
"Mas, Akhtar kenapa, ya?" tanya Caca menatap Riki yang tengah sibuk dengan laptopnya.
"Kenapa apanya?" tanya Riki memandang ke arah Caca.
"Iya, beberapa hari ini dia murung. Liat, tuh. Dia langsung masuk ke dalam kamar, biasanya akan ngobrol dulu sama kita," tunjuk Caca menggunakan dagunya ke arah Akhtar yang sudah hampir menaiki tangga terakhir.
"Mungkin, dia ada masalah di skripsinya."
"Lah 'kan nanti ada acara biar refreshing. Ngapain juga kayak orang galau putus cinta dan cintanya di tolak?" celetuk Caca menautkan alisnya.
"Nah, itu!" seru Riki menunjuk ke arah Caca.
"Apa?" kaget Caca sembari memukul lengan Riki, "bisa biasa aja, gak, sih? Kaget orang kamu buat Mas!"
"Bisa jadi Akhtar lagi di fase cintanya di tolak."
"Di tolak? Sama siapa?" tanya Caca mengerutkan dahi.
"Siapa lagi kalo bukan Ayu," kata Riki kembali fokus ke laptopnya.
Caca menganggukkan kepalanya, karena setahu mereka. Akhtar memang lagi dekat dengan Ayu, terbukti dari berapa kali laki-laki itu sering mengaku bahwa dirinya pacar Ayu.
Berarti, Akhtar memiliki perasaan yang terpendam atau bahkan sudah diungkapkan ke Ayu.
Caca bangkit dari tempat duduknya, "Mau ke mana?" tanya Riki mendongak.
"Mau bantuin Akhtar biar dapetin pujaan hatinya," jawab Caca santai dan mengayunkan kakinya menuju kamar Akhtar yang berada di atas.
"Sok banget, padahal seharusnya yang ngajarin itu, aku. Kan, dulu aku yang perjuangin dia. Bukan dia yang perjuangin aku!" cibir Riki menatap punggung Caca yang sudah menaiki satu per satu anak tangga.
Tok ...!
Tok ...!
"Sayang, buka pintunya, dong. Ini Mama!" teriak Caca dari depan pintu kamar Akhtar.
Ceklek ...!
"Ada apa Ma?" tanya Akhtar setelah membuka pintu.
"Mama boleh masuk?" tanya Caca tersenyum.
Akhtar mengangguk dan membuka pintu dengan lebar, ia berjalan lebih dulu ke arah ranjang dan diikuti oleh Caca.
Caca membuang napas lebih dulu, memang permasalahan hati bukanlah suatu hal yang mudah.
__ADS_1
"Kamu ada masalah?" tanya Caca dengan duduk miring agar bisa menatap wajah Akhtar.
"Enggak, Ma," ucap Akhtar menatap ke arah Caca juga.
"Kamu ada masalah apa? Kampus atau hati?" tanya Caca yang tak langsung menyerah.
"Akhtar gak ada masalah, Ma."
"Yakin?" tanya Caca menaikkan satu alisnya.
Akhtar memalingkan wajahnya dari menatap Caca.
"Apa ini tentang Ayu? Kenapa dia? Apa dia nolak kamu?"
"Enggak, Ma. Akhtar gak pernah nembak dia, kok."
"Cuma?"
"Apanya yang cuma, Ma?" tanya Akhtar menatap ke arah Caca kembali.
"Hadeuh ... segitunya kamu mau mengelabui, Mama? Huftt ...." Caca membuang napasnya pelan agar tetap sabar dalam meladeni Akhtar yang berputar-putar ketika berbicara.
"Kamu ada masalah dan masalahnya adalah antara kamu dan Caca 'kan? Kenapa, apa dia menolak perasaan kamu atau dia udah punya pasangan? Jangan mau nutupin sesuatu sama Mama, Mama lebih tau tentang sesuatu pada diri kamu dibanding kamu sendiri."
"Jadi, kenapa kamu akhir-akhir ini berubah? Jadi lebih pendiam dan banyak di kamar aja?"
Akhtar menceritakan dari awal hingga akhir, karena percuma jika menutupi dari Caca. Dia tetap akan bertanya dan mendesak agar Akhtar mau bercerita.
Bukan maksud untuk ikut campur tentang anaknya. Namun, bagi Caca apa salahnya memberi solusi untuk permasalahan seseorang?
Jika kita bisa melakukannya, kenapa tidak? Bukankah itu juga suatu hal yang bisa meringankan seseorang?
