
Di sepanjang jalan menuju mall, Caca hanya termenung dan menatap ke arah jalanan. Ia tak tahu apakah harus menceritakan soal ini ke Riki atau tidak.
"Mama kenapa? Kok dari tadi diam aja?" tanya Akhtar melihat dari kaca spion.
"Eh, mmm. Gak papa, Tar," dalih Caca tersenyum ke arah Akhtar.
[Tolong cari tau tentang keluarga Angga juga anaknya yang bernama Ayu, cari tau ada hubungan apa dia dengan Diva] perintah Caca dengan seseorang melalui pesan.
[Baik, Nyonya!]
'Gak mungkin aku langsung kasih tau atau tanya ke Mas Riki, lebih baik aku cari tau sendiri aja deh,' batin Caca.
***
Setelah kepergian Caca dan anak-anaknya, Ayu juga Angga berjalan kembali ke sofa untuk berbicara karena hari juga belum terlalu malam.
"Papa kenal dengan Tante Caca?" tanya Ayu menatap ke arah Angga dengan memasukkan cake ke dalam mulutnya.
"Enggak, kenapa?" tanya Angga jujur karena dirinya memang tak mengingat hal itu.
"Gak papa, cuma kayaknya Tante Caca aneh aja. Kayak pernah kenal atau liat Papa," ungkap Ayu.
Angga mengerutkan keningnya, 'Iya, juga, ya. Ekspresi Nyonya Caca tadi berbeda banget, apa dia pernah kenal denganku?' batin Angga merasa ada keganjalan juga.
"Udah, ngapain juga dipikirin. Biarin aja, kamu makan habis itu nanti adzan langsung shalat dan tidur, ya," titah Angga mengusap kepala Ayu.
"Papa emang mau ke mana?"
"Papa mau ke luar sebentar habis shalat Isya."
"Ngapain?"
"Ada urusan bentar."
"Ciee ... mau ketemu sama calon Mama baru, ya, Papa?" tanya Ayu menunjuk ke arah Angga.
"Apaan sih kamu, gak ada Mama baru-baruan," kata Angga tersenyum.
"Ayu akan restuin kok Pa, lagian udah waktunya juga Papa punya pendamping yang bisa menjaga Papa dan nemenin Papa serta ngurusin Papa pastinya," jelas Ayu.
"Iya-iya, nanti Papa akan mikirin soal itu. Sekarang kamu masuk ke kamar sana, eh, beresin dulu ini," titah Angga.
"Siap yang mulia!" teriak Ayu dengan tangan menghormat ke arah Angga. Dirinya terkekeh melihat perlakuan Ayu.
Merapikan kembali bekas cake juga minuman dan pergi ke dapur untuk meletakkan ke wastafel.
Ayu berjalan kembali setelah meletakkan benda tadi, "Oh, iya, Ayu!" ujar Angga menatap Ayu yang berjalan ingin ke kamar.
"Iya, ada apa Pa?" tanya Ayu berhenti dan menatap ke arah Angga.
__ADS_1
"Siapa yang telepon kamu tadi?"
"Kakak."
"Mau apa dia?"
"Biasa Pa, marah-marah."
"Cuma itu?" tanya Angga menaikkan alisnya.
Ayu mengangguk, "Yaudah, Pa. Ayu ke kamar, ya, mau istirahat juga capek banget habis turun dari gunung gak ada istirahatnya ini," keluh Ayu sambil memegang bahunya.
"Haha, iya, Sayang. Maaf, ya, yaudah kamu istirahat yang banyak sana. Besok harus ke kampus juga."
Ayu mengangguk dan tersenyum, lebih tepatnya mencoba tetap tersenyum padahal badannya sudah sangat letih seharian beraktivitas.
Setelah melihat Ayu masuk ke dalam kamar, Angga bangkit dari tempat duduk dan berjalan ke luar rumah.
"Pak ...!" teriak Angga kepada supir pribadinya.
"Iya, ada apa Tuan?"
"Antarkan saya ke cafe ×××, saya ada pertemuan di sana."
"Baik Tuan."
Angga pergi meninggalkan rumah setelah memberi tahu penjaga agar tak menerima tamu datang ke rumah.
Setelah selesai salat, benar saja Ayu langsung tidur. Beruntungnya ia tak lupa membuka mukena lebih dulu.
