Gara-Gara Sampah

Gara-Gara Sampah
Pertemuan Tak Sengaja


__ADS_3

Hari yang ditunggu pun tiba, kini Ayu tengah duduk di depan laptop menunggu hasil yang dia nantikan.


Berbagai doa dan istighfar tak henti diucapkan, hingga pukul 11 siang waktu di mana pengumuman itu tiba.


Ayu membuka link yang diberikan dari pihak kampus ke email.


"Aaaa ... alhamdulillah!" teriak Ayu dan meloncat-loncat kegirangan saat melihat namanya ada di daftar diterima.


Suara dering handphone langsung terdengar, ia mengambil handphone dan melihat nama Ningsih yang tertera.


"Gimana?" tanya Ayu yang langsung pada intinya.


"Yeee ... aku keterima!"


"Alhamdulillah!"


"Kamu diterima juga 'kan?"


"Iya, Ningsih diterima juga aku!"


"Yes! Akhirnya kita benar-benar bisa kuliah di jurusan itu."


"Oh, iya, kamu udah ada keperluan buat ke kampus besok?"


"Udah, kok, kamu tenang aja."


"Yaudah kalo gitu, sampai jumpa besok."


Pintu dibuka tanpa permisi, Ayu yang masih menggenggam handphone langsung melihat ke arah pintu.


"Ada apa? Kenapa kamu teriak-teriak?" tanya Angga dengan raut wajah cemas.


Ayu yang tak sadar bahwa suara tawanya bisa membuat kaget juga khawatir orang-orang yang berada di dalam rumah.


Ia menggaruk tengkuk yang tak gatal dengan cengiran, "Gak papa kok Pa, ini Ayu cuma bahagia karena keterima di kampus," jelas Ayu.


Bahu Angga langsung merosot ke bawah, dia berpikir ada sesuatu hal yang terjadi pada Ayu sehingga membuat putrinya berteriak tak biasa.


Angga mengusap wajahnya kasar, "Kamu ini, buat Papa khawatir aja. Selamat, ya!" kata Angga masih berada di ambang pintu dengan tersenyum.


Ayu pun membalas senyuman dan mengangguk, "Terima kasih Pa."


"Sama-sama, oh, iya, Papa mau ke luar, ya. Ada pertemuan dengan client Papa."


"Lah, ini 'kan hari minggu Pa. Kenapa tetap ketemu client?" tanya Ayu menaikkan alisnya.

__ADS_1


"Sekalian mau cerita-cerita, karena kebetulan ini teman Papa dulu."


"Oh, yaudah hati-hati, ya, Pa."


"Kamu jangan keluar rumah kalo gak ada yang penting!"


"Siap, Komandan!" tegas Ayu dengan tangan menghormat ke arah Angga.


Angga keluar dari kamar Ayu sedangkan Ayu duduk kembali di bangku dan menatap dengan bahagia namanya yang ada di layar laptop.


Mengambil tas tote bag, memasukkan beberapa buku yang sekiranya diperlukan besok di kampus.


"Kayaknya, aku harus beli buku tentang penyakit atau nama-nama obat deh di toko buku," kata Ayu menatap rak bukunya yang kebanyakan berisi tentang novel-novel romansa juga puisi-puisi.


Dirinya bangkit dan masuk ke kamar mandi dengan membawa baju ganti, keluar dari kamar menemui Bibik terlebih dulu.


"Bik, saya mau ke mall. Pengen beli buku buat belajar nanti, kemungkinan makan siang di luar karena udah siang juga ini."


"Diantar aja, ya, Neng."


"Kan, mobil dibawa Papa, Bik."


"Yaudah, jangan lama-lama, ya, Neng. Kalo ada lagi yang kecelakaan gak usah dibantuin, Bibik lemes liat darah di baju Neng. Sampe bajunya harus dibuang karena Papa juga takut," jelas Bibik.


Ayu tak menyangka bahwa kejadian beberapa hari yang lalu akan membuat dirinya lumayan tersorot.


Padahal, polisi sudah bilang bahwa Ayu tak akan diapa-apakan. Hanya akan diberi apresiasi karena membantu orang.


Namun, Angga melarang Ayu disorot kamera. Jika ingin memberi apresiasi maka pastikan tak ada yang merekam hal itu.


"Iya, Bik. Padahal biar Ayu aja yang cuci, nanti juga hilang darahnya. Sayang, Bik. Masih baru juga itu."


