Gara-Gara Sampah

Gara-Gara Sampah
Tak Diinginkan


__ADS_3

Rumah Ningsih lebih dulu sampai, mereka berhenti tepat di depan rumah tanpa pagar itu.


"Makasih, ya, Kak udah dikasih tumpangan," ujar Ningsih yang berada di luar sedangkan Ayu juga Kiki tak singgah.


"Iya, sama-sama. Maaf, ya, gak bisa mampir," ungkap Kiki.


"Gak papa Kak, lain kali juga boleh, kok," terang Ningsih sambil cengengesan menatap ke arah Ayu.


"Yaudah kalau gitu, kami pulang, ya."


"Iya, Kak. Hati-hati."


Ayu melemparkan senyuman sebelum mobil pergi meninggalkan pekarangan rumah Ningsih. Menuju ke rumahnya, Ayu tak membuka suara sama sekali.


Sekitar 20 menit, akhirnya mobil sampai di rumah Ayu lebih tepatnya rumah milik nenek dan kakeknya.


"Makasih, ya, Kak."


"Iya, sama-sama Ayu. Kamu langsung istirahat, kayaknya capek banget tuh," saran Kiki.


"Hehe, iya Kak. Terima kasih buat sarannya."


Mobil pergi menjauh dengan Ayu yang melambai ke arah mobil hingga mobil tersebut tak nampak lagi.


Punggung yang berisi ransel, Ayu bawa melangkah masuk ke dalam rumah yang bertingkat juga memiliki penjaga.


"Wah ... Neng Ayu udah pulang?" tanya Pak Pur-- penjaga rumah.


"Iya, Pak," ucap Ayu tersenyum, "terima kasih."


Pak Pur hanya membalas dengan senyum, Ayu bukan orang yang hidupnya kesusahan atau sederhana.


Bisa dibilang, dia hidup dengan kecukupan setiap harinya. Namun, meskipun begitu ia tak pernah menunjukkan sikap angkuh atau sombong dengan orang lain.


"Assalamualaikum," salam Ayu dan membuka pintu.


Matanya mengedar, mencari seseorang di setiap ruang. Namun, tak ada siapa-siapa. Dirinya memilih menaiki anak tangga menuju ke kamar.


"Wah, enak banget, ya! Jalan-jalan, habis itu pulang. Kalau uangnya udah habis, ntar tinggal minta uangnya sama Mama dan Papa saya," sindir seseorang.


Deg ...!

__ADS_1


Ayu yang sudah berada di tengah perjalanan menuju kamarnya otomatis terhenti ketika mendengar suara yang tak asing di telinganya.


Dia membalikan badan menatap ke arah suara, dilihatnya orang tersebut sebentar lalu menundukkan pandangan.


"Ma-maaf, M--."


"Eh, apa yang mau kamu bilang?" tanyanya dengan marah dan berjalan cepat ke arah Ayu. Tangannya menjambak rambut yang tertutup kerudung itu.


"Aww ... sakit," ringis Ayu sembari memegang ikatan rambut yang dijambak.


"Sudah gue bilang! Jangan panggil gue Mama! Karena lo, bukan anak gue!" tekan Diva melepaskan jambakan dengan kasar hingga membuat Ayu terduduk di salah satu anak tangga.


Sekuat mungkin Ayu menggigit bibir bawahnya agar tak keluar suara tangisan, ia hanya bisa menunduk.


"Paham gak lo?" tanya Diva menendang kaki Ayu.


"Pa-paham Kak," lirih Ayu menunduk dan tak berani menatap ke arah wanita yang tak pernah berbicara dengan nada lembut padanya.


Diva jongkok dan memegang dagu Ayu dengan keras, "Ingat, ya, lo itu hanya manusia beban dan anak haram! Jadi, jangan pernah berpikir gue akan kasian atau bahagia dan bangga dengan lo! Jangan pernah berpikir hidup lo akan seindah dunia fiksi! Karena semua itu, gak mungkin akan pernah terjadi!" tegas Diva melepas dagu Ayu dengan kasar.


"I-iya, Kak. Ayu tau itu," jawab Ayu dengan terbata-bata seraya menahan agar bulir bening tak turun saat Diva masih ada di depannya.


Diva pergi menuruni anak tangga dan meninggalkan Ayu, Ayu langsung memeluk kakinya membenamkan wajah.


Dia memeluk wanita yang bahunya bergetar hebat, "Sabar, ya, Neng. Ibuk pasti akan sayang sama Neng pada akhirnya, kok," ucap bik Tati mengelus punggung Ayu.


