Gara-Gara Sampah

Gara-Gara Sampah
Terciduk


__ADS_3

Mereka sekarang sudah berkumpul di bandara, bahkan; Ahmad, Bambang dan Bayu juga hadir di bandara.


Mereka datang karena mendapat kabar bahwa Akhtar menjadi salah satu korban dari jatuhnya pesawat tersebut.


Satu per satu bungkusan jenazah mulai berdatangan, pesawat yang memiliki penumpag 100 orang tersebut.


"Tante, Akhtar gak akan ada di dalam salah satu bungkusan itu 'kan?" tanya Ayu menatap ke arah Akhtar dengan menggelengkan kepala menahan isak.


"Kita sama-sama berdoa saja, Sayang. Semoga tidak ada Akhtar di dalamnya, ya," kata Caca mengelus bahu Ayu.


Satu per satu wajah korban dibuka, dengan tangan yang bergetar dan sudah dingin juga merapalkan doa dari bibir Ayu tak ada hentinya.


Helaan napas keluar dari bibir Ayu dan mereka semua, tak ada wajah Akhtar di dalam bungkusan jenazah tersebut.


"Untuk yang melihat atau tahu bahwa wajah di dalam ini adalah salah satu keluarga kalian, maka silahkan konfirmasi ke bagian pihak bandara agar segera diserahkan, ya," tutur pihak bandara menggunakan toa.


Ayu menatap sekitar, suara tangisan begitu terdengar menyayat hati. Bahkan, tanpa sadar dirinya ikut meneteskan air mata.


Mengayunkan kaki menuju parkiran, Ayu dan yang lainnya akan pulang ke rumah masing-masing karena memang sudah selesai dan tak ada lagi jenazah yang harus dilihat.


"Ayu, kamu gak mau sama Tante aja?" tanya Caca menatap Ayu.


"Gak usah, Tante. Udah ada supir, kok."


"Ayu, gue pulang sama Ahmad dan yang lainnya aja, ya. Lu langsung pulang, besok harus masuk kampus!" tegas Ningsih yang memberi perintah pada Ayu.


Ningsih berjalan ke arah bangku supir, ia mengetuk kaca dan dibuka oleh supir, "Pak, tolong langsung pulang aja, ya. Mau diminta Ayu ke mana aja jangan kasih, biarin aja!"


"Baik, Neng," ucap supir dengan tersenyum ke arah Ningsih.


"Dih, lu ngapa sih? Kayak bocil aja, gue!" gerutu Ayu bersedekap dada menatap ke arah Ningsih.


"Gak usah sok mau nenangin kepala segala, di taman aja. Cabutin rumputnya atau apa kek, gak perlu ke pantai!" omel Ningsih sudah seperti Ibu-ibu yang menasehati anaknya.


"Iya-iya, lu kayak Ibu-ibu aja!"

__ADS_1


"Calon Ibu, Yu!" timpal Ahmad.


"Dih!" sinis Ayu memutar bola mata malas, "yaudah kalau gitu, Tante, Om dan lainnya. Ayu pamit pulang duluan, ya. Assalamualaikum!"


Mobil Ayu berjalan menuju rumah, Angga tadinya ingin datang ke bandara. Hanya saja, meeting mendadak terjadi membuat dia tak bisa untuk ikut melihat jenazah tersebut.


Keluar dari mobil, Ayu langsung berjalan dengan pelan ke arah tamannya. Wajah yang tak lagi ada senyuman juga langkah gontai.


"Taman ... kalian tau? Akhtar jatuh dari pesawat sialan itu! Andai aja gue bisa nahan dia waktu itu, ya? Sekarang, gimana? Gue harus gimana sekarang? Harus bahagia atau apa? Gimana ... hiks ...," lirih Ayu dengan membenamkan wajah di antara tumpukan tangannya.


"Neng, kita gak boleh seperti ini. Kita harus mencoba mengikhlaskan apa yang telah terjadi, kalau emang Allah tidak memberi izin Neng buat bisa sama-sama dengan Nak Akhtar. Ya, Neng harus siap dan ikhlas. Allah yang maha tau terbaik untuk setiap hamba-hambanya," papar Bibik yang ikut berjongkok di samping Ayu dengan mengusap bahu wanita itu.


Ayu mengangkat wajahnya dan menatap ke arah samping, "Bik ...," lirih Ayu yang kesulitan untuk mengucapkan kata demi kata.


