Gara-Gara Sampah

Gara-Gara Sampah
Cemburu


__ADS_3

Hari demi hari, bulan serta tahun akhirnya mulai terlewati dengan baik oleh Ayu. Dirinya tak lagi merasakan disiksa atau disakiti mental oleh Diva.


Diva juga sudah tak terlalu sering terlihat oleh dirinya. Hari ini, seluruh mahasiswa dan mahasiswi berkumpul di lapangan kampus.


Ada yang akan dibicarakan oleh salah satu dosen untuk mereka terkhusus mahasiswa/i tingkat akhir yang tengah ingin menyelesaikan skripsi.


"Pada hari ini, saya selaku salah satu dosen di kampus ini ingin memberitahukan bahwa akan ada perkemahan untuk semuanya yang ingin ikut!" jelas dosen yang berada di depan semuanya.


Teriakan pun langsung terdengar ricuh dari semua orang, ada yang langsung menggosip dan ada yang masih histeris.


"Apa mereka baru pertama kali kemah?" tanya Ningsih seraya berbisik.


"Suttt ... diam!" tegur Ayu dengan jari telunjuk di tempelkan di bibirnya.


"Diam semua! Tapi, kegiatan ini tidak dilakukan hari ini atau minggu ini. Akan tetapi, bulan depan di gunung Rinjani."


"Kalian juga tidak akan dibawa semua, akan ada tes dari salah satu dosen di kelas kalian masing-masing yang menyeleksi siapa saja yang pantas ikut dan diberi izin untuk ikut."


"Nantinya, di sana kita akan berbaur di salah satu sekolah yang ada di kota tersebut. Untuk mengedukasi mereka agar mencintai lingkungan dan menjaganya sebaik dan rapi mungkin."


"Saya harap, kalian semua ikut andil dalam kegiatan yang sangat jarang dan baru pertama kali dilakukan di kampus kita. Sekian pengumuman dari saya, kalian boleh melanjutkan kelas masing-masing!"


Semua mulai membubarkan diri dari barisannya tadi, Ayu dan Ningsih ingin ke kantin karena memang kelas mereka belum ada lagi.


"Akhtar, kamu ikut 'kan? Ikut dong, nanti biar ada yang jagain aku."


"Kalo ada team-nya, aku team kamu ya Akhtar."


"Aaa ... bisa satu tenda sama Akhtar."


"Akhtar, pokoknya aku gak mau jauh dari kamu!"


Serta berbagai macam ucapan wanita-wanita yang mengerumini Akhtar, ini bukan hal yang baru. Karena memang sudah biasa pemandangan semacam ini.


Tepat saat kejadian seperti itu, Ayu dan Ningsih lewat di hadapan Akhtar juga teman-temannya. Ningsih melihat ke arah Akhtar sedangkan Ayu hanya menatap lurus.


"Dih, kayak ganteng banget tuh orang! Padahal b aja juga," ketus Ningsih dan menatap ke arah lurus kembali.


Mereka mengayunkan kakinya menuju salah satu meja yang ada di kantin.


"Lu mau makan apa Yu?" tanya Ningsih yang masih berdiri sedangkan Ayu sudah memilih duduk.


"Mmm ... cilok aja deh gue."

__ADS_1


"Pedes?"


"Iya, pedes banget jangan dikasih kecap, ya."


"Oke."


Ningsih pergi ke meja tempat membeli makanannya sedangkan Ayu menautkan tangannya dan meletakkan di meja.


Ia juga sesekali membuat kepalanya di atas tumpukan tangan tersebut, tiba-tiba saja mood-nya hilang seolah terbawa angin.


'Dih, gue kenapa dah? Padahal tadi oke-oke aja, kenapa jadi gak mood gini? Mana rada kesel pula!' batin Ayu dan menegakkan kepalanya kembali.


"Ini Mbak, minumnya teh manis dingin dan ciloknya," ucap Ningsih menyerahkan semangkuk cilok yang sudah diberi saos.


Ayu langsung melahap cilok tersebut, Ningsih ikut duduk di depan Ayu dan menatap wajah wanita itu.


"Gak pedes, Yu?" tanya Ningsih menelan salivanya karena merasakan pedas yang dimakan Ayu tersebut.


Ayu hanya menggelengkan kepala dan menyapu keringat menggunakan punggung tangannya dengan pandangan tetap fokus ke arah cilok.


Tiba-tiba saja, ada tangan yang mengambil mangkuk milik Ayu tersebut membuat dia menatap dengan tajam dan keheranan.


"Dih, kenapa diambil cilok gue!" ketus Ayu menautkan alisnya.


