Gara-Gara Sampah

Gara-Gara Sampah
Menikahlah


__ADS_3

Suara kumandang seruan menghadap pada-Nya pun tiba, Ayu lekas bangkit dan masuk ke toilet untuk mengambil wudhu.


Setelah selesai, mukena pun dipakainya tak lupa sajadah di bentang olehnya. Dengan menahan isakan Ayu menyelesaikan salat ini.


Di sujud terakhir, Ayu begitu lama berbisik pada bumi. Ia menyerahkan segala kehidupannya kepada Sang Maha Pengatur.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh," salam Ayu menghadap ke sebelah kanan lalu kiri.


Ia tak lupa ber-istigfar dan membaca ayat kursi setelahnya. Menadahkan tangan, bercerita dengan Sang Pemilik langit, bumi dan segala isinya.


"Ya, Allah. Yang maha tau atas segalanya, hamba mohon. Temukan Akhtar, kuatkan hamba, orang tuanya dan orang-orang yang mencintainya untuk menerima takdir-Mu. Apa pun nanti yang terjadi pada Akhtar, kami tau itu pasti yang terbaik ... hiks ... hiks." Ayu tak bisa lagi menahan, ia menangkup wajahnya dengan mukena yang dikenakan.


Sekitar 10 menit bercerita dengan Allah tentang segala sesuatunya, Ayu merapikan peralatan salat dan langsung naik ke tempat tidur.


Besok, dirinya harus kuliah setelah sekian lama libur akibat koma yang dia alami. Ditatap Ayu lebih dulu langit-langit yang ada di dalam kamarnya.


"Ikhlas itu bohong Tar, gue dan kami semuanya tengah membohongi diri sendiri. Gak ada yang namanya ikhlas, yang ada tuh terpaksa baru terbiasa. Kami berlagak seolah ikhlas dengan apa pun yang akan terjadi pada lu, padahal nyatanya kami begitu berharap lu pulang dalam keadaan hidup!" tegas Ayu menatap kosong ke arah atas.


Setelahnya, ia memiringkan tubuh ke arah kanan tak lupa memeluk guling dan menuju alam mimpi yang sudah menunggu.


***


Suara alarm membangunkan Ayu, 10 menit sebelum adzan Shubuh berkumandang. Ia mengucek mata terlebih dahulu dan duduk menatap sekitar kamar.


Tersenyum sebentar ke arah nakas yang ada bola salju di atasnya, pemberian dari Akhtar dulu. Dengan langkah gontai dan menguap sesekali, Ayu mandi dan mengambil wudhu sekalian.


Jam telah menunjukkan pukul 6 pagi, Ayu memilih keluar dari kamar dan membuka pintu utama. Menghirup dalam-dalam udara yang belum tercampur dengan polusi kendaraan.


"Kamu mau olahraga, Sayang?" tanya suara bariton yang tiba-tiba ada di samping Ayu. Ayu menatap ke arah suara tersebut.


"Engga deh Pa, Ayu mau masak aja. Oh, iya, suruh Tante itu datang ke rumah sebelum jam 9 pagi, ya Pa. Ajak sarapan bareng, itung-itung perkenalan. Habis itu, beberapa hari lagi pernikahan Papa baru dilangsungkan."


"Ayu, gak usah bahas itu dulu di pagi ini," potong Angga dengan cepat dan mendatarkan wajahnya.

__ADS_1


"Kenapa Pa? Bukankah setiap orang yang punya kekasih berharap segera dipersatukan? Lantas, kenapa Papa gak mau dibahas? Papa belum siap buat menikah atau malah Tante itu?" tanya Ayu menaikkan satu alis dan mendatarkan wajahnya.


Angga terdiam beberapa saat, "Yaudah, oke, Papa akan ajak dia buat sarapan bareng kita," papar Angga dengan cepat agar permasalahannya cepat selesai.


"Oke, Pa. Yaudah, selamat olahraga Papa," ungkap Ayu dengan mengepal tangan dan mengangkatnya ke atas. Mengayunkan kaki kembali masuk menuju dapur.


Hari ini Ayu ada kelas jam 10 sampai jam 4 sore, entah bagaimana nanti dia bisa ikut untuk melihat jenazah-jenazah itu.


Tapi, dia sudah memberi tahu terlebih dahulu Caca bahwa mungkin dirinya akan sedikit terlambat untuk sampai di bandara tersebut.


Caca juga berkata jika tak ada satu pun dari jumlah jenazah yang ditemukan adalah wajah Akhtar.


