
Angga keluar dari kamar Ayu menuju ruang dapur, "Bik," panggil Angga.
"Iya, ada apa Pak?"
"Nanti siapkan makanan buat putri saya kalau dia sudah bangun, jangan kasih siapa pun masuk ke rumah ini tanpa izin dari saya juga jangan beri putri saya makan-makanan ringan," jelas Angga.
"Baik, Pak," jawab pembantu di rumah Angga dengan mengangguk.
Angga pergi dari ruangan itu menuju meja kerjanya, ia mengambil cuti hari ini karena ingin menghabiskan waktu bersama Ayu.
Berjalan gontai menuju meja kerja, membuka salah satu laci yang ada di meja tersebut. Angga melihat Ayu kecil di dalam foto tersebut.
Pernikahan dirinya dengan Diva hanya disaksikan oleh orang tua Diva dan di KUA, setelah sah menjadi seorang suami.
Diva terus mencaci-maki Angga bahkan wanita itu tidak memberi izin Angga tinggal dengannya, Angga yang merasa bahwa harga dirinya di injak-injak.
Memilih untuk keluar dari rumah itu setelah menikah, ia meminta orang tua Diva untuk menjaga anak di dalam rahim Diva.
Angga juga berpesan agar selalu dikabari setiap kali Diva pergi untuk periksa kandungan, saat Angga tahu bahwa Diva pernah ingin aborsi.
Dirinya begitu marah dengan wanita itu, Angga berucap bahwa jangan bunuh anaknya, biarkan anaknya hidup dan akan dia urus seorang diri.
Saat melakukan hubungan terlarang dengan Diva waktu itu, keadaan Angga sungguh menyedihkan.
Kedua orang tuanya menjadi korban tabrak lari, itu sebabnya ia melampiaskan marahnya pada dunia melalui minuman yang dilarang agama.
Sekarang, Angga tak merasa hidupnya sepi dan suram karena sudah ada Ayu yang selalu menemaninya.
Meskipun setelah lahir Diva malah mengambil Ayu dan tak memberi dirinya izin bertemu putrinya apalagi setelah hakim menetapkan bahwa hak asuh anak jatuh ke tangan Diva.
Tanpa Angga sadari, air matanya terjatuh ke foto Ayu bayi. Ia segera menghapus air matanya dan meletakkan kembali ke dalam laci.
"Ayu, sekarang kau harus dengan Papa. Sudah cukup bersama Kakakmu itu," kata Angga dan mulai membuka laptop untuk menyelesaikan tugasnya.
Meskipun tak kerja, bukan berarti dirinya bisa lepas dari tugas begitu saja.
Ketika jari mulai asyik menari di papan keyboard, suara dering handphone yang berada di sampingnya terdengar.
Angga mengangkat panggilan dari nomor yang tak dikenal, "Halo, selamat sore," sapa Angga.
"Kenapa kamu bawa Ayu, Ga?" tanya seseorang dari sebrang.
"Maaf, ini siapa?" tanya Angga yang tak mengenali suaranya.
__ADS_1
"Ini Mama."
"Oh, apa Mama sudah pulang ke Jakarta?"
"Belum, rencananya seminggu lagi baru pulang," jelas Mama Diva.
"Saya tidak bisa meninggalkan putri saya dengan Kakaknya, lagian saya juga Papa kandungnya. Apa salahnya jika dia tinggal dengan saya hanya beberapa hari?"
"Tapi, bagaimana pun hak asuh ada di tangan Diva."
"Apakah dia pernah mengasuh Ayu? Dia juga sudah dewasa, besok dia akan daftar ulang kuliah. Saya rasa, dia sudah tak terlalu membutuhkan Diva. Bahkan, ketika dia sangat butuh Diva karena asinya dia saja enggan untuk memberi," tegas Angga yang merasa sudah cukup dia diam selama ini.
Mama Diva diam di sebrang sana, Angga tahu bahwa Divalah yang pasti memberi tahu hal ini ke orang tuanya.
Diva sendiri tak akan pernah mau untuk menelpon Angga, jangankan menelpon. Nomor mantan suaminya itu saja dia tak tahu.
"Ayu akan saya bawa ke rumah Anda saat Anda sudah ada di rumah, saya tidak mau membawa pulang anak saya jika wanita itu masih ada di sana. Sudah dulu, saya masih banyak kerjaan. Permisi!" pamit Angga mematikan panggilan secara sepihak.
