
Akhtar langsung pulang ke kost-an, semenjak kejadian itu dia benar-benar keluar dari rumah meskipun Caca melarang akan hal itu.
Namun, keputusannya sudah bulat. Sedangkan Riki? Dia tak ada melarang bahkan acuh dengan niat Akhtar.
"Lama banget sih lu! Kita udah lama nunggu di sini juga!" ketus Ahmad yang duduk di bangku teras depan kamar kost Akhtar.
"Gila-gila, gue kira lu becanda soal itu. Ternyata beneran, dong! Seorang Ayu bisa merubah Akhtar ternyata, peletnya joss banget!" timpal Bambang melihat sekitar kost.
Wanita hebat bukan dia yang bisa merubah laki-lakinya, tapi wanita yang hebat adalah dia yang tanpa melakukan apa pun mampu membuat orang lain berubah.
"Gak disuruh masuk nih kita? Mana panas lagi di sini!" keluh Bayu.
Akhtar hanya bergeming dan membuka pintu kamar kost, memang teman-temannya sudah tahu permasalahan yang ada.
Mereka merasa heran ketika melihat Akhtar tak membawa mobil saat datang ke rumah sakit padahal mobil tersebut adalah mobil kesayangannya.
"Enak banget di sini, ada AC-nya segala!" ucap Bayu melihat ruangan yang tak memiliki kamar. Hanya ada kamar mandi di dalam kost dan tempat tidur yang muat satu orang saja di dekat jendela kamar.
Mereka asyik berbicara dan saling melempar candaan sedangkan Akhtar terdiam dengan pandangan kosong.
'Mama Ayu kok bisa kenal sama Papa dan Mama, ya? Sebenarnya, apa yang terjadi. Siapa mereka dan apa yang pernah terjadi di masa lalu dengan mereka?' batin Akhtar mengusap keningnya.
Bambang yang menyadari bahwa Akhtar tengah melamun langsung menyenggol kedua temannya kemudian menunjuk ke arah Akhtar menggunakan bibir yang dimajukan.
"Woy, Tar! Lu kenapa? Kalo ada masalah tuh cerita ke kita-kita, dong!" tegur Ahmad menyenggol kaki Akhtar membuat laki-laki tersebut tersentak.
"Kalian lapar gak, sih? Beli makan sana!" titah Akhtar.
"Gass, lu mau apa?"
"Nasi padang ajalah."
"Jauh, harus ke Padang dulu dong gue nanti," kata Bambang si paling gercep soal makanan.
Akhtar menampilkan wajah datarnya dan menyerahkan uang seratus ribu kepada Bambang.
"Gue ikut, ya!" timpal Bayu.
"Yaudah, yuk!" ajak Bambang dan meraih kunci mobil Ahmad.
"Jangan lupa air minumnya!" teriak Akhtar dengan Bambang juga Bayu yang sudah berada di luar.
__ADS_1
"Iya!" sahut Bambang dan Bayu bersamaan.
Ahmad bangkit dan duduk di samping Akhtar, memang diantara mereka bertiga dirinya lebih dekat dengan Akhtar dibanding yang lainnya.
"Lu ada masalah apa Tar?" tanya Ahmad serius.
Akhtar melirik ke wajah Ahmad terlebih dahulu, kemudian dia memijat kembali keningnya serta menarik napas.
Dirinya mulai menceritakan satu per satu masalahnya pada Ahmad dengan jelas, memang kemarin ia sudah berbicara.
Akan tetapi, hanya membahas hal-hal pokok saja tak se-detail saat ini.
"Lu kenapa gak tanya sama asisten Papa lu? Pasti dia tau soal Papa lu 'kan?" tanya Ahmad mencoba mencari jawaban dari permasalahan Akhtar yang dia dengar.
"Gak mungkin Om Farhan mau ngasih tau, pasti Papa nyuruh Om Farhan buat tutup mulut. Orang keluarga Ayu juga menutup jejak digital mereka, kok."
"Sampe-sampe, video yang memperlihatkan Ayu menolong korban kecelakaan itu aja dihapus. Gak tau siapa yang nyuruh tapi pasti dari pihak Ayu."
"Lu tau dari mana?" tanya Ahmad menautkan alis.
"Cari aja kalo ada, udah dihapus di media sosial."
