
Sampai di persimpangan, lampu merah menghentikan segala kendaraan. Ayu dan juga lainnya sesekali tertawa dan teriak.
Matanya menangkap mobil yang berada di belakang, "Kendaraan lo emang berkelas, sih. Tapi, kenangannya recehan!" ejek Ayu menatap ke arah Akhtar yang kebetulan membuka kaca taksi.
Ayu melambaikan tangannya seraya menjulurkan lidah ke arah laki-laki itu, truk mereka duluan pergi.
"Yu, kamu punya dendam sama dia?" tanya Ningsih yang melihat kegiatan Ayu tadi.
"Enggak, kok. Cuma sebel aja, ternyata masih ada manusia yang gak paham dan gak bisa mengucapkan kata 'terima kasih'," jelas Ayu menatap Ningsih.
"Ya, namanya juga anak kota," kata Ningsih.
"Lah, kita emangnya anak apa?" tanya Ayu menaikkan alisnya sebelah.
"Si Ningsih anak hutan, tuh!" timpal teman yang lain membuat suara tawa menggelegar.
Padahal, semua orang yang ada di truk ini berasal dari Jakarta. Bukankah Jakarta sudah terbilang sebagai kota?
Bahkan, Ibu kota. Dasar emang Ningsih. Terkadang, masih suka lupa dengan tempat di mana dia tinggal.
Beruntung, pagi ini tak terlalu panas. Jika panas, bisa-bisa mereka semua kepanasan karena tak ada penutup di bagian belakang truk.
Sampai ke bandara, Kiki turun lebih dulu sambil membantu turun orang yang ada di atas truk. Satu per satu tas diturunkan dan barang lainnya.
"Jam berapa berangkatnya, Kak?" tanya Ayu yang sudah berada di bawah.
"Bentar lagi," jelas Kiki berjalan ke arah sopir. Ayu hanya menatap aktivitas Kiki yang sepertinya baru saja membayar ongkos.
'Ya, ampun. Kak Kiki dewasa banget, ya, Allah,' batin Ayu tanpa sadar tersenyum menatap Kiki yang tengah tersenyum ke arah sopir.
Tanpa dia ketahui, bahwa aktivitasnya itu tengah diperhatikan oleh seseorang. Ningsih. Dia melihat ke arah yang di tatap Ayu.
Ningsih tersenyum jahil, "Kak Kiki, ada yang melting sambil liatin Kakak, nih!" teriak Ningsih. Ayu yang sadar akan teriakan itu langsung melihat ke arah samping.
Membekap mulut Ningsih dengan membulatkan matanya, "Ihh, kamu apaan sih!" marah Ayu.
Ningsih masih mengoceh dengan mulutnya yang masih di bekap, perlahan Ayu membuka mulut Ningsih.
"Ada apa?" tanya Kiki yang menghampiri mereka.
"Ini Kak, tadi ada yang liatin Kakak," ucap Ningsih membuat Ayu langsung menginjak kaki Ningsih.
"Aww ... sakit!" geram Ningsih sedangkan Ayu yang pura-pura tak tahu menatap kaget ke arah Ningsih.
__ADS_1
"Eh, kenapa? Kaki kamu kenapa Ningsih?" tanya Ayu dengan wajah yang seolah-olah tak tahu.
Ningsih hanya menampilkan wajah kesalnya menatap teman sekaligus sahabat yang ada di depannya kini.
"Yaudah, mending kita langsung masuk aja, yuk!" ajak Ayu mengalihkan perhatian.
Kiki mengangguk, mereka ke dalam bandara dengan Ningsih sesekali mengusap sapatunya padahal yang sakit kakinya.
"Mangkanya, jangan cepu!" bisik Ayu ke telinga Ningsih saat mereka berjalan di belakang Kiki.
"Nyenyenye," cibir Ningsih membuang wajah kesalnya.
'Pen di bumnuh! Tapi, gak punya temen lagi ntar,' batin Ningsih.
Mereka men-cek tiket kembali dan data, setelah selesai nama mereka satu per satu mulai dipanggil untuk masuk karena keberangkatan akan segera dimulai.
Di lain tempat, Akhtar dan teman-temannya berlari dengan cepat keluar dari taksi agar tak ketinggalan pesawat.
"Cepat, woy!" teriak Akhtar.
Mem-cek tiket yang beruntungnya sunyi, setelah merasa semua selesai nama mereka yang dari tadi sudah dipanggil akhirnya kembali berlari agar segera masuk ke pesawat.
