Gara-Gara Sampah

Gara-Gara Sampah
Pergi!


__ADS_3

Hari yang cerah, meskipun sedikit berisik di koridor karena katanya ada korban kecelakaan yang dibawa ke sini.


Ayu sudah berada di kamar mandi rumah sakit, rencananya dirinya akan kuliah hari ini. Tidak akan lama, nanti Angga akan minta izin agar Ayu hanya mengisi absen saja.


Tentu saja, itu atas saran dan usulan juga rayu Angga. Ayu masih enggan berbicara layaknya dia yang dulu.


Ceklek ...!


Pintu terbuka, Ayu sudah keluar dengan pakaiannya dan siap menjadi mahasiswi baru.


"Kamu naik kursi roda aja, ya."


Ayu menggelengkan kepalanya, "Jalan aja."


"Gak usah, nanti kamu capek."


"Yang sakit tanganku."


"Iya, Sayang. Tapi--"


Belum sempat Angga menyambung kalimatnya, Ayu sudah berjalan dengan sedikit tertatih meninggalkan Angga.


"Sebentar-sebentar, oke-oke kalo emang gak mau pake kursi roda. Ayo, Papa bantu!"


Kata dokter, Ayu boleh dibawa ke psikolog jika Angga melihat perubahan yang besar pada Ayu. Namun, Ayu baru bisa keluar dari rumah sakit paling cepat besok.


Mobil membelah jalanan, Ayu melihat ke samping jendela jalan sedangkan Angga berada di samping pak supir.


"Kamu mau sarapan apa, Sayang?"


"Terserah."


"Bubur?" tanya Angga melihat ke arah Ayu melalui kaca spion.


Ayu hanya mengangguk dan tak menyahut lagi, beruntung Angga melihat ke arah spion jadi dia tahu apa jawaban Ayu.


Mereka berhenti di pedagang bubur di pinggiran jalan, mencari tempat duduk yang kosong lalu memilih duduk di situ.


Lumayan ramai pengunjung, beberapa orang menatap lekat ke arah Ayu bahkan sesekali ada yang berbisik.


Angga yang merasa risih menatap penampilan anaknya, sekilas tak ada yang salah. Mungkin, mereka melihat aneh ke arah Ayu karena wajah yang masih pucat dan tatapan yang kosong.


Hanya tiga suapan, Ayu bangkit dan berdiri ke arah mobil. Dia berhenti sebentar sebelum masuk ke mobil.

__ADS_1


Dilihatnya Ibu-ibu yang tadi bergosip tentangnya, "Jangan urusin urusan orang lain, kau juga punya kehidupan!" tegas Ayu dan masuk ke dalam mobil kembali.


Angga dan pak supir langsung menyudahi makannya dan membayar sarapan mereka kali ini.


Setelah itu, melanjutkan perjalanan ke kampus. Tak terlalu jauh, hanya perlu menempuh perjalanan 35 menit mereka telah sampai.


Ayu tak memakai tas atau membawa buku karena memang mereka akan langsung bertemu dengan staff di kampus.


Angga akan meminta izin untuk Ayu tak ikut latihan atau apa pun itu nanti sebagai mahasiswi baru.


"Kamu tunggu di sini dulu, ya. Papa akan masuk ke dalam," kata Angga dan masuk ke ruangan.


"Iya, Pa," kata Ayu dan duduk di bangku koridor.


Dirinya hanya menatap ke lantai bangunan ini, tangannya yang masih berbalut perban juga dilihatnya.


Kaki seseorang berhenti di dekat kakinya, Ayu langsung mendongak perlahan melihat orang tersebut.


"Eh, cewek sok paling pencinta alam. Tangan lu kenapa? Kenapa juga lu gak masuk ke kampus, eh, jangan bilang ke kampus dandanan lu kayak gini?"


"Menjaulah dari gue!" tekan Ayu dengan nada dingin dan tatapan tak suka pada Akhtar.


Akhtar yang mendengar kalimat itu langsung mengerutkan keningnya, ia tak paham dengan apa salahnya.


"Gue punya salah apa sama lu? Gue gak ada salah apa-apa," kata Akhtar menatap ke arah Ayu.


"Lu kenapa? Gue ada buat salah sama lu?" tanya Akhtar.


"Lepasin gue!"


"Gak, sebelum lu kasih tau gue salah apa!"