"Jadi, lu mau apa sekarang?"
"Gue mau nanya ke Mama, sih. Tapi, nanti aja. Gue masih nunggu waktu yang tepat buat nanya ke Mama. Soalnya Papa gue saat ini masih ada di rumah, jadi nanti susah urusannya."
Ahmad diam dan mengangguk mendengar keputusan Akhtar, bagaimana pun Akhtar memang belum bertanya soal apa sebenarnya yang terjadi di antara mereka di masa lampau.
"Lu suka sama Ayu, ya?" tanya Ahmad dengan tatapan penuh selidik.
Akhtar kaget dan menatap ke arah Ahmad dengan kening yang berkerut, "Ck! Lu apaan, sih? Kenapa larinya malah nanya begitu, coba?"
"Ya, menurut gue nih, ya," ucap Ahmad tersenyum dan menegakkan badannya, "lu itu sebanyak apa pun permasalahan di rumah gak akan pernah kabur. Bahkan, saat lu putus dari cewek lu yang ketauan selingkuh aja lu biasa aja. Giliran Ayu aja, lu sampe bela-belain keluar dari rumah."
"Gue gak kabur!" tegas Akhtar yang merasa terpojokkan.
"Ck! Iya, lu gak kabur tapi angkat kaki dari rumah. Kenapa? Lu suka sama Ayu?" tanya Ahmad menggoda Akhtar dengan menaik turunkan alisnya.
"Sotoy banget, sih lu!" ketus Akhtar membuang muka.
"Hahaha, santai Bro! Gue sahabat lu, ntar gue bantuin lu nyari tau hal ini baru ungkapin perasaan lu. Mau di mana? Gunung Salak, gunung merapi atau gunung apa nih tempat lamarannya?"
__ADS_1
"Apaan sih, lu! Kenapa larinya ke lamaran, dahlah! Gak jelas banget, lu!" ketus Akhtar dan bangkit berlalu menuju kamar mandi.
Sedangkan Ahmad yang melihat sikap salting dari Akhtar hanya tertawa, "Gak usah gengsi Bro kalo emang suka mah, daripada di sikat orang lain. Kayaknya, banyak yang ngincer dia tuh!" teriak Ahmad.
"Siapa?" celetuk Bambang yang baru masuk.
Ahmad kaget dengan suara Bambang yang tiba-tiba ada tanpa mengucapkan salam lebih dulu, "Dih, lu kebiasaan masuk kagak pake salam segala!" cibir Ahmad memegang dadanya.
"Dih, lu lebay banget. Gitu aja pake kaget segala!" ketus Bambang dan duduk di lantai tanpa alas.
Bayu akhirnya masuk dan menutup kembali pintu, menyerahkan kunci dan Ahmad mengikuti kedua temannya yang sudah lebih dulu duduk di lantai.
"Tar, beli karpet gitu ngapa, dah! Dingin amat woy, kayak sikap dia!" ujar Bambang sambil menyuap nasi.
"Sengaja, biar kalian gak nginep di sini!" ketus Akhtar dan bergabung dengan mereka.
"Dih, lu juga bisa-bisa setres kalo sendirian di sini!"
"Gak, dong! Orang banyak juga anak kampus kita kost di sini, kok," terang Akhtar.
"Iya?" tanya Bambang kaget dengan mulut penuh dengan nasi. Akhtar hanya menanggapi dengan anggukan saja.
"Eh, btw. Kapan, nih kita latihan basket lagi? Udah lama banget gak latihan, lho," timpal Bayu.
"Nanti aja deh, pas jadwal kuliah udah mulai lancar."
"Oke."
"Kita mau tanding sama kampus mana?" tanya Ahmad melihat ke arah wajah teman-temannya.
"Gak tau, sih. Tapi, apa salahnya latihan memang? Biar nambah skill juga."
"Gue ngikut aja sama kalian," timbrung Bambang.
"Kalian jam berapa pulang dari sini?" tanya Akhtar tiba-tiba.
Semua mata temannya kini menatap ke arah dirinya dengan tajam, "Ck! Kenapa liat gue kayak gitu?" tanya Akhtar.
"Lu ngusir kita?"
"Emangnya gue ada bilang ngusir kalian? Perasaan kalimat gue gak ada yang berbunyi 'ngusir' deh."
__ADS_1