Dirinya tak akan menelpon dan menyuruh Ayu untuk datang ke bandara dan disetujui oleh Ayu langsung.


"Mau masak apa Bik?" tanya Ayu menatap Bibik yang tengah asyik memotong sayuran.


"Mmm ... rencananya mau nasi goreng aja sih Neng," jawab Bibik dengan cengiran.


"Sayurannya itu?" tanya Ayu menatap dengan bingung.


Ayu tersenyum getir, sedangkan Bibik menatap ke arah Ayu dengan rasa bersalah. Entah karena bersalah membohongi Ayu atau memberi tahu kebenarannya.


"Buatin satu porsi lagi, ya, Bik. Buat tiga porsi nasi gorengnya," titah Ayu dan berjalan keluar dari dapur.


Bibik hanya bisa menatap dengan sendu ke arah tubuh yang sudah semakin menjauh, "Maafin Bibik, Neng," gumam Bibik dan kembali melakukan aktivitasnya tadi.


Ayu yang tadinya berniat untuk membantu memasak memilih mengambil handphone ke kamar dan berjalan ke ruang tamu untuk menghidupkan televisi.


Ia menatap kartun dua anak yang botak tersebut, sesekali ia tertawa melupakan kesedihan yang terus bersarang di dalam dadanya.


"Neng, mau minumnya apa?" tanya Bibik berjalan menghampiri Ayu, Ayu mengalihkan pandangan menatap ke arah Bibik.


"Coklat panas aja Bik."

__ADS_1


"Lah, Neng? Ini 'kan pagi, kenapa minum yang begitu? Marah Bapak nanti."


"Bibik nanya ke saya 'kan? Saya lagi pengen itu," jelas Ayu datar menatap ke arah Bibik.


"Baik, Neng," pasrah Bibik dan memilih kembali lagi ke dapur.


'Psikolog pernah bilang, 'ketika jatuh cinta sama seseorang, kamu akan mati rasa sama yang lain. Tapi, kalau masih suka sama yang lain, berarti kamu belum cinta,' dan sialnya Tar! Gue masih cinta sama lu! Sekarang gimana? Apakah gue akan mati rasa selamanya karena cinta gue ikut juga dengan lu yang sekarang gue dan yang lainnya gak tau di mana keberadaan lu masih hidup atau sudah meninggal!' batin Ayu menatap lurus dengan kosong. Ia mengusap ujung mata yang berair menggunakan ibu jarinya.


Sedari tadi Ayu di depan televisi, Angga tak juga masuk ke dalam rumah, "Papa lama banget olahraganya," gumam Ayu bangkit dari sofa.


Ia melihat tak ada mobil di halaman, disenderkan tubuh pada batu yang berada di ambang pintu, "Lagi jemput Tante itu ternyata."


Ayu memilih kembali masuk ke kamar untuk mengganti pakaian, agar setelah selesai makan dirinya bisa langsung pergi ke kampus.


Saat tengah memasang kerudung, suara salam terdengar dari luar, "Ayu ... Sayang!" panggil Angga di depan kamar Ayu.


"Iya, Pa bentar! Ayu lagi pasang kerudung!" teriak Ayu menatap cermin.


"Papa langsung ke meja makan, ya."


"Ya!"


Setelah itu, hanya ada suara sendal yang melangkah menjauh. Ayu bangkit karena merasa sudah siap. Ia juga memasang jam tangan.


"Wah ... Tante cepat juga datangnya, ya," kata Ayu dan langsung duduk di samping bangku wanita itu.


"Hehe, iya, soalnya lebih baik menunggu daripada ditunggu," jelas wanita yang mungkin berumur kisaran 26-30 tahun tersebut.


"Tante, udah berapa lama deket sama Papa?" tanya Ayu tanpa basa-basi tersenyum tipis menatap wajah mereka berdua bergantian.


"Baru aja, kok."


"2 tahun? Atau 1 tahun?" tanya Ayu menaikkan alisnya.

__ADS_1


Wanita itu bergeming, ia menatap ke arah Angga seolah memberi kode agar dibantuin oleh Angga untuk menjawab pertanyaan Ayu.


Kekehan terdengar dari suara Ayu, ia langsung mengambil nasi ke piring miliknya, "Kalau Tante dan Papa sudah ngerasa cocok. Maka, ada baiknya langsung menikah. Gak perlu minta izin sama saya, saya juga bukan anak kandung Papa," papar Ayu mengunyah nasi tersenyum ke arah wanita dengan wajah sedikit canggung.


__ADS_2