"Gak ada yang mudah emang Neng, semua orang pastinya merasa kehilangan dan gak akan pernah ikhlas untuk kehilangan seseorang yang mereka sayangi dan cintai. Namun, inilah kehidupan kita gak bisa mengatur agar kehidupan yang kita mau sesuai dengan yang kita inginkan."


"Ayu harus apa Bik?" tanya Ayu dengan tatapan sendu.


"Neng harus mencoba ikhlas dengan takdir dari Gusti Allah, entah itu nanti mengembalikan Nak Akhtar dalam keadaan hidup atau tidak. Berdoa saja agar beliau dapat ditemukan, daripada tidak sama sekali 'kan?"


Bibik langsung membawa Ayu ke dalam pelukannya, ia hanya bisa menenangkan Ayu dengan cara seperti itu.


Dirinya pun sama, merasa sangat takut jika Akhtar pulang tanpa adanya nyawa. Hanya saja, bukankah itu lumayan lebih baik dibanding laki-laki tersebut tak ditemukan sama sekali?


Tak lama, setelah merasa Ayu lebih tenang. Bibik meninggalkan Ayu sendiri di taman yang tengah asyik menata dan kembali merawat tanamannya.


Tas yang sempat dipakai oleh Ayu, ia titipkan ke Bibik agar dibawa ke dalam kamarnya. Dengan cekatan, ia merawat dan merapikan serta memberi pupuk ke bunga-bunga yang ada.


"Ini kayaknya gue harus beli pot lagi, deh," gumam Ayu menatap bunganya yang sudah memiliki tunas baru.


Ayu berjalan ke arah kran air untuk mencuci tangan dan memilih masuk ke dalam rumah, "Bibik!" panggil Ayu berjalan ke arah dapur.


"Iya, ada apa Neng?" tanya Bibik dengan berjalan sedikit tergesa-gesa.


"Ayu mau ke mall dulu, ya. Mau beli pot, lagi banyak tunas baru," jelas Ayu dengan tersenyum simpul.

__ADS_1


"Bibik temenin, ya?"


"Gak usah Bi, bentar doang, kok."


"Yaudah, hati-hati, ya."


"Oke, Bik!"


Ayu berjalan ke dalam kamar lebih dulu untuk mengambil dompet dan memasukkannya ke dalam saku gamisnya.


"Pak, ke mall, yuk!" ajak Ayu kepada supir yang tengah bermain catur dengan Pak penjaga.


"Oke, Neng!"


"Maaf, ya, Pak. Nanti disambung main caturnya lagi!" kekeh Ayu yang merasa tak enak hati.


"Hahah, gak papa Neng. Lagian si Ucup mah gak pinter main caturnya!" ejak Pak penjaga menatap supir.


Ayu hanya terkekeh kecil dan berjalan menuju mobil, "Papa nanti pulang sama siapa Pak?" tanya Ayu di sela-sela perjalanan menuju mall.


"Katanya, sih, mau naik taksi aja Neng," ucap supir menatap Ayu dari kaca spion.


Ayu hanya ber 'oh' ria dengan mengangguk dan menatap ke arah samping, menatap jalanan yang dilalui para pengendara yang mungkin sedang pulang menuju rumah masing-masing.


"Neng, jangan lama, ya! Ini udah sore banget!" jelas Pak supir sebelum Ayu turun ke dalam mall.


"Iya, Pak. Nanti kita sekalian jemput Papa aja lah, udah jam 5 kok ini."


"Gak usah, Bapak udah sampe rumah bahkan ini. Kan, jam 5 kantor tutup."


"Oh, iya, juga!" kata Ayu menepuk jidatnya pelan karena lupa akan hal itu. Dia langsung turun dari mobil dan mengayunkan kakinya masuk ke dalam gedung yang besar tersebut.


Saat akan berjalan ke toko yang menjual segala kebutuhan tanam-tanaman, mata Ayu menangkap sosok orang yang dia kenal.


Dirinya tersenyum tipis dan berjalan menghampiri dua orang tapi yang dia kenal hanya satu orang yang tengah asyik makan di salah satu restoran di dalam mall.

__ADS_1


"Ehem! Enak banget, ya, Pa. Pacaran di sini!" sindir Ayu bersedekap dada berdiri di belakang wanita yang duduk berhadapan dengan Angga.


__ADS_2