Gara-Gara Sampah

Gara-Gara Sampah
Bunga Dapat, Jodoh Datang


__ADS_3

Setelah sesi foto bersama dengan pengantin juga orang yang menolong Ayu tadi, mereka kini tengah menikmati hidangan yang disediakan.


"Kami boleh gabung?" tanya orang tersebut.


Ayu mendongak melihat ke arah suara dan mengedarkan pandangannya, memang sudah tak ada lagi meja yang kosong karena memang lumayan sedikit digunakan di pesta Kiki ini.


"Boleh, dong! Lagian ini masih kosong, sini-sini!" ajak Ningsih menepuk-nepuk bangku yang berbalut kainnya tersebut.


"Makasih," ucap Ayu sambil fokus menatap makanannya.


"Untuk?" tanya orang tersebut sambil menatap Ayu.


"Ya, lu udah nolongin gue Akhtar!" ketus Ayu manatap sebal ke arah Akhtar.


Akhtar hanya mengangguk dan ber 'oh' ria, mereka hanya fokus ke makanan dan sesekali terdengar candaan dari teman-teman Akhtar ke Ningsih.


"Tar, lu kok bisa datang ke sini?" tanya Ningsih menatap Ayu.


"Emangnya gak boleh, ya?"


"Bukan gak boleh, ih! Lu 'kan gak kenal sama Kak Kiki."


"Kan pernah ketemu dan kenalan waktu itu."


"Ohh ... langsung temenan?"


"Hmm ... bisa dibilang seperti itu," ucap Akhtar kembali menikmati makanannya.


Ayu hanya mendengar tanpa berniat menimpal, memang setelah kejadian di gerbang sekolah waktu itu.


Akhtar sudah tak menggangu dirinya lagi bahkan membiarkan Ayu ke mana saja bahkan sama siapa saja termasuk Haykal.


"Baiklah, kepada para pemuda-pemudi diharap berdiri karena sebentar lagi akan ada acara lempar bunga!" seru MC yang memberi tahukan acara berikutnya.


"Yeee ... semoga gue dapet tuh bunga!" ujar Ningsih semangat dengan memasukkan nasi ke dalam mulutnya agar segera habis.


"Biar apa?" tanya Ayu yang memang tak tahu.


Dirinya memang sangat jarang ke acara pernikahan, bahkan pernikahan teman-teman SMA saja dirinya tak pernah datang.


Hanya kado yang dipaketkan saja, tapi dirinya sama sekali tak pernah tahu rangkaian acara pernikahan itu seperti apa.


Kalau pun pergi ke pernikahan, biasanya akan malam dan sama Angga. Karena, hanya di waktu itu Angga yang bisa pergi ke mana saja.


"Ya, ampun Ayu. Lu gak tau?" tanya Ningsih kaget.

__ADS_1


"Biasa aja kali! Tuh nasi pada keluar dari mulut, lu!" ketus Ahmad menatap Ningsih.


"Lu tuh yang biasa aja, gosah ngegas kali!" ucap Ningsih tak ingin kalah.


"Jadi, gini, ya, Ayu. Siapa yang berhasil mendapatkan bunga dari lemparan pengantin biasanya dipercaya akan menyusul si pengantin untuk menikah juga dalam kurun waktu dekat," jelas Ningsih.


Tradisi pelemparan bunga saat perayaan pernikahan merupakan tradisi asal Inggris yang telah dimulai sebelum tahun 1800.


"Emangnya lu udah punya calonnya?" tanya Ayu menaikkan satu alisnya menatap polos ke arah Ningsih.


"Ya, masalah jodoh mah gampang! Mana tau pas dapet tuh bunga jodoh gue langsung nongol!" ucap Ningsih dengan meneguk air es yang diambilnya tadi.


Ayu hanya menggelengkan kepala dan sedikit menjauhkan piring juga gelas kosong dari hadapannya.


"Pada mau rujak, gak?" tanya Bambang menatap wajah mereka satu per satu.


"Mau!" seru Ayu dan Ningsih serempak. Ayu dan Ningsih saling pandang hingga akhirnya mereka tertawa karena tingkah mereka.


"Oke-oke, bentar, ya. Mau yang pedes atau yang manis?" tanya Bambang. Karena, memang biasanya kuah rujak akan dibagi menjadi dua macam.


Ada yang manis, juga pedas karena tak semua orang sanggup untuk menahan pedas.


"Gue pedes, ya!" ucap Ningsih.


"Aku j---"


"Dih, apaan, sih? Orang gue mau pedes juga!"


"Pedesnya habis, lu mau atau tidak? Kalo gak mau yang manis, yaudah! Gak usah makan rujak!" ketus Akhtar menatap wajah Ayu yang cemberut.