"Itu artinya, dia bukan nolak kamu! Kamu masih punya harapan untuk memiliki dia, jangan nyerah selama janur kuning belum melengkung!" tegas seseorang yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar Akhtar setelah dirinya selesai bercerita pada Caca.
Sontak, mereka berdua langsung melihat ke arah seseorang yang baru masuk ke dalam kamar.
"Ck! Papa nguping, ya?" tanya Akhtar menatap Riki.
"Enggak, Papa mau manggil Mama. Ternyata kamu lagi cerita sama Mama, ya, jadinya Papa denger dong."
"Kamu ngapain Mas?"
"Mau nyuruh kamu buat teh."
"Dih, kenapa gak buat sendiri aja, sih? Biasanya juga buat sendiri!"
__ADS_1
Riki mengambil bangku yang biasanya digunakan Akhtar untuk duduk sambil belajar di meja belajarnya.
"Lagian, ya, yang harusnya nasehati dia itu aku. Karena, cowok itu menggunakan logika sedangkan cewek menggunakan perasaannya. Tentu saja nanti akan berlawanan dengan yang kamu jelaskan dan apa yang dia mau."
"Ya, kalo semua hal dipake dengan logika, ya, hancurlah dunia! Aneh kamu, Mas!"
"Nah, ini 'kan kamu. Gak semua hal harus dipake perasaan, pake hati. Ada beberapa hal yang logika seharusnya dipergunakan termasuk soal asmara," ungkap Riki.
"Dih, sesat yang ada kalo kamu ngasih solusi mah!"
"Hahah, sesat kenapa? Buktinya, caraku ampuh buat wanita yang keras kepala dan membuatku harus menunggu bertahun-tahun ini menjadi pendamping hidupku!"
Caca mencebik mendengar ucapan Riki barusan, ia memalingkan wajah dan mendatarkan mimik mukanya.
"Kamu 'kan belum ungkapkan perasaan. Juga, kamu bertanya di saat yang gak tepat. Masa, di gerbang kampus dengan mahasiswa/i pada lalu-lalang kamu malah ungkapkan begitu!"
"Jadi, Akhtar harus gimana Pa?"
"Buat dia nyaman dan merasa butuh dengan kamu, dengan perhatian-perhatian kecil biasanya akan mampu meluluhkan perasaan perempuan."
"Dengan membuka tutup botol minum, atau apa saja yang menurut kita hal kecil dan biasa saja itu akan menjadi hal yang luar biasa menurut mereka. Jika sudah menikah, hal kecil itu seperti ingat ulang tahun pernikahan juga istri dan memberinya kado. Menurut kita itu biasa saja, tapi menurut wanita itu sungguh luar biasa," jelas Riki menatap ke arah Caca.
"Apa kamu natap aku kayak gitu?!" ketus Caca dengan menahan diri agar semu di wajahnya tak terbit.
"Benarkan yang aku ucapkan?" tanya Riki menaik-turunkan alisnya menggoda Caca.
"Gak tau!" potong Caca dengan cepat.
"Tapi, bagaimana ketika sudah melakukan hal tersebut kita masih gak bisa dapatkan hati dia Pa?" tanya Akhtar memalingkan wajahnya dari menatap Caca ke Riki.
"Ya, kamu liat dulu setelah melakukan hal itu. Dia ada feedback, gak, ke kamu? Kalo enggak, berarti dia gak ada perasaan. Mudah kalo mau liat cewek ada perasaan atau tidak ke kamu, tinggal liat dia cemburu atau tidak dan khawatir atau tidak dengan kamu," tutur Riki seolah pakar cinta.
"Tapi 'kan ada cewek yang pinter nyembunyiin rasa cemburunya, Pa," kata Akhtar menaikkan satu alisnya.
"Kata siapa? Coba tanya Mama, tuh," ejek Riki dengan tersenyum.
Caca memutar bola matanya malas dari Riki ke Akhtar, "Sayang ... cemburu itu sudah menjadi tabiat wanita, dia mampu menyembunyikan perasaan cintanya selama 40 tahun tapi tak mampu menyembunyikan rasa cemburu walaupun hanya sedetik," jelas Caca memegang bahu Akhtar.
Gelora tawa terdengar dari mulut Riki, hal tersebut membuat Caca menyorot dengan tajam ke arahnya.
Plak ...!
Satu pukulan Caca hadiahi ke lengan Riki dan membuat laki-laki tersebut langsung mengatupkan mulutnya.
"Ribut banget, sih!" ketus Caca.
__ADS_1