
Dua bulan telah berlalu, keadaan Ayu sudah lumayan membaik. Tapi, sayang dirinya masih enggan untuk membuka mata.
Dokter bilang, meski tubuhnya sudah membaik dan kuat tidak menutup kemungkinan bahwa akan terjadi hal buruk.
Karena mengingat dirinya yang masih belum siuman dari komanya, hari ini adalah hari di mana Akhtar akan pergi ke Jepang untuk menempuh pendidikan.
Hidup terus berjalan, bukan berarti dirinya tak sayang dan cinta dengan Ayu sehingga dengan tega meninggalkan wanita tersebut dalam keadaan yang seperti ini.
Akan tetapi, tak mungkin dirinya harus berlarut-larut dalam kesedihan. Ayu juga akan sangat membenci dirinya sendiri jika tahu bahwa dia adalah alasan kenapa Akhtar tak jadi kuliah di Jepang.
Angga sudah memberi tahu pihak kampus dan mereka juga sudah tahu soal Ayu, kemungkinan Ayu dan Ningsih tak akan bisa wisuda bersama nantinya.
"Assalamualaikum," salam seseorang membuka ruangan Ayu. Dia memilih duduk di bangku yang sudah biasa menjadi tempat duduknya.
POV Akhtar
Semangatku seolah menghilang dan jiwaku ikut melayang kala mendengar bahwa orang yang kucintai menjadi korban dalam kecelakaan.
Bahkan, dia yang mendapatkan luka paling parah. Aku terpuruk, ingin menyerah, lelah, capek, sedih, runtuh.
Sesak di dada seolah penuh dengan batu-batuan, entahlah. Aku pun bingung entah bagaimana mendeskripsikan hancurnya aku ketika tahu bahwa Ayu keadaannya separah ini.
Beberapa kali aku menyalahkan takdir, karena telah membuat dirinya terluka. Bahkan, aku gila akibatnya. Kulukai juga tubuh ini agar bisa merasakan apa yang dia rasakan.
Plak ...!
Satu tamparan waktu itu membuat aku tersadar bahwa apa yang kulakukan tak akan membuat Ayu sadar dan langsung bahagia setelahnya.
Justru, jika dia tahu aku tiada karena dirinya yang membuat aku kacau. Dia malah akan semakin membenci dirinya sendiri.
"Apakah kau pikir dengan meminum racun itu Ayu akan siuman dari komanya? Dia akan sembuh dan bisa berlari-lari? Tidak! Dia tidak akan bahagia dan senang ketika tau kau mati dengan cara yang bodoh seperti ini!" bentak Papa ketika aku sudah berniat untuk meminum racun yang kubeli melalui online shop.
Itu adalah hari ke-tujuh Ayu yang tak kunjung membaik, bahkan dihari itu keadaannya semakin memburuk membuat aku kalang kabut.
Aku hanya terdiam seolah tengah menjadi manusia yang kehilangan arah. Namun, Mama langsung memelukku dan memberikan sajadah.
"Shalatlah, Nak. Doakan Ayu agar dia segera sembuh, dunia terus berjalan. Kamu gak bisa seperti ini terus menerus, ketika dia bangun dan tau kalau kamu melakukan hal bodoh seperti ini. Apakah kamu pikir dia akan senang dan bahagia? Dia malah semakin akan membenci dirinya sendiri sebab dia kau malah seperti ini," jelas Mama dan menatap diriku dengan seksama.
Tatapan sendu terlihat dari sorot matanya, aku mengangguk dan mencoba untuk kembali bangkit.
Sekarang, aku tengah berada di ruangan orang yang kusayangi dan kucintai itu. Seperti biasanya, dia hanya terbaring tanpa mau manatapku.
"Ayu, apakah kau tak ingin melihat wajahku untuk yang terakhir kali? Aku akan pergi besok ke Jepang, kau mau aku bawakan apa? Bilang, dong," ujarku mengobrol dengannya.
__ADS_1
"Ck! Lu sombong banget, sih, Yu makin lama! Ngomong apa kek, nyebelin banget!" sambungku dan menyandarkan punggung.
"Hati-hati, ya, Nak. Belajar yang pintar dan jangan sampai lalai dengan tugas-tugasmu, Om akan selalu kabarin soal Ayu setiap hari padamu," celetuk seseorang dari samping.
