Gara-Gara Sampah

Gara-Gara Sampah
Demi Wanita


__ADS_3

Ahmad langsung menggaruk tengkuknya dengan menampilkan cengengesan.


"Kayaknya Nak Ahmad suka sama kamu, Sayang," ujar Angga yang membuat Akhtar tersedak dengan air liurnya sendiri.


Semua mata langsung menatap ke arahnya, bagaimana mungkin dia bisa tersedak padahal tak tengah minum atau makan apa-apa.


"Lu kenapa Tar?" tanya Ahmad yang kebingungan.


"Gak papa," jawab Akhtar sedikit salah tingkah.


"Oh, salah Nak. Bukan Ahmad yang suka sama kamu, kayaknya Nak Akhtar, nih!" goda Angga tersenyum.


"Pa, udah Ashar. Shalat, urusan akhirat yang harus didulukan," kata Ayu berlalu begitu saja menuju kamarnya.


Akhtar langsung melihat ke arloji yang ada di tangan kanannya, benar saja waktu sudah menunjukkan hampir pukul 4 sore.


"Kalian mau shalat bareng? Ada tempat shalat khusus di rumah Om, kok," tawar Angga kepada Akhtar juga Ahmad.


"K-kita shalat di luar aja Om," tolak Ahmad.


"Oh, yaudah kalau emang gitu," ucap Angga yang tak mungkin memaksa.


Akhtar dan Ahmad bangkit diikuti Angga, mereka berpamitan tak lupa mencium punggung tangan lelaki itu.


"Ini kunci mobilnya," ujar Pak penjaga sembari memberikan kunci mobil milik Akhtar.


"Makasih, ya, Pak."


"Iya, sama-sama."


Angga mengantar kepergian Akhtar juga Ahmad sampai di ambang pintu, setelah mobil keluar dari halaman rumahnya baru ia masuk ke dalam.


"Buset, Bapak sama anak beda banget!" seru Ahmad yang sudah tak sabar untuk ber-ghibah ria.


"Beda apanya?" tanya Akhtar tetap fokus ke jalanan.


"Ya, lo liat sendiri. Anaknya sombong banget, Bapaknya ramah begitu," cela Ahmad menghadap ke arah Akhtar.


"Dia tau cara menyikapi orang lain, masa sama lo dia harus ramah padahal dia gak kenal sama lo," ungkap Akhtar.


Ahmad yang merasa Akhtar berbeda langsung menautkan alisnya menatap penuh tanya ke Akhtar.


"Kenapa lo?" tanya Akhtar melirik sekilas ke arah Ahmad yang sekarang tengah tersenyum mengerikan ke arahnya.

__ADS_1


"Lo suka, ya, sama Ayu?" tanya Ahmad.


"Dih, paan suka sama cewek sok kayak dia begitu. Amit-amit!"


"Masa sih amit-amit? Awas, lho ntar malah suka beneran lo sama dia."


"Ck! Gue gak akan suka sama dia, kalo gue sampe suka apalagi jadian sama dia. Gue akan kayang di monas sana!"


"Wesedeh! Janji, ya! Awas aja kalo lo bohong!"


'Mampus, ngapain lu pake bilang begitu segala Tar? Kalo tiba-tiba lu suka sama dia gimana? Arggg ... tapi, gak mungkin juga sih kalo gue suka sama dia. Mending suka sama cewek lain daripada cewek modelan kek dia,' batin Akhtar.


Sedangkan Ahmad sudah senyum-senyum membayangkan jika Akhtar kayang di monas yang suasana tempat tersebut selalu ramai.


Mereka telah sampai di depan rumah sederhana milik Ahmad, "Lo mampir dulu, gak?" tanya Ahmad membuka sabuk pengaman.


"Gak usah deh, mau langsung pulang aja gue," tolak Akhtar.


Ahmad yang merasa ada sesuatu ia lupakan langsung terdiam dan mencoba mengingat, "Lu kenapa?" tanya Akhtar melihat Ahmad yang masih ada di dalam mobil.


"Kita tadi kek ada janji gak sih sama Om Angga?" tanya Ahmad yang mencoba meminta bantuan mengingat janji itu.


"Janji? Apa?" tanya Ahmad mengerutkan kening dan mencoba mengingat juga.


Kalimat itu muncul secara bersamaan di otak mereka berdua, Ahmadlah yang berkata seperti itu kepada Angga tadi.


"Woy, shalat!" teriak Ahmad.


"Lu lagian, ngapain ngomong gitu. Dah, lu shalat di dalam rumah aja. Masa kita cari mushola atau masjid. Gue mau shalat di rumah aja deh nanti, masih ada waktu kok ini," terang Akhtar melirik jam tangannya.


