Gara-Gara Sampah

Gara-Gara Sampah
Tersangka Menjelaskan Tanpa Ditanya


__ADS_3

Angga yang mendengar ucapan putrinya itu langsung duduk dan menatap ke arah anaknya.


"Hey-hey, kamu apaan sih? Gak boleh bilang begitu, kamu fokus sama kuliah aja, ya. Maaf, Papa libatkan kamu. Besok-besok enggak lagi, deh," bujuk Angga memeluk tubuh Ayu, "kamu lelah pasti, pulang aja yuk!"


Angga menggengam tangan Ayu dan membawa Ayu keluar dari kantornya, ia menyuruh supir untuk langsung membawa Ayu pulang ke rumah.


***


"Diva? Apa Diva yang pernah jadi calon istrinya Riki, ya?" tanya Rahman--Papa Riki.


Rahman adalah seorang pengacara yang cukup terkenal, dirinya dan istri masih tinggal di Bandung.


Hanya sesekali dia harus keluar kota untuk bertemu dengan client penting salah satunya Angga seperti saat ini.


"Pak, mampir bentar nanti, ya," titah Rahman.


Sementara di kampus, Akhtar tengah merutuki kebodohannya yang malah mencegah Ayu tadi dan menyuruh wanita itu agar gak dekat dengan Haykal.


'Lu bodoh banget sih Tar! Ngapain juga tadi nahan si cewek sok paling itu.'


'Gak ada juga urusan lu sama dia, mau dia pacaran atau bahkan deket sama siapa pun itu bukan urusan lu!'


Akhtar menjambak rambutnya, permainan telah selesai dan hanya tersisa mereka berempat di lapangan basket.


Permainan di menangkan oleh tim Akhtar dengan skor 5-4 hanya berbeda satu angka saja.


"Tar, lu kenapa sih? Kok jadi aneh?" tanya Ahmad menyenggol bahu Akhtar.


"Gue mau pulang dulu, deh. Kayaknya kepala gue pusing banget ini," ujar Akhtar bangkit dan meninggalkan temannya.


Ia langsung masuk ke dalam mobil dan meninggalkan kampus juga teman-temannya yang masih heran dengan sikap Akhtar.


"Ada yang aneh sama tuh orang, kenapa dia, ya?" tanya Bambang.


"Masalah keluarga kayaknya," sahut Bayu.


"Bukan, masalah hati sih ini keknya," timpal Ahmad tersenyum.


Bayu dan Bambang saling pandang dan menatap ke arah Ahmad yang tengah tersenyum-senyum sendiri.


Sampai di halaman rumah, Akhtar mengerutkan kening saat melihat ada mobil asing di halaman rumahnya.


Ia segera berjalan setengah berlari masuk ke dalam rumah untuk melihat siapa yang datang.


"Assalamualaikum," salam Akhtar membuka pintu.


"Waalaikumsalam," jawab orang yang berada di dalam serempak.

__ADS_1


"Kakek?" tanya Akhtar berjalan mendekat.


"Wah ... cucu Kakek," jawab Rahman sumbringah.


"Ternyata beneran Kakek!" seru Akhtar dan berhambur ke pelukan Rahman.


"Kau ternyata sudah sangat besar Akhtar," kata Rahman menepuk-nepuk punggung Akhtar.


Akhtar melepaskan pelukan dan duduk tepat di samping Rahman, "Ya, masa Akhtar tetap kecil aja Kek."


"Hahaha, iya-iya."


"Kakek sama siapa ke sini? Mana Nenek?" tanya Akhtar melihat ke seluruh ruangan di rumahnya.


"Nenek tidak ada di sini, dia ada di Bandung. Kalian kenapa tidak pernah pulang ke Bandung lagi? Bukannya lagi cuti kuliah?" tanya Rahman menatap tajam ke arah Riki juga Caca.


"Mas Riki baru pulang Pa, baru aja kemarin malam. Masa udah diajak pergi ke Bandung," ucap Caca dengan tersenyum dan menatap ke arah Riki.


"Ya, biarin aja. Ngapain harus pergi sama dia, kamu gak tau jalan? Kalian gak tau, kami rindu sama cucu-cucu kami?"


"Kalau gitu, Papa bawa aja mereka berdua. Kami juga mau berduaan di rumah, gak papa kok," jawab Riki santai.


Caca menatap tajam dengan memukul paha Riki, bukannya takut atau kesakitan dirinya malah menggoda Caca menaik-turunkan alisnya.


"Haish, kau ini!" cibir Rahman mengalihkan pandangan dari Caca juga Riki yang duduk di depannya.


"Tidak, mmm ... Kakek ada urusan yang mau dibicarakan dengan Papa juga Mama. Palingan bentar lagi juga pulang."