"Ck! Emangnya kenapa? Bukan urusan lu juga!" Ayu memalingkan wajahnya ke lain arah.


"Minum!" titah orang tersebut.


"Apaan si lu Tar! Gak usah urusin hidup gue!" tegas Ayu dengan berdiri.


Akhtar malah memberikan mangkuk tersebut pada temannya dan menekan bahu Ayu agar duduk kembali.


Ia mengambil minuman Ayu yang ada di meja dan menyodorkan di depan mulut yang tertutup rapat.


"Apa perlu gue paksa?" ancam Akhtar dengan wajah datar.


Ayu mengambil gelas dengan kasar dari tangan Akhtar, "Gue bisa sendiri!" ketusnya.


Akhtar membuang napas dengan satu tarikan, menatap temannya yang berada di samping.


"Tolong belikan cilok dengan porsi yang sama, jangan terlalu banyak saosnya!" titah Akhtar menyerahkan uangnya pada Ahmad.


"Oke, jadi ini?" tanya Ahmad menunjukkan mangkuk yang masih dia pegang.

__ADS_1


"Buang aja ciloknya!"


"Oke!"


Ahmad pergi ke arah meja Ibu kantin dengan membawa cilok tadi, Ayu hanya mampu mendengus kesal menyaksikan apa yang terjadi.


"Lu sebagai teman bukannya melarang buat Ayu makan pedas malah dibiarin aja!" cibir Akhtar kali ini kepada Ningsih.


Ningsih langsung mendongak, "Ck! Dia juga makan pedes gara-gara lu, coba lu gak buat dia cemburu dengan fans-fans alay lu itu! Pasti dia gak akan lampiasin kekesalan dan cemburunya ke cilok tadi!" protes Ningsih yang tak terima disalahkan dengan wajah tanpa dosa.


Ayu membulatkan matanya saat mendengar jawaban Ningsih, sedangkan Ningsih yang tersadar dengan ucapannya langsung menelan salivanya dan menatap dengan cepat ke arah depan.


Kepalan dan mata yang menyipit seolah siap memakan Ningsih hidup-hidup langsung ditampilkan Ayu ketika sahabatnya itu melihat ke arahnya.


Akhtar menggigit bibir bawahnya dan menahan senyuman yang ingin terbit akibat mendengar ucapan dari Ningsih.


"Eh ... mmm, kayaknya gue pindah ke samping deh duduknya. Biar sama temen-temennya si Akhtar," kilah Ningsih dengan cengengesan membawa mangkuk serta es miliknya ke samping meja yang sedikit jauh dari Ayu.


Bambang dan Bayu akhirnya menemani Ningsih duduk di bangku tersbut. Akhtar menghela napasnya dan duduk di bangku milik Ningsih tadi.


"Apa yang Ningsih bilang tadi gak bener!" jelas Ayu dengan memalingkan wajah.


"Lah, Ningsih tadi emangnya bilang apa?" tanya Akhtar menggoda Ayu.


Ayu mencebik bibirnya dan menatap tajam, sedangkan Akhtar tak sama sekali merasa takut. Ia memasang wajah sok menggemaskan dan beberapa kali mengedipkan matanya ke arah Ayu.


Ahmad datang dan membawa cilok yang baru, bukan hanya satu mangkuk melainkan 5 mangkuk dengan Ayu tadi.


Tak lupa teh manis dingin tentunya, "Lah, gue gak mau," kata Akhtar mendongak melihat ke arah Ahmad.


"Udah makan aja, temenin si Ayu. Dia mana mau makan kalo lu gak makan!" ketus Ahmad dan berlalu dari meja mereka.


"Gue udah gak mau!"


"Lah, kenapa?"


"Gue mau yang tadi!"


Akhtar memajukan tubuhnya mendekat ke arah Ayu, sedangkan Ayu malah semakin menjauhkan tubuhnya.


"Lu 'kan seorang dokter nantinya. Masa, lu gak tau mana yang baik dan enggak buat di makan. Kalo emang cemburu, ungkapkan aja. Gak perlu malah nyakiti diri lu kayak gitu," ungkap Akhtar mengedipkan matanya sebelah ke arah Ayu lalu menjauhkan kembali badannya.


Ayu mengangkat sudut bibirnya ke atas, "Heh! Manusia paling gak tau terima kasih juga gak peduli sama alam. Ngapain juga gue harus cemburu sama lu? Lu emang siapa gue? Gak siapa-siapa, gak ada hal yang bisa membuat gue untuk cemburu terhadap lu!" ketus Ayu menatap Akhtar.

__ADS_1


__ADS_2