Gara-Gara Sampah

Gara-Gara Sampah
Cantik


__ADS_3

Ayu yang tak pernah mendengar suara Akhtar seperti itu sebelumnya langsung menatap ke arah laki-laki tersebut.


"Gak papa, santai aja kali," ucap Ayu dengan manautkan alis.


"Lu kenapa? Kok wajah lu pucet banget?" sambung Ayu dan menatap dengan jelas ke arah Akhtar.


"Gak papa, cuma agak gak enak badan aja," jelas Akhtar tersenyum.


"Yaudah kalo gitu, gak usah aja lu ikut. Pulang aja sana."


"Gak, ntar lu kesian ngawasin mereka sendiri. Juga di sana nanti akan ada kegiatan lain 'kan? Gak papa, aku bisa kok," ujar Akhtar menenangkan.


"Beneran?" tanya Ayu dengan wajah yang masih terlihat khawatir.


Akhtar terkekeh melihat wajah Ayu, sedangkan Ayu yang merasa diketawai langsung menatap dengan menautkan alis, "Kenapa?"


"Gak papa, kamu lucu kalo khawatir gini," puji Akhtar dan membuat Ayu seketika mendatarkan wajahnya dan kembali menatap ke arah depan.


Mereka sudah masuk ke dalam pesawat, Ayu kembali dibuat cemas dengan keadaan Akhtar.


"Lu sebenarnya kenapa, sih? Atau memang gak bisa buat mendaki?" tanya Ayu dengan menempelkan punggung tangannya ke kening Akhtar.


"Aku gak papa, Yu. Kamu aja yang terlalu cemas banget sama aku," ujar Akhtar mencoba tenang.


"Enggak! Ini lu ada yang aneh, lho. Kok badan lu panas gini, perasaan tadi biasa aja deh."


"Hahaha, kenapa? Kamu khawatir, ya?"


"Dih, siapa juga yang khawatir!" ketus Ayu dan memalingkan wajah.


"Ayu," panggil Akhtar dengan pelan.


"Kenapa?" tanya Ayu menatap ke arah Akhtar.


"Bisa manggilnya aku-kamu aja, gak? Gak usah lu-gue lagi," ucap Akhtar.


"Emangnya kenapa? Suka guelah! Kok lu ngatur?"


"Bukan ngatur, yaudah deh. Buat senyaman kamu aja," ucap Akhtar tersenyum simpul.


***


"Gimana semua? Bisa buat tendangnya?" tanya dosen menggunakan toa.


"Ayu, Akhtar. Tolong bantuin dan kasih tau gimana caranya negakkan tenda ke temen yang lain!" titah dosen dan langsung diangguki Ayu.


Ayu dan Akhtar akhirnya berpencar untuk membantu yang lain, mereka satu tempat kemah dengan Ningsih juga yang lainnya.


Namun, tetap mengikuti ucapan dari dosen masing-masing. Kelompok Ningsih ditugaskan untuk mengambil air dan yang lainnya mencari kayu bakar.

__ADS_1


Wajah Akhtar sudah tak terlalu pucat seperti tadi lagi, Ayu membuang napas lega melihat hal tersebut.


'Aneh banget si Akhtar, kenapa tiba-tiba gak mau dipanggil lu-gue? Padahal, dia sama aku juga gak ada hubungan apa-apa. Jadi, wajar dong kalo nyebutnya kayak gitu,' batin Ayu dan fokus kembali dalam pemasangan tenda.


Tenda-tenda telah terpasang untuk 80 orang juga 4 dosen lainnya, seketika tempat tersebut menjadi begitu ramai karena tenda juga mereka.


Tak terasa, senja telah menyapa. Semua orang kini sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Seperti beristirahat dan mengambil gambar pemandangan yang ada.


Ayu memilih untuk sedikit jauh dari tempat kemah, ia melihat pemandangan dengan matahari yang hampir pergi.


Seseorang ikut duduk di sampingnya, Ayu melihat sekilas ke arah orang yang fokus langsung menatap ke depan.


"Cantik," kata Akhtar.


"Iya, senjanya cantik," ujar Ayu yang memang sudah kembali menatap ke depan.


"Bukan."


Ayu menekuk wajah dan menatap ke samping, "Jadi, apa yang cantik?" tanya Ayu penasaran.


"Kamu."


Dengan cepat, Ayu langsung memalingkan wajahnya kembali menghadap depan. Ia tak ingin wajah yang mungkin sekarang tengah bersemi dilihat oleh Akhtar.


