Gara-Gara Sampah

Gara-Gara Sampah
Sebenarnya ....


__ADS_3

Riki menepati janjinya pada Akhtar, dia benar-benar datang ke rumah Angga seorang diri tanpa ditemani siapapun.


Tentang alamat Angga, dirinya bisa dengan mudah mendapatkannya jika ia mau.


"Maaf, Pak. Nyari siapa, ya?" tanya Pak penjaga melihat Riki berjalan mendekat ke arah pagar.


"Pak Angganya ada?" tanya Riki menurunkan kacamatanya.


"Ada, Pak. Ada keperluan apa, ya?"


"Mm ... bilang saja, saya mau bicara sama dia."


"Baik, Pak. Dengan Bapak siapa?"


"Riki."


Pak penjaga langsung kembali ke pos untuk menelpon orang rumah mengabari bahwa ada tamu.


"Silahkan masuk, Pak," kata Pak penjaga membuka gerbang saat sudah selesai menelpon dan dapat izin dari Angga.


Riki mengangguk dan kembali masuk ke dalam mobilnya. Setelah berada di depan pintu rumah Angga, Riki memencet bell yang ada.


Ceklek ...!


"Silahkan masuk Pak," ujar Bibik ramah dan membukakan pintu.


Angga yang tengah duduk di sofa sambil berkutat dengan kerjaannya langsung menghentikan dan meletakkan laptop yang dipangku ke meja.


Ia menatap ke arah Riki dan berjalan mendekati laki-laki tersebut, raut wajah kaget terpancar dengan jelas.


"K-kamu," tunjuk Angga dengan terbata-bata ke arah Riki.


Riki tersenyum dan mengangguk, "Iya, ini saya."


"Mau apa kamu ke rumah saya? Kalo kamu mau bertemu dengan Diva bukan di sini tempatnya, dia tak ada di sini!" teriak Angga dengan emosi.


Suara teriakan Angga membuat Ayu yang tengah belajar di kamar langsung kaget, ia meletakkan pena yang di pegang dan segera keluar dari kamar.


"Ada apa Pa?" tanya Ayu dan melihat orang yang ada di sampingnya.

__ADS_1


"Om mau ngapain ke sini?" tanya Ayu menautkan alis.


"Ya, ampun. Seperti inikah cara kalian menyambut tamu yang datang jauh-jauh? Mana datangnya malam lagi, suruh duduk gitu atau apa," ujar Riki santai sambil melirik Bibik yang tengah berdiri di ambang dapur, "sediain minum."


Bibik yang tahu seolah tengah disindir langsung gelagapan, ia masuk ke dapur seraya menampilkan senyum kikuk.


Angga pun terdiam, benar juga. Ia bahkan langsung menyambut Riki dengan amarah tanpa memperdulikan di sini bahwa Riki adalah tamu.


Ia memberi izin Riki masuk karena berpikir