***
Mobil milik Akhtar masuk ke halaman rumah mereka, berbeda dengan Riki. Akhtar lebih suka mengendarai mobil dibanding motor.
Mereka membeli berbagai barang, mulai dari kebutuhan mandi juga masak. Rencananya Caca akan mulai belajar masak untuk anak-anaknya.
Meskipun nantinya akan sedikit repot karena Leon pasti akan mengganggu dirinya di dapur, tapi tak ada salahnya.
"Wahh ... Papa sudah pulang, Ma!" teriak Leon bahagia ketika melihat mobil milik Riki sudah berada di halaman rumah.
Leon langsung berlari sedangkan kresek belanjaan dibawa Caca juga Akhtar masuk ke dalam rumah.
Di dalam sudah ada Riki dengan kaki yang bertingkat, ia menatap horor ke arah pintu membuat Leon yang tadi sangat bergembira langsung terhenti di balik pintu.
"Assalamualaikum," salam Caca dan membuka pintu.
"Waalaikumsalam," jawab Riki datar.
Mereka bertiga jalan mendekati Riki di sofa, "Dari mana aja?"
__ADS_1
"Tuh ...," tunjuk Caca ke arak kresek yang ada logo tempat belanjanya. Mereka telah duduk di dekat Riki.
"Suami pulang bukannya di rumah dan disambut, ini malah keluyuran dengan cowok!" omel Riki.
Caca membulatkan matanya, "Mana ada sama cowok," bantah Caca.
"Jadi mereka itu? Emangnya gak cowok?" tanya Riki menunjuk ke arah Akhtar dan Leon.
Caca melihat arah yang ditunjuk Riki, dia memijit keningnya yang seketika terasa nyeri seperti ada dorongan ingin mem bantai orang di sampingnya sekarang.
"Tapi, mereka anak aku. Anak kamu juga, kalo perginya sama mereka mah gak papa," bela Caca yang tak ingin disalahkan.
"Tapi, mereka cowok atau bukan?" tanya Riki.
Kalau sudah seperti ini, pasti Riki artinya sudah cemburu karena Caca yang lebih sibuk dengan anak-anaknya dibanding menyambut kepulangan Riki.
"Emang kayaknya, kalo aku gak pulang selama setahun juga gak masalah. Kan, ada cowok-cowok ini pada. Kamu bisa pergi bareng mereka!" sambung Riki lagi.
'Dih! Papa gue keknya gak ingat umur, dia kira imut kali kayak gitu. Kalo gue jadi Mama, udah gue musnahkan nih Papa sekarang juga! Eh, astagfirullah tidak boleh Tar. Dosa-dosa,' batin Akhtar menggelengkan kepalanya.
'Papa lebay banget, sih, tapi apa kayak gitu nanti Leon sama Kakak cantik Ayu, ya? Leon juga gak ngasih Kakak cantik Ayu buat pelgi sama cowok,' batin Leon tersenyum menatap lampu di ruang tamu ini.
Caca dan Riki menatap tingkah aneh anak-anaknya, mereka menatap satu dengan yang lain dan menautkan alis.
"Kalian kenapa?" tanya mereka serempak.
"Tidak ada apa-apa, kalau begitu Akhtar permisi dulu yang mulia dari segala yang mulia," ujar Akhtar membungkuk dan berdiri.
"Sekalian bawa belanjaannya Tar!" perintah Caca dan membuat Akhtar membalikkan badannya kembali mengambil kresek yang ada di meja.
"Baik kanjeng putri," ucapnya tersenyum paksa membawa kantong kresek ke dapur.
"Leon juga mau bobok, deh. Udah malam, daa ... Pa, Ma," pamit Leon meninggalkan pasutri ini.
Riki menatap ke arah depan, Caca menatap wajah Caca. Dirinya tahu betul sekarang pasti laki-laki ini masih ngambek.
"Mas pulang sama siapa?" tanya Caca mencoba merayu.
"Farhan."
"Om Farhannya mana?"
"Dah pulang."
"Kok mobilnya gak dibawa?"
"Besok libur."
Caca membuang napasnya kasar, sungguh melelahkan harus menghadapi bayi besar seperti Riki ini.
__ADS_1
Cup ...!
"Aaa ...!" teriak seseorang kala melihat Caca mengecup pipi Riki. Mereka langsung menatap ke arah suara teriakan.