"Huh ... hampir aja tadi ketinggalan pesawat!" keluh Akhtar yang sebangku dengan Bambang.
"Gara-gara lo aja sih Tar. Kalo gak naik taksi tadi pasti akan cepat sampe kita," timpal Bambang menyalahkan Akhtar.
Dia meraba-raba sesuatu di saku baju juga celana dengan wajah panik, Bambang yang melihat hal tersebut mengerutkan kening.
"Kenapa lo? Nyari apa?" tanya Bambang menatap Akhtar.
"Handphone gue," terang Akhtar yang berhenti mencari banda pipih itu di sakunya. Dia terdiam mencoba mengingat meletakkan handphone-nya di mana.
"Tadi, lo buat di mana?" tanya Bambang yang ingin mencoba membantu Akhtar mencari handphone-nya.
"Yaelah! Kalo gue tau di mama gue buat, gue langsung ambil kali! Gak dicari segala!" cakap Akhtar dengan nada emosi.
Bambang hanya menampilkan cengiran juga menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Sini handphone lo," pinta Akhtar menadahkan tangan.
Bambang langsung mengambil handphone-nya yang berada di saku celana dan menyerahkan ke Akhtar.
Setelah mengetik sesuatu, Akhtar menempelkan handphone ke telinganya, "Berdering," ucap Akhtar memberi tahu Bambang.
__ADS_1
Bambang langsung menatap serius ke arah Akhtar, "Halo?" ucap Akhtar kala telepon telah tersambung.
"Iya, halo?"
"Pak, ini handphone saya. Maaf, Bapak siapa, ya?"
"Oh, saya taksi tadi. Ini, adek-adek yang tadi pulang dari mendaki, ya?" tanya sopir di sebrang.
"Iya, Pak," jawab Akhtar membuang napas kasar dan mengusap wajahnya.
"Jadi, ini gimana? Bapak antar balik ke bandaran?"
"Gak usah Pak, kami juga udah terbang ke Jakarta ini. Buat Bapak aja deh handphone-nya. Kata sandinya, 45678 ya Pak. Hapusin aja semua foto-fotonya dan kartunya buang aja," jelas Akhtar panjang lebar.
"Beneran buat saya Dek?"
"Iya, Pak. Buat Bapak aja, saya ikhlas," ungkap Akhtar.
"Ya, Allah. Alhamdulillah," lirih sopir.
"Yaudah kalau gitu Pak, saya matikan dulu, ya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Setelah selesai, Akhtar langsung memberikan handphone Bambang kembali, "Ikhlas, ga?" tanya Bambang yang ternyata dari tadi menguping.
"Hmm," jawab Akhtar berdehem.
"Haha, apes banget lo, ya? Udah terkilir tuh kaki, pake demam segala lah sekarang malah handphone ketinggalan," ucap Bambang menggelengkan kepalanya.
"Itu ... karena lo dosa sama gadis itu. Gadis penyelamat, coba aja kalo lo bantu dia mungutin sampah. Bukan malah adu debat sama dia," sambung Bambang yang sepertinya tak puas menghina Akhtar.
Laki-laki yang tadinya tengah fokus menatap awan dari jendela menatap tajam ke arah Bambang, "Lo juga gak bantuin dia!" ketus Akhtar.
"Tapi, gue diem aja. Gak debat sama dia," jawab Bambang tak mau kalah.
"Lo liat di bawah?" tanya Akhtar menunjuk ke arah hamparan pemandangan dari jendela, "kalo lo gue jatuhkan dengan paksa dari jendela yang cukup cuma buat kapala lo itu. Bisa dipastikan mayat lo gak akan pernah dapat!"
Bambang yang mendengar penuturan Akhtar tersebut mencoba dengan susah payah menelan air liurnya.
Sedangkan orang yang berucap tadi menyandarkan punggung ke bangku pesawat sembari memejamkan mata.
"Bukannya kalo gue dibuang paksa, akan membuat rusak bagian pesawat, ya? Dan otomatis mereka juga akan jatuh, dong!" gumam Bambang menggaruk kepalanya bingung.
__ADS_1
"Kenapa? Lo mau coba apakah kami juga akan jatuh atau enggak?" tanya Akhtar membuka sebelah matanya menatap ke arah Bambang.
"Eh, enggak-enggak," jawab Bambang dengan kikuk dan segera menutup mata.