"Yaudah, thanks, ya," jelas Ahmad keluar dari mobil Akhtar dan menutupnya kembali.


Setelah mengantar Ahmad, Akhtar langsung membelah jalanan menuju rumahnya. Sebenarnya dia keluar rumah karena ingin membeli sesuatu.


Bersamaan dengan dirinya yang tengah di luar, Ahmad menelpon ingin ditemani pergi ke rumah Angga.


"Assalamualaikum," salam Akhtar masuk ke dalam rumah.


"Waalaikumsalam, udah selesai yang di beli?" tanya Caca melihat ke kantong kresek yang dibawa Akhtar.


"Udah, kok Ma. Akhtar ke atas, ya," pamit Akhtar dan langsung dibalas dengan anggukan.


Caca berjalan ke arah sofa depan televisi, Leon tengah mandi. Semenjak dirinya kenal dengan Ayu sekarang dirinya tak mau lagi dibantui mandi.

__ADS_1


Itu sebabnya Caca membiarkan Leon untuk mandi sendiri, palingan jika tak bersih nanti ia akan memandikan anak bungsunya itu lagi.


"Oh, iya, aku lupa nanya sesuatu ke Akhtar," ujar Caca teringat sesuatu.


Ia langsung bangkit dari sofa dan menaiki anak tangga menuju kamar anak sulungnya, pintu dia muka dan membuat matanya membulat.


"Ya, Allah. Ini anakku? Dapat hidayah apa dia?" lirih Caca berdiri di ambang pintu kamar Akhtar dengan laki-laki itu yang tengah menggunakan sarung juga peci melakukan kewajibannya sebagai muslim.


Caca tak berpaling, ia menyandarkan tubuhnya di ambang pintu tersebut sambil bersedekap dada menatap Akhtar dengan bangga.


"Assalamualaikum Warahmatullahi Wabatokatuh."


Lafadz yang diucapkan Akhtar melihat ke sisi kanan dan kirinya. Akhtar yang mungkin mengetahui jika ada seseorang langsung menatap ke belakang.


Caca yang melihat Akhtar telah selesai salat berjalan dengan mata yang berembun, "Wanita mana yang kau incar Nak?" tanya Caca jongkok memegang bahu putranya.


Akhtar yang mendapatkan pertanyaan seperti itu langsung menampilkan wajah masam ke arah Mamanya itu.


"Mama kira Akhtar shalat cuma demi dapetin hati cewek, apa?"


"Ya, iyalah. Pasti karena cewek tuh terlalu cantik, baik, shalehah mangkanya sekarang kamu minta ke Allah. Karena, saingan kamu pasti berat-berat. Iya 'kan?"


"Ck! Mama sok tau banget, sih! Kalo dulu Papa begitu bukan berarti Akhtar begitu juga, dong!"


Caca meletakkan punggung tangannya ke dahi Akhtar, "Gak panas, kenapa kamu? Ketempelan sama apa?" tanya Caca yang tak percaya.


"Mama, astaghfirullah. Sebagai seorang Ibu seharusnya Mama itu mendukung bukannya bersikap seperti ini. Jadilah Ibu yang mendukung anaknya menjadi orang yang lebih baik lagi Ma, karena apa? Karena nanti di hari akhir seorang Ibu juga akan diminta pertanggung jawaban kenapa tidak membuat anaknya menjadi orang yang lebih baik lagi," jelas Akhtar panjang lebar bak seorang Ustadz yang tengah ceramah.


Mata Caca berbinar melihat penuturan Akhtar tersebut, suara tepukan ia berikan dengan mata yang tak berpaling menatap wajah anaknya.


"Pokoknya, Mama harus cari wanita itu. Kalo perlu, besok kalian harus nikah!" ucap Caca semangat dengan langsung berdiri meninggalkan Akhtar yang masih mematung mendengar ucapan Caca.


"Lah, Mama kira gue shalat cuma demi dapatkan cewek apa, ya? Ya, ampun Ma!" keluh Akhtar mengusap wajahnya kasar.


Suara dering handphone membuat Akhtar bangkit sekalian memberesin alat salatnya.


"Hmm ... ada apa?" tanya Akhtar duduk di pinggir kasur.


"Udah salat, ya, lu?"


"Dari mana lu tau?"


"Bwahahahaa, Tante Caca nelpon gue tadi. Nanya siapa cewek yang lagi lu demen, mangkanya! Jangan shalat pas cuma lagi ngambil hati cewek aja. Jadi, pas lu shalat demi ibadah murni karena Allah orang-orang pada kagak percaya!" ejek Ahmad dengan suara tawa yang menggelegar. Mungkin di sebrang dia tengah memegangi perutnya yang sakit akibat tertawa.

__ADS_1


__ADS_2