Gara-Gara Sampah

Gara-Gara Sampah
Pangalihan Topik


__ADS_3

"Mama sama Papa apaan, sih? Kayak gak ada aja kamar!" marah Akhtar membelakangin kedua orang tuanya.


Pipi Caca memerah kala mengetahui bahwa aksinya itu diketahui oleh Akhtar, mana dirinya lagi yang melakukan duluan.


Riki mengulum senyum saat melihat Caca yang malu akibat ulahnya sendiri, Caca yang melihat sang suami ingin menertawakan dirinya langsung mencubit pinggang Riki.


Akhtar membalikkan badannya kembali, "Lain kali kalo mau mesra-mesraan di kamar, banyak kamar Ma, Pa. Kalo yang liat tadi Leon, gimana? Dia belum bisa melakukan hal begitu ke pasangannya kalo dia pengen juga," omel Akhtar berkacak pinggang.


"Emangnya kalo kamu yang liat, kamu bisa melakukan hal begini?" tanya Riki menaikkan alisnya sebelah.


'Sia lan!' batin Akhtar merutuki dirinya sendiri.


"Eh, mmm ... maksud Akhtar 'kan kalo misalnya Akhtar mau melakukan hal yang sama Akhtar bisa langsung nikah karena umur juga udah dewasa," jawab Akhtar kikuk menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Papa jadi curiga sama kamu, kenapa kamu kekeh banget buat beli mobil juga dikasih kaca pelindung," terka Riki menatap tajam ke arah anak sulungnya.


"Apaan sih, Pa. Gak ada! Kok malah jadi introgasi Akhtar, Akhtar mau ke atas dulu deh!" potong Akhtar cepat dan langsung berjalan setengah berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya.


"Kenapa Mas?" tanya Caca yang sama sekali tak paham dengan apa maksud pembicaraan mereka.


"Mangkanya waktu gadis pacaran dulu, jangan langsung nikah!" sindir Riki mengejek Caca.


"Cih, perbuatan yang tidak benar aja bangga!" hina Caca bangkit dari sofa pergi meninggalkan Riki sendiri.


Bibir yang tersenyum seketika kembali datar seperti awal, "Dih, orang gue cuma becanda. Tuh ibu-ibu baperan amat, dah!" cibir Riki dengan melihat punggung Caca yang sudah masuk ke dalam kamar.


"Orang habis pulang dari luar kota seharusnya disambut gitu, atau seengganya dipeluk sama anak dan istrinya. Lah, ini? Malah ditinggal!" sambung Riki kembali dan berdiri menyusul Caca.


***


Senyuman mentari mulai menyapa, kiauan burung masih bisa terdengar meskipun tinggal di ibu kota. Namun, suara jangkrik sudah pasti tak ada.


Ayu bangun tepat pukul enam, sebelumnya ia sudah bangun untuk mengerjakan kewajiban dan memilih tidur kembali sebentar.


Keluar dari kamar dengan badan yang sudah mandi, keluar rumah untuk menghirup udara yang belum tercampur dengan polusi.

__ADS_1


Sedikit merenggangkan otot-otot melalui pemanasan kecil-kecilan, ia juga tak mau jika terlalu berat dan sampai berkeringan otomatis harus mandi kembali.


"Selamat pagi, Neng!" sapa supir Angga yang tengah mengelap bagian depan mobil.


"Selamat pagi, Pak," jawab Ayu tersenyum ramah.


"Jam berapa nanti ke kampusnya, Neng?"


"Eh, Bapak antar Papa aja. Ayu bisa pergi naik taksi atau gojek, kok," tolak Ayu.


"Emangnya pergi jam berapa?"


"Jam 7-an deh kalo gak salah," ujar Ayu.


"Pas, dong! Papa juga akan pergi ke kantor jam segitu," timpal seseorang yang baru muncul dan berada di samping Ayu.


Ayu yang kaget langsung memegang dadanya dan melihat orang yang baru datang, "Hahaha, maafkan Papa, Sayang. Papa kira kau tak kagetan anaknya," ucap Angga dengan sedikit tertawa.


"His, Papa!" kesal Ayu memajukan bibirnya cemberut.


Ayu mengangguk, "Pak, jangan lupa sarapan!" peringat Ayu ke supirnya.


"Siap, Neng!" balas supir dengan mengangkat jempolnya.


Ayu dan Angga berjalan ke meja makan, sudah ada nasi goreng juga roti panggang yang diolesi dengan selai cokelat kesukaan Ayu.


Susu putih serta teh juga menemani sarapan kali ini, Ayu meminum air putih lebih dulu karena semenjak bangun tidur ia belum meminum air putih.


Setelah melakukan penelitian, menurut Dr. Fereydoon Batmanghelidj, dari St. Mary’s Hospital Medical School of London, air putih hangat di pagi hari sebelum melakukan aktivitas apa pun, punya banyak manfaat sehat. Di antaranya adalah memperlancar pencernaan, membantu membersihkan racun-racun di tubuh, meningkatkan imunitas, dan meningkatkan kemampuan tubuh menyerap nutrisi dari makanan yang kita konsumsi.


Kalo Author biasanya air putih biasa saja, Guys! Gak anget dan dingin banget xixixi. Jadi, buat yang nanya, "Thor, kok tokohnya setiap pagi selalu ada adegan minum air putih dulu, sih?" Karena, itu, ya, Guys! Yuk, sama-sama rajin minum air putih ketika bangun tidur hihihi.


"Sayang, Papa ada sesuatu buat kamu," ucap Angga menatap Ayu yang berada di depannya.


"Apa, Pa?" tanya Ayu dengan mulut yang mengunyah nasi goreng. Btw, nasi goreng dua porsi untuk Angga juga Ayu dan roti buat Ayu juga.

__ADS_1


Angga menyerahkan paper bag kecil ke arah Ayu, Ayu mengambil dan melihat isinya.


"Ini buat Ayu?" tanya Ayu tak percaya. Angga membelikan Ayu handphone keluaran terbaru dengan logo apel yang tergigit sedikit itu.


Angga tersenyum dengan mulut yang mengunyah nasi goreng, Ayu begitu bahagia dan berhambur ke pelukan Angga.


"Terima kasih Pa," ungkap Ayu dan melepaskan pelukan.


"Sama-sama Sayang, hari ini juga Papa akan mengurus kembali hak asuh kamu ke pengacara Papa. Kamu fokus kuliah aja dan handphone yang ada di rumah Kakak biarin aja di situ. Nomor Papa sudah ada di dalam handphone baru kamu itu, ya," jelas Angga dan dibalas dengan anggukan oleh Ayu.


Mereka kembali melanjutkan sarapan, setelah selesai. Ayu kembali ke kamar untuk mengambil beberapa berkas yang mana tahu dibutuhkan untuk pendaftaran ulangnya.


"Sudah siap?" tanya Angga mendapati Ayu yang sudah berdiri di sampingnya.


"Sudah, Pa," jawab Ayu.


Mereka berjalan ke luar secara bersama-sama, Ayu juga sudah membawa handphone yang diberi Angga tadi.


Ia akan meminta nomor Ningsih juga teman lainnya nanti di kampus.


"Pulang nanti kamu bisa sendirian, Sayang? Soalnya, Papa akan ada meeting di luar."


"Bisa dong Pa, ini aja tadi Ayu pengen pergi sendiri. Tapi, Papa malah nyuruh bareng," jawab Ayu menatap Angga yang berada di sampingnya.


"Ya, selagi bisa kenapa enggak?"


"Hehe, iya Pa," potong Ayu cepat sebelum Angga marah nantinya karena merasa bahwa Ayu sudah tak butuh dirinya lagi.


Sekitar 45 menit, mobil sudah sampai di pagar kampus tempat Ayu nanti menempuh pendidikan. Ayu tak lupa menyalim Angga dan keluar dari mobil.


Di depan pagar sudah ada Ningsih yang menunggu kehadiran Ayu, "Ayu! Kamu dari mana aja, sih? Semalam aku telpon, chat gak ada dibalas atau diangkat!" omel Ningsih.


"Haha, kamu ini Ningsih! Masih pagi udah marah-marah aja, masuk ayo! Ntar, malah semakin banyak mahasiswa-mahasiswi yang mau daftar ulangnya," ajak Ayu mengalihkan pembicaraan.


"Ini-nih!" ujar Ningsih menunjuk ke arah Ayu, "kebiasaan kamu yang gak hilang, selalu aja ngalihin topik pembicaraan!"

__ADS_1


"Iya, nanti aku cerita. Kita selesaikan masalah kuliah aja dulu, yuk!" Ayu menggandeng lengan Ningsih agar masuk ke dalam gedung kampus.


__ADS_2