"Apakah tak ada manusia di sana yang ingin kau caci dan sakiti? Sehingga setan dan iblis pada dirimu semakin menjadi ketika Ayu pergi?" cerca Angga menatap tajam ke arah depan.
"Eug ...!" lenguh dari bibir Ayu. Ia mengerjapkan mata dan memindai sekeliling kamar.
"Aku di mana?" tanya Ayu duduk bersandar. Ia bangkit menuju jendela kamar dan melihat ke arah halaman.
"Wah, di rumah Papa nih pasti. Tuh, ada taman aku!" seru Ayu bahagia saat melihat taman mini permintaannya.
Ceklek ...!
"Eh, Neng Ayu udah bangun?" tanya Bibik yang menyadari Ayu.
Ayu yang berjalan mengendap-ngendap merasa terperocok oleh Bibik. Ia menampilkan cengengesan ke arah pembantu yang sudah lama dengan Angga.
"Bibik lagi bikin apa?" tanya Ayu berjalan ke arah meja makan.
"Bikin teh sama cemilan," jelas Bibik menyusun di nampan.
"Buat Papa?" tanya Ayu.
"Iya, Neng."
"Papa emang gak kerja?"
"Enggak, tuh Bapak lagi ada di ruang kerjanya."
__ADS_1
"Yaudah, kalau gitu Ayu aja yang nganter Bik. Sekalian mau minta izin ke luar rumah beresin taman," kata Ayu meminta nampan dari tangan Bibik.
"Gak usah Neng," tolak Bibik yang tak enak.
"Udah Bik, gak papa kok," jawab Ayu tersenyum ramah dan mengambil alih nampan ke tangannya.
Ayu berjalan meninggalkan Bibik yang masih menatap ke arahnya.
Tok ...!
Tok ...!
"Masuk!" titah Angga.
Ceklek ...!
"Permisi, Pak," ucap Ayu dengan kepala yang menjumbul lebih dulu.
Angga yang merasa suara kali ini berbeda langsung menatap ke arah Ayu yang sekarang sudah masuk sambil membawa nampan.
"Ya, ampun anak Papa. Kenapa jadi kamu yang bawa minumannya?" tanya Angga menatap ke arah Ayu yang tengah menyusun isi nampan ke meja kerja Angga.
"Gak papa Pa, Ayu yang mau sendiri, kok," jawab Ayu tersenyum, "mmm ... Pa!"
"Iya, Sayang ada apa?" tanya Angga setelah melepaskan bibirnya dari pinggir gelas untuk merasa teh yang dibawa Ayu.
"Ayu izin keluar, ya. Mau bersihin taman," ujar Ayu memberi tahu maksudnya.
"Boleh, atau kalo kamu mau panggil tukang aja, ya? Biar kamu gak perlu capek-capek bersihin tamannya."
"No-no-no," tolak Ayu dengan jari telunjuk yang bergoyang ke kanan dan kiri, "itu taman Ayu, cuma Ayu yang boleh rawat. Kalo orang lain cukup menatap dan menikmati keindahannya aja."
"Yaudah kalo gitu, tapi nanti biarin Pak penjaga yang ngawasi kamu, ya?" tanya Angga biar Ayu tak merasa di kekang oleh perhatiannya ini.
Ayu tersenyum bahagia dan mengangguk, "Makasih, Pa," ungkap Ayu berhambur ke pelukan Angga.
"Sama-sama, Sayang."
"Kalau gitu, Ayu ke luar dulu. Permisi Pak Angga," kata Ayu seolah tengah jadi pelayan.
"Haha, silahkan Nyonya Ayu," balas Angga.
Setelah kepergian Ayu dengan membawa nampan, Angga langsung memencet telepon yang ada.
__ADS_1
"Ayu akan bersihkan taman, tolong jaga dia dan bantu dia kalau dia kesusahan," perintah Angga dan langsung mematikan panggilan tanpa menunggu jawaban orang dari sebrang.
"Maa Syaa Allah, kalau makanan dan minuman yang bawa anak sholehah emang rasanya lebih nikmat, ya?" Angga kembali menyeruput teh yang tak terlalu panas itu.