Gara-Gara Sampah

Gara-Gara Sampah
Kepo Banget


__ADS_3

Ayu sekarang tengah berada di tamannya, ia mencabuti rumput-rumput liar juga hama-hama yang ada di daun tumbuhannya.


"Neng, Bapak bantu, ya," ucap Pak penjaga. Ayu yang mendengar suara itu langsung mendongak dengan keringat memenuhi wajah juga tangan yang sudah kotor.


"Gak usah, Pak," jawab Ayu mengelap keringat.


"Permisi!" teriak seseorang yang berada di luar pagar. Ayu dan Pak penjaga langsung menoleh ke arah suara.


"Nah, liat noh Pak. Siapa yang datang!" titah Ayu.


Pak penjaga hanya mengangguk dan berjalan ke arah pagar untuk melihat siapa yang datar di sore ini.


"Ada apa Dek?" tanya Pak penjaga melihat dua orang laki-laki yang berada di luar pagar.


"Pak Angganya ada Pak? Saya mau ngasih berkas ini, disuruh sama Ayah saya," jelas orang tersebut.


"Yaudah, kalian masuk dulu nanti saya telepon Pak Angganya." Pak penjaga langsung membukakan pagar sedikit karena mobil mereka biarkan di luar.


Mereka berdua masuk sedangkan Pak penjaga mengambil handphone untuk segera mengabari Angga bahwa ada tamu.


Saat kedua pemuda ini ingin masuk ke dalam rumah Angga, mereka menatap wanita yang tengah jongkok dan fokus membersihkan taman.


"Woy, kek kenal deh tuh cewek!" ucap laki-laki itu menyenggol lengan temannya.


"Mana?" tanya orang tersebut mencari cewek yang dimaksud.


Mereka segera berjalan ke arah wanita itu, "Nah 'kan bener! Si cewek penyelamat!" seru Ahmad dan menunjuk ke arah Ayu.


Ayu yang kaget dengan suara itu langsung menatap ke sumber suara dan berdiri dengan mata membuat.


"Kalian ngapain ke sini?" tanya Ayu menunjuk ke arah Akhtar dan juga Ahmad.


"Lu pembantu? Tapi, gaya lo kek seorang nyonya, ya?" cibir Akhtar melirik ke arah rumah milik Angga lalu ke wajah Ayu.


Ayu mengerutkan keningnya, "Jadi, kalo gue pembantu emangnya kenapa? Rasa gue jadi pembantu lebih berkelas daripada jadi anak yang taunya minta sama orang tua doang!" tegas Ayu menatap Akhtar.


"Ck! Siapa yang lo bilang cuma minta sama orang tua doang?" tanya Akhtar dengan tersenyum miring.


"Orang Akhtar kadang minta sama Kakek dan Neneknya juga, kok," gumam Ahmad memalingkan wajah dan di dengar jelas oleh Ayu juga Akhtar.


"Haha, iya, sih gak minta sama orang tua tapi minta sama Nenek dan Kakek."


"Dih, belagu beut sih lo jadi pembantu!"

__ADS_1


"Biarin! Emangnya masalah buat lo?" tanya Ayu tak mau kalah.


"Ayu, ada apa ini Nak?" tanya Angga yang tiba-tiba datang di tengah perdebatan mereka.


"Nak?" tanya Akhtar dan Ahmad serempak melihat ke arah Angga.


"Iya, itu anak Om. Kalian kenal sama dia?" tanya Angga tersenyum ramah.


Ahmad dan Akhtar menatap kembali ke arah Ayu yang sudah tersenyum kemenangan, setidaknya kali ini dia bisa membuat kedua orang itu bungkam.


"Denger, ya! Biasakan jangan menghina seseorang apa pun profesinya dan jangan biasain melihat penampilan seseorang itu. Karena, pakaian bukan memcerminkan orang tersebut tetapi akhlak dan cara berpikirnya yang memcerminkan bagaimana orang tersebut!"


Ayu pergi begitu saja dari hadapan mereka ke dalam rumah, untungnya taman mini miliknya itu telah selesai ia bersihkan.


Angga menatap kepergian anak gadisnya dan berpaling melihat ke arah kedua pemuda ini, "Kalian kenal sama anak saya?" tanya Angga.


"Eh, hehe. Sempat ketemu di gunung tadi Om. Kita juga satu pesawat tadi pagi," jelas Ahmad.