"Ck! Yaudah, Ayu sendiri yang manis, ya. Oke, sebentar, Guys!" Bambang langsung mengayunkan kakinya ke arah hidangan pencuci mulut.


Ayu bersedekap dada dan membuang pandangannya, Akhtar menyenderkan tubuhnya dan melihat ekspresi Ayu dari samping.


"Ehem! Kok, hawanya di meja ini jadi dingin, ya?" celetuk Ningsih sambil memegang tengkuknya dan menatap ke arah Ahmad dan Bayu.


"Nanti kita beli jaket, lu kedinginan tuh kayaknya!" timpal Ayu menatap ke arah Ningsih.


"Hahaha, bukan perlu jeket gue mah."


"Jadi, apa?" tanya Ayu kaget.


"Pelukan kekasih halal," bisik Ningsih yang masih bisa di dengar semua yang berada di meja mereka.


Plak ...!

__ADS_1


Satu pukulan dihadiahi Ayu di lengan Ningsih, "Kuliah baru berapa tahun, udah mikirin itu aja kamu!" ketus Ayu.


"Ya, gak papa dong? Kan, boleh tuh nikah sambil kuliah 'kan?" tanya Ningsih mencari pembelaan dengan menatap ke arah Bayu juga Ahmad.


Acara yang ditunggu-tunggu akhirnya akan di mulai, sedikit lama karena pihak mempelai baru menyiapkan kado untuk orang yang nantinya dapat bunga tersebut.


Ningsih, Bambang, Ahmad, Bayu dan beberapa wanita yang mungkin sepupu istri Kiki atau teman-teman mereka juga ikut berdiri di dekat pelaminan.


Sedangkan Ayu dan Akhtar? Mereka hanya duduk di meja yang memang langsung berhadapan dengan pelaminan.


Akan tetapi, jarak mereka lumayan jauh. Saat Ningsih mengajak Ayu untuk ikut bersama, Ayu dengan santai menjawab ....


"Gue belum mau nikah, jadi lebih baik lu aja. Ntar, kalo gue yang dapat malah datang lagi tuh jodoh!"


Ningsih langsung mencebik mendengar kepedean dari diri Ayu, padahal orang yang ingin berebut mendapatkan bunga itu bukan satu atau dua orang.


Mungkin, ada sekitar 20-an orang yang kini tengah berdiri dengan perasaan yang tak karuan. Antara sedang dan bahagia apakah akan dapat atau tidak.


Ayu larut dengan gadjet miliknya, kaki yang ditumpukan di kaki yang sebelahnya. Sedangkan Akhtar yang memang berada di samping Ayu dari tadi hanya menatap wajah fokus wanita itu.


Sesekali, dia akan mengalihkan pandagan saat manik Ayu menatap ke arahnya.


"Oke ... untuk yang mendapatkan bunga ini jika ada pasangannya maka akan diberi kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya saat ini juga!"


"Dan jika yang tidak punya pasangan, kami doakan semoga segera menyusul mempelai hari ini," ujar MC dengan senyum mereka.


Kiki dan istrinya sudah membalikkan tubuh mereka dari hadapan orang-orang yang berteriak tak sabar.


"Oke, dalam hitungan ke-3. Pengantin akan mulai melemparkan bunga, ya!"


"Satu ... dua ... t ... tiga!"


Bunga di lempar dan banyak dari mereka yang berjinjit agar bisa meraih bunga juga ada yang mundur tanpa melihat orang di belakangnya terlebih dahulu.


"Awas!" teriak Akhtar saat ternyata bunga pengantin tersebut mengarah ke kepala Ayu.


Ayu yang tak melihat sontak kaget mendengar teriakan Akhtar dan langsung menutup matanya juga memegang pergelangan tangan laki-laki itu.


"Wah ... wah, bunga pengantin kita di dapatkan oleh kedua pasangan mager di belakang! Begitulah yang namanya takdir para hadirin sekalian, mau kita udah berjuang kalau memang bukan saatnya kita dapat maka tidak akan pernah dapat! Sebaliknya, mau kita lagi duduk doang kalo emang sudah takdirnya pasti akan dapat," jelas MC tersenyum sumbringah dengan Kiki pun sama.


Ayu langsung membuka matanya saat MC mengucapkan bahwa bunga pengantinlah yang tadi hendak mengenai kepala Ayu.


Jarak Ayu dan Akhtar sekarang begitu dekat, Ayu menatap setiap inc wajah laki-laki di depannya ini juga Akhtar pun melakukan hal yang sama.


"Ehem! Mas dan Mbak, silahkan maju ke depan dong!" celetuk MC yang membuat keduanya tersadar.

__ADS_1


Ayu dengan cepat melepaskan tangan Akhtar dan Akhtar kembali menjauhkan tubuhnya dari Ayu dengan tangan yang memegang bunga pengantin berwarna putih itu.


__ADS_2