Ayu menghadap ke arah Akhtar dengan kebencian, bibirnya bergetar dan matanya sudah panas menahan emosi.


"PERGI DARI GUE! DAN JANGAN PERNAH ANGGAP GUE ADA! GUE BENCI KELUARGA LO TERMASUK AYAH LO! KARENA LO TAU APA?" tanya Ayu berteriak dan mendekat ke arah Akhtar.


"AYAH LO BERHASIL MEMBUAT GUE HAMPIR MATI!" sambung Ayu dan mendorong tubuh Akhtar dengan keras membuat tangan Akhtar terlepas dari lengan Ayu.


Beruntungnya, Akhtar tak terjatuh akibat dorongan tersebut. Ayu berbalik dan sudah ada Angga di ambang pintu kantor.


Tadinya, ia ingin memanggil Ayu agar menghadap staff yang ada. Namun, dirinya langsung berhenti kala melihat situasi antara anaknya juga Akhtar.


Angga melihat sekeliling, sebenarnya dirinya ingin bertanya lebih lanjut. Tapi, ia urungkan dan berjalan mendekat ke arah mereka.

__ADS_1


"Nak Akhtar, lebih baik ke kelasnya saja. Maaf kalo Ayu berbuat kasar tadi dan tolong jangan ganggu dia terlebih dahulu," ungkap Angga dan memapah tubuh Ayu agar masuk ke kantor.


Akhtar masih berdiam diri, ia menahan air mata dan menggelengkan kepala. Ketiga temannya ternyata sudah melihat Akhtar dari tadi.


Mereka menghampiri Akhtar yang sekarang duduk di bangku koridor, "Ada apa, Bro? Kenapa Ayu teriak-teriak kayak gitu sama lo?" tanya Ahmad.


"Gue juga gak tau, gue gak ada buat apa-apa sama dia."


Mereka saling pandang dan menatap ke arah Akhtar yang terlihat frustasi. Ia menjambak rambutnya dan pergi begitu saja.


"Pasti Papa yang buat Ayu seperti tadi, biasanya dia gak akan sebenci itu sama gue!" kata Akhtar berjalan dengan langkah tegapnya.


"Kalian liat Ayu, gak?" tanya Ningsih saat berpapasan dengan ketiga teman Akhtar, "gue udah nyari-nyari dan telpon dia tapi gak diangkat."


"Tadi di ruang staff, lo liat aja ke sana."


"Oh, thanks."


Ningsih berjalan ke arah staff, kebetulan ketika dirinya sampai ke ruangan Ayu dan Angga baru saja hendak keluar dari ruangan tersebut.


"Ayu, lo kenapa?" tanya Ningsih kaget melihat Ayu.


"Gak papa."


"Tangan lo kenapa? Terus, tas lo mana? Lo gak ke kampus hari ini?"


"Enggak nak Ningsih, besok juga Ayu akan cuti. Doakan lusa agar dia bisa masuk, ya," kata Angga ramah.


"Ayu kenapa Om? Kok tangannya di perban?"


"Cuma luka biasa, doain semoga dia cepat sembuh. Kalo gitu, Om dan Ayu pulang dulu, ya."


"Iya, Om. Nanti habis kuliah Ningsih langsung datang jenguk Ayu ke rumah."


"Ke rumah sakit Harapan, Nak. Bukan ke rumah."


"Ha?" tanya Ningsih kaget dan menutup mulutnya, "jangan bilang, lo nyayat urat nadi lo Yu?"


Angga hanya tersenyum melihat Ningsih menatap begitu takut ke arah Ayu.


"Ayo, Pa!" ajak Ayu.


"Kamu belajar yang rajin, ya, kami pulang dulu. Assalamualaikum," salam Angga dan pergi dari tempat itu.

__ADS_1


"Wa-waalaikumsalam," jawab Ningsih dan menatap punggung kedua orang yang mulai menjauh.


"Wah ... udah gak waras kali, ya, si Ayu? Sampe berani banget kayak gitu, ternyata kekayaan gak menjamin kebahagiaan, sih. Untung aja gue terlahir miskin, yang dipirkan cuma duit bukan ocehan manusia-manusia yang gak punya hati," ucap Ningsih dengan menggelengkan kepalanya dan pergi ke gedung jurusan dia.


__ADS_2