"Shalat Dzuhur di sini aja dulu, ya, Pa. Makan siang di sini juga," timpal Caca.


"Baiklah kalau memang kau memaksa."


"Mama gak maksa Kakek, kok. Kan gak ada Mama bilang kata maksa," timbrung Leon yang dari tadi hanya diam menyimak pembicaraan orang dewasa.


"Eh, ada cucu Kakek juga ternyata di sini. Kenapa diam saja, Sayang? Sekalinya bicara Kakek rasanya ingin masukkan kamu ke karung," geram Rahman masih tersenyum hangat ke arah Leon.


"Masukkan ke karung baru lempar ke kandang singa, iya, gak Kek?" tanya Akhtar menyandarkan punggung tersenyum puas.


"Haha, apa kau punya dendam pada adikmu?" tanya Rahman menyenggol bahu Akhtar.


Caca sudah menampilkan tatapan tajam ke arah Akhtar karena berucap seperti itu, bisa-bisa Leon ngambek nantinya dan tak akan mau makan.


"Papa mau bicara soal apa?" tanya Riki serius.


"Mm ... kita bicara di ruang kerja kamu aja," papar Rahman melihat ke arah Akhtar juga Leon.


Riki mengangguk, Rahman berdiri dan berjalan lebih dulu diikuti oleh Riki di belakangnya.

__ADS_1


"Kamu cepetan beli makanan di luar, bawa Leon. Jangan lama, beli makanan yang dekat sini aja. Setelah selesai Mama, Papa dan Kakek ngobrol sudah harus ada makanannya!" tegas Caca seraya berbisik.


"Nih, duitnya!" Caca menyerahkan uang dua ratus ribu dan berlari masuk ke ruangan kerja milik Riki karena mereka berdua sudah masuk ke dalam.


"Lu mau ikut apa enggak?" tanya Akhtar yang sudah mengambil uang dari Caca tadi.


"Mau!" seru Leon turun dari sofa.


Mereka memilih untuk ke luar dengan menggunakan mobil membeli pesanan Caca di salah satu tempat makan langganan mereka.


"Ada apa Pa?" tanya Riki.


Kini, mereka sudah berada di sofa dalam ruang kerja Riki. Caca pun tak kalah tegang karena penasaran dengan apa yang akan Rahman sampaikan.


Rahman membuka tas kerjanya, mengambil berkas dan meletakkannya di meja sofa.


"Coba liat!" titah Rahman kepada Riki juga Caca.


Riki menautkan alis, mengambil berkas dan membukanya. Caca juga ikut melihat dengan menempel ke Riki.


'Ternyata benar dugaan aku, lantas kenapa Pak Angga tidak kenal sama sekali? Apa dia lupa karena kejadiannya sudah lama?' batin Caca mengerutkan dahi menatap dinding.


"Kenapa Caca?" tanya Rahman yang melihat Caca termenung.


"Ha? Mmm ... gak kenapa-kenapa, Pa," ujar Caca cengengesan.


"Terus, kenapa Pa?" tanya Riki meletakkan kembali berkas ke meja.


"Kamu gak ada hubungan lagi sama wanita ular itu 'kan?" tanya Rahman penuh selidik.


Caca tersentak, 'Iya, juga, ya. Kenapa aku gak introgasi Mas Riki, bisa jadi dia masih ada hubungan sama Nenek Lampir itu,' batin Caca menatap tajam ke arah Riki.


Riki yang merasa terpojok oleh Rahman melihat ke arah Caca, ia segera mengusap kasar wajahnya.


"Lihatlah akibat Papa, istriku jadi curiga sama aku," gerutu Riki memijit pelipisnya.


"Aku juga gak tau soal dia di Jakarta, karena setelah nikah dan pindah dari Bandung aku udah gak ada hubungan lagi sama dia," jelas Riki lagi menatap wajah Rahman dan Caca secara bergantian.


Hening dan dengan wajah yang sama, seperti tak ada kepercayaan di raut wajah kedua orang ini.


"Ck! Ngapain jadi liatin aku, sih? Aku gak ada hubungan apa-apa sama dia lagi, kok," geram Riki.


"Kalo gak ada hubungan ngapain harus jelasin dan emosi gitu?" tanya Caca menaikkan satu alisnya.


"Hanya pelaku yang mau menjelaskan padahal belum dituduh dan ditanya," timpal Rahman menyunggingkan bibirnya.


"Tau, ah! Bunuh aku bunuh sekalian!" geram Riki mencekik lehernya sendiri.

__ADS_1


Caca terkikik melihat tingkah Riki, ia memegang perutnya yang sakit akibat tawa yang pecah karena tingkah konyol suaminya itu.


__ADS_2