Aku langsung menatap ke arah suara, Om Angga sudah berada di antara kami. Laki-laki tersebut tampak begitu tak bergairah.
Dirinya pun sama, seakan tengah kehilangan arah hidupnya. Bahkan, rumah yang biasanya rapi terlihat sangat berantakan.
Bahkan, taman milik Ayu tak terawat lagi karena biasanya memang Ayulah yang akan mengurusnya sendiri.
"Om," lirihku menatap Om Angga.
"Tenang aja, Nak Akhtar. Ayu tak akan kenapa-kenapa, jika pun pada akhirnya dia akan kenapa-kenapa. Setidaknya dia sudah berjuang selama ini, Om sudah ikhlas akan hal itu," jelas Om Angga yang langsung kuberikan gelengan.
"Gak, Om. Ayu akan baik-baik saja, percaya sama Akhtar. Ayu akan kumpul bersama kita kembali nantinya," ujarku dan langsung berdiri untuk menguatkan Om Angga.
"Iya, makasih Nak Angga. Kamu lebih baik sekarang pulang buat ngurus keberangkatan kamu besok, jangan terlalu capek dan fokuslah belajar!"
"Terima kasih, Om. Sebelum berangkat besok, saya akan singgah sebentar ke sini."
"Kapan pun kamu mau, kamu bisa datang. Ayu dan Om pasti akan sangat bahagia dengan kehadiran kamu."
Kuanggukkan kepala, mencium punggung tangan Om Angga dan menatap terlebih dahulu mata yang masih betah tertutup dan melangkah keluar dari ruangan.
Ahmad sudah pergi bekerja di luar kota, Bayu pulang kampung dan dengar-dengar dia juga sudah mendapatkan pekerjaan untuk membiayai Aisyah kuliah nantinya.
Sedangkan Bambang? Dia tengah merintis usaha sendiri, tiap minggu kami akan berkumpul. Hanya berdua dan yang lainnya hanya akan melalui video call saja.
Mampir di salah satu cafe yang cukup terkenal di kota ini, aku memarkirkan mobil milikku. Masuk ke dalam dan langsung memesan satu kopi.
Hidup memang unik, ya? Kadang ... kita tidak mengharapkan sesuatu hal, malah Allah memberinya.
Kadang ... kita mengharapkan sesuatu hal, malah sama sekali tak diberi. Itu artinya, kita tak sepantasnya berharap dan terlalu percaya bahwa apa yang kita ingin itu baik bagi kehidupan kita.
Karena, baik menurut kita itu belum tentu baik menurut Allah. Namun, baik menurut Allah sudah pasti yang sangat terbaik untuk kita.
Tapi, apakah menurut Allah dengan Ayu yang koma sudah berarti yang terbaik untukku? Oh, ayolah!
Enyahlah pikiran yang membuatku semakin kacau dan tak karuan, kuusap wajahku kasar dan sedikit menjambak rambut milikku.
"Ini, Mas pesanannya," ucap seorang wanita yang menggunakan kerudung di depanku sembari tersenyum.
"Ya," jawabku singkat tanpa membalas senyumnya.
__ADS_1
"Mas ada masalah? Kok, keliatannya kayak setres banget?"
Kutatap wajahnya lekat, "Bukan urusanmu!" ketusku dan membuat dia tampak kaget atas jawabanku.
Dia hanya menampilkan cengiran sebelum beranjak dari depan mejaku, aku sangat tak ingin diganggu atau berbicara dengan manusia asing yang mencoba mendekat atau sekadar sok peduli.
Kuseruput perlahan kopi dengan menatap ke arah halaman cafe kopi ini.
Haruskah Bertahan
Aku terombang-ambing dalam kebingungan
Apakah kau tahu, Sayang?
Aku begitu tak tahu arah jalan
Semenjak kau tak lagi ada dalam pandangan
Suara tawa
Ocehan
Ketusan
Amarah
Aku merindukan itu dari bibirmu
Bangunlah ....
Hiduplah untukku juga Papamu
Tak kasihankah dirimu?
Pada hati yang tak tahu kesalahan
Pada jiwa yang kebingungan
Pada diri yang menolak meninggalkan
Bangunlah, sembuhlah, bangkitlah!
Aku merindumu, Sayang ....
__ADS_1