"Oh, yaudah yuk masuk dulu!" ajak Angga dan berjalan lebih dulu masuk ke dalam rumah.


Ahmad dan Akhtar hanya mengekor di belakang, "Dek, kalo lama mobilnya masukkan aja!" teriak Pak penjaga membuat langkah mereka berhenti.


Akhtar langsung melemparkan kunci mobilnya dan beruntung Pak penjaga bisa menangkapnya dengan tepat.


Ahmad menatap rumah dua tingkat ini, "Kayaknya cuma dia doang anak Om Angga deh, iya 'kan?" tanya Ahmad berbisik kepada Akhtar.


Akhtar hanya menampilkan wajah datarnya, ia merasa sedikit bersalah atas ucapannya tadi ke Ayu.


Suara pintu terbuka tak jauh dari ruang keluarga, Ahmad melihat ke arah suara dan terlihat Ayu yang keluar dari dalamnya.


"Woy, cantik beut tuh orang!" gumam Ahmad membuat Akhtar melihat ke arah belakang.


"Ape liat-liat?" tanya Ayu dengan galak saat menyadari bahwa Ahmad dan Akhtar melihat ke arahnya.


Mereka langsung mengalihkan pandangan saat aktivitas yang tengah dilakukan diketahui.


Ayu berjalan ke arah dapur dan tak menghiraukan Ahmad juga Akhtar yang berada di ruang tamu miliknya.


"Ayu mau makan?" tanya Angga yang berpapasan dengan Ayu.


"Iya, Pa. Habis ini juga mau shalat Ashar, udah waktunya nih. Kalo mereka belum pulang, ajak aja Pa buat shalat bareng. Mereka islam, kok," saran Ayu dan diangguki oleh Angga.


Angga membawa nampan yang berisi tiga minuman berwarna juga ada es batu di dalamnya tak lupa cake yang kemarin sempat ia beli pun dibawa ke hadapan Akhtar dan Ahmad.

__ADS_1


"Gak perlu repot-repot Om," ucap Akhtar yang tak enak.


"Gak repot, kok. Santai aja. Jadi, siapa tadi yang mau ngasih berkas ke saya?" tanya Angga tersenyum ramah ke arah Akhtar juga Ahmad.


"Eh, ini Om. Dari Ayah saya," timpal Ahmad menyerahkan map berwarna cokelat dari Ayahnya.


Angga yang duduk di sebelah mereka langsung mengambil map tersebut, "Terima kasih," ujar Angga.


"Gak mau dibuka dulu, Om?" tanya Ahmad.


"Buat apa?"


"Ya, mana tau berkasnya salah atau apa kek di film-film."


"Haha, kamu lucu, ya. Tak perlu, saya kenal dekat sama Papamu dia gak akan mungkin salah atau lainnya."


Ahmad tersenyum dan mengangguk mendapat jawaban seperti itu dari Angga.


"Eh, silahkan di minum," ujar Angga meminum lebih dulu.


Akhtar dan Ahmad akhirnya ikut juga minum milik mereka, "Ini, siapa kamu? Abang kamu? Dan kamu, namanya siapa?"


"Nama saya Ahmad Om dan ini temen saya bukan Abang saya namanya Akhtar," jelas Ahmad memperkenalkan diri.


Akhtar tersenyum ke arah Angga seolah tengah memperkenalkan dirinya.


"Kalian kuliah?"


"Iya, Om. Udah semester 4."


"Wah, sebentar lagi akan lulus dong? Anak Om baru aja akan masuk kuliah," papar Angga tanpa ditanya soal anaknya.


"Oh, iya Om. Anak Om itu udah punya pacar?" tanya Ahmad berbisik.


"Setau Om belum, cuma dia dekat sama Kiki. Pemandu dia dalam perkemahan itu," jawab Angga jujur tanpa dirinya tahu bahwa kedua orang di depannya ini sangat kepo dengan kehidupan anaknya.


"Om bolehin dia pacaran?" tanya Ahmad lagi yang masih kepo.


"Enggak, tapi kalo punya someone spesial yang bisa jaga dia sih kayaknya gak papa. Lagian, Kiki juga anaknya baik. Apa kalian kenal Kiki juga?"


"Emm ... kenal Om, kita ketemu sama dia juga di gunung."


"Kepo banget sama kehidupan orang!" timpal seseorang yang membuat ketiga pemuda tengah berbisik ini langsung melihat ke arah sumber suara.

__ADS_1


__ADS_2