"Haha, perasaan kamu cewek anti make up. Kok, ini ada blush on sih di pipi kamu?" tanya Akhtar mencondongkan badannya agar bisa menatap wajah Ayu.


Setelah tertawa kecil, Akhtar akhirnya memilih diam dan ikut menikmati senja yang mulai akan menghilang.


"Pada akhirnya, memang yang hadir akan menghilang, ya."


"Ya, memang seperti itu. Jika memang bukan takdir, mau sesering apa pun hadir akan menghilang."


"Tapi, kau tenang saja. Aku, tak akan pernah menghilang karena aku memang sudah takdirmu," sambung Akhtar dan membuat Ayu menatapnya.


Ayu tersenyum, sangat manis. Entah itu senyum mengejek atau apalah, kemudian dirinya kembali menatap ke arah depan dengan menggelengkan kepala.


"Sok tau!" cibir Ayu.


Tak lama, Ningsih juga ketiga kawan Akhtar datang berkumpul ke arah mereka.


"Cieee ... ingat, jangan berduaan! Karena, biasanya ketiganya itu setan," ucap Bambang menasihati.


"Iya, setannya tuh lu!" timpal Bayu cepat.


"Enak aja!" tolak Bambang yang tak terima.


Ayu hanya tertawa mendengar perdebatan teman-teman Akhtar, baginya mereka begitu lucu karena mampu berdebat disetiap saat.


"Gimana lu Yu? Aman?" tanya Ningsih yang entah apa maksudnya.

__ADS_1


"Ha? Apanya yang aman?" tanya Ayu menautkan alis tak paham.


"Ya, mana tau ada yang resek di mobil atau di manalah sama lu. Secara 'kan deket dengan most wanted-nya kampus," cibir Ningsih melirik ke arah Akhtar.


"Lu kira ini drama pernovelan? Yang akan ada pembullyan jika gue deket sama orang yang katanya most wanted? Ya, enggaklah!" ungkap Ayu memasang wajah acuh.


"Lagian, gak akan mungkin ada yang berani buat begitu. Pawangnya terlalu mengerikan," timpal Ahmad.


"Siapa?" tanya Ningsih menatap Ahmad.


"Noh," tunjuk Ahmad ke arah Akhtar menggunakan wajahnya.


Mereka langsung tertawa kecuali Akhtar dan Ayu, mereka hanya diam tak menimpali apa-apa. Memilih untuk fokus dengan pikiran masing-masing.


"Yuk, kita main truth or dare!" ajak Bayu.


"Yuk!" sorak mereka kecuali Akhtar dan Ayu.


"Gue gak ikut," jawab Ayu dan Akhtar serempak. Ayu langsung menatap ke arah Akhtar saat entah bagaimana mereka bisa menjawab secara sama-sama.


"Uhuk ...!"


"Cie ... cie ...."


"Ikatan batin, tuh!"


Banyak lagi ucapan mereka ber-empat yang membuat Ayu harus menahan malu, sedangkan Akhtar hanya menampilkan wajah tanpa ekspresi saja.


"Kalian, masuk ke tenda karena sudah akan waktunya shalat Magrib. Bagi yang bisa shalat, maka ayo shalat sama-sama. Setelahnya kita akan melanjutkan acara berikutnya!" peringat dosen ke arah mereka.


Mereka yang sudah membalikkan badan langsung mengangguk dan berdiri seraya menepuk-nepuk pan tat agar tanah-tanah tak lengket di celana.


"Lu kenapa?" tanya Ayu saat melihat perubahan wajah Akhtar yang menjadi pucat.


"Gak papa kok, aku gak papa," jawab Akhtar sembari berdiri dengan kaki yang menggigil.


"Lu jangan-jangan hipo, ya?" tanya Ayu cemas melihat Akhtar.


Bambang, Bayu, Ahmad dan Ningsih yang melihat hal tersebut langsung mengerutkan dahi saling pandang.


"Dia hipo, Yu?" tanya Ningsih.


"Kayaknya begitu, karena ini bukan kali pertama dia kayak gini," ujar Ayu sambil menoleh ke arah Ningsih.


"Hipo? Maksudnya hipotermia?" tanya Ahmad yang tak terlalu paham dengan hipo.


Ningsih mengangguk dengan wajah yang ikutan cemas.


"Enggak, gue cuma kecapean aja. Udah, yuk, kita gabung buat siap-siap shalat," potong Akhtar dengan cepat sambil berlalu lebih dulu meninggalkan mereka.

__ADS_1


__ADS_2