"Kapan Bik? Kapan Mama akan sayang sama Ayu? Ayu juga kalo bisa memilih gak mau dilahirkan dari rahim dia, kok," lirih Ayu menatap ke arah Tati dengan mata yang sudah memerah.


Tati hanya bisa terdiam, ia pun tak tahu harus berkata apa. Ayu tersadar akan ucapannya itu, "Maafin Ayu, Bik. Gak seharusnya Bibi yang Ayu marahin," ucap Ayu tersadar.


Bik Tati tersenyum, "Gak papa, kok," jawabnya sambil menggelengkan kepala.


"Ayu pamit ke atas Bik," ucap Ayu pelan mengusap kedua pipi terlebih dahulu. Dirinya berdiri dengan Bik Tati yang ikut berdiri sambil melihat punggung yang semakin menjauh itu.


"Sabar, ya, Neng. Semoga Gusti Allah melembutkan hati Mama Neng," lirih Bik Tati. Dia memilih kembali ke dapur.


Ayu membuka kamarnya, meletakkan tas di kasur yang tak terlalu besar itu. Bukan dirinya yang memilih, akan tetapi Diva yang menyuruh bahwa dirinya tak boleh pakai fasilitas yang mahal.


Bahkan, di kamar ini tak tersedia AC atau kipas angin. Ayu tak masalah, ia tak marah akan hal itu. Menerima apa pun itu, hanya itulah yang bisa dirinya lakukan.


Mengambil baju di dalam lemari, Ayu memilih membersihkan tubuh lebih dulu. Melangkah ke kamar mandi yang berada di dalam kamar.

__ADS_1


"Hiks ... hiks ... Mama ... aku juga gak mau jadi anakmu Ma!" teriak Ayu di bawah shower. Dirinya sengaja meminta kepada Neneknya untuk membuatkan kamar mandi yang kedap suara.


Memintanya pun bukan ketika ada Diva, melainkan ketika wanita itu pergi ke luar kota entah ada keperluan apa.


"Aku juga gak mau hidup Ma! Aku hiks ... hiks ... aku mau sama Papa, Ma! Kenapa gak Mama kasih izin aku! Aku mau Papa!" teriak Ayu lagi.


Kali ini, pertahannya runtuh. Ia terduduk dengan air yang terus membasahi tubuh yang kini sudah memeluk lututnya.


"Aku mau sama Papa, Ma," lirih Ayu dengan suara yang begitu memilukan.


Sekitar 30 menit dirinya berada di dalam kamar mandi, dirinya terkejut ketika melihat sudah ada Diva di ambang pintu kamar miliknya sambil bersedekap dada.


"Lo ngapain aja di kamar mandi? Bersemedi? Tau, gak? Kalo harga listrik lagi naik? Jangan boros pake air!" bentak Diva.


Ayu langsung menundukkan pandangannya, "I-iya, Kak. Maaf," lirih Ayu.


Setelah itu, Diva keluar begitu saja. Entah apa yang dia mau, Ayu mengambil pengering rambut dan segera mengeringkan rambutnya.


Menyusun barang-barang yang ada di dalam tas, merapikan ke tempatnya kembali. Tas tadi di masukkan Ayu ke tempat kotor, ia akan cuci besok rencananya.


Di dalam rumah, Ayu tetap memakai kerudung karena banyak orang-orang yang dia tak kenali masuk ke dalam rumah begitu saja.


Katanya, sih, teman atau rekan kerja dari Kakek atau Neneknya bahkan kadang teman laki-laki Diva pun masuk ke rumah ini.


Selesai mengeluarkan isi tas, perut Ayu terasa berbunyi. Ia memilih keluar dan menuju dapur.


"Eh, Neng Ayu mau makan siang?" tanya Bik Tati mendapati kehadiran Ayu.


Karena, ini sudah hampir jam tengah dua belas siang. Tentunya, Bik Tati akan sibuk di dapur menyiapkan makanan.


"Bik, Nenek sama Kakek di mana?" tanya Ayu mengedarkan pandangan dari tadi.


"Lagi keluar Neng, nanti malam atau nanti sore baru pulang."


"Kalau Kakak?" tanya Ayu seraya berbisik.


"Tadi keluar, gak tau ke mana," jelas Bik Tati menyusun makanan yang sudah disiapkannya ke meja.


'Yes! Aku ada kesempatan untuk bisa ketemu sama Papa,' batin Ayu dan langsung bangkit dari kursi. Ia berlari menuju ke kamar kembali.


"Lah, Neng. Ini makanannya udah siap, lho?" teriak Bik Tati melihat ke arah Ayu.

__ADS_1


"Nanti aja Bik," jawab Ayu sambil teriak juga menaiki anak tangga.


__ADS_2