Begitu pulang dari kantor polisi dengan darah yang lengket di baju Ayu, Angga langsung menyuruh Bibik membuang baju tersebut.


Ayu hanya diam saja, dirinya tak bisa membantah ucapan Angga. Bahkan, Angga hampir memecat Pak penjaga karena memberikan Ayu izin keluar.


Beruntungnya, Ayu masih bisa membujuk Angga agar tak memecat Pak penjaga. Jadilah ia diberi hukuman 5 hari tak boleh keluar rumah.


Hari ini, masa hukumannya sudah selesai. Ia keluar dari rumah tak lupa telah memberi tahu Angga terlebih dahulu.


Masuk ke dalam taksi yang telah dipesan tadi, Ayu menatap jalanan di sampingnya mengingat kejadian beberapa waktu lalu.


Tiga puluh menit, Ayu sampai di mall dan langsung masuk ke toko buku. Dengan langkah yang cukup tegap ia memilih rak yang ada buku dicarinya itu.


Mengambil dua buku dan langsung membayarnya, setelah selesai Ayu melihat arloji di tangannya untuk mempertimbangkan apakah harus makan atau ke musala terlebih dahulu.

__ADS_1


Tanpa dirinya ketahui ada atau tidak orang di depannya.


Brukk ...!


Ayu menabrak seseorang di depannya dan membuat paper bag milik Ayu terjatuh, beruntung Ayu tak ikut terjatuh karena tabrakan itu.


"Maaf-maaf, saya gak sengaja," ucap Ayu mengambil paper bag-nya.


Ia langsung mendongak setelah mendapatkan paper bag-nya kembali, sedangkan orang yang ada di depannya menautkan alis membuat Ayu melakukan hal yang serupa.


"Maaf, kenapa, ya Om? Hehe, kok natap saya begitu?" tanya Ayu hati-hati dengan jarak yang semakin dibuat jauh.


Jari laki-laki itu menunjuk wajah Ayu, "Kamu, Ayu?" tanya laki-laki tersebut.


"Hehe, iya, Om. Kok, Om tau nama saya?" tanya Ayu cengengesan.


"Oh, ternyata ini beneran kamu?" tanya orang tersebut tersenyum remeh.


"Emangnya ada apa ya Om? Saya kayaknya gak pernah liat wajah Om, kok Om tau nama saya?"


"Saya Riki."


"Om Riki?" tanya Ayu mengulang nama Riki, "Om Riki siapa, ya? Saya perasaan gak punya saudara namanya begitu, kenapa Om bisa kenal sama saya?"


"Saya Papanya Akhtar."


"Oh, salam kenal Om," sapa Ayu rapah dengan menangkup tangannya di depan dada.


Riki membuang wajah menatap perlakuan Ayu yang menurutnya sok sopan santun tersebut. Dia mendekat ke arah Ayu satu langkah dan sedikit menunduk agar Ayu tak perlu mendongak menatap wajahnya.


"Saya tekankan sama kamu, jangan pernah deket sama keluarga saya! Sama siapa pun itu, mau Akhtar, Leon atau istri saya!" tegas Riki.


"Kenapa Om? Saya emangnya pernah buat salah ke mereka, ya? Atau saya pernah buat salah ke Om?" tanya Ayu yang heran dan tak mengerti.


"Karena ... saya tak sudi anak saya berteman dengan anak yang dihamilkan dari luar pernikahan. Dan saya juga tak mau jika anak saya sampai suka dengan kamu dan harus memiliki mertua seorang wanita murahan!"


Deg ...!


Seketika dada Ayu terasa sesak hingga membuat dia kesulitan untuk bernapas, bulir bening langsung datang beruntungnya tak langsung jatuh.


Napas Ayu tak beraturan menahan amarah atas ucapan Riki di depannya kini, ia mengepal tangan kuat.


"Kau tak perlu marah, karena memang itulah kenyataannya. Jangan kau kira orang tuamu menghilangkan jejak di dunia digital tentang kehidupan mereka membuat aku tak tau akan kehidupan kalian!" Riki menatap mata Ayu dengan tajam.


Ia berdiri tegap dan berjalan ingin meninggalkan Ayu yang masih mematung, dirinya berhenti kembali tepat di samping Ayu.

__ADS_1


"Ingat kata saya! Jangan pernah dekati keluarga saya, jika kamu tetap kekeh maka ada baiknya kamu berkaca. Bagaimana mungkin anak seperti kamu bisa bersatu dengan anak saya," bisik Riki dan pergi meninggalkan Ayu begitu saja.


__ADS_2