenarnya, Ayu sudah menyuruh ia untuk beristirahat saja.


Namun, dia menolak karena takut jika sewaktu-waktu Ayu butuh bantuan tapi dirinya tak ada.


"Kenapa gak buka usaha roti aja, Neng? Itung-itung nambah uang jajan dan mana tau berkembang, jadi bisa mengurangi pengangguran di Indonesia," saran pembantu di rumah Angga yang tengah santai duduk sambil memperhatikan Ayu.


Ayu yang tengah fokus pada adonan berhenti sebentar dan menatap ke arah samping tempat pembantunya berada, ia tersenyum mendengar saran tersebut.


"Saran yang bagus, terima kasih Bik," ujar Ayu tersenyum dan kembali fokus ke adonan cake.

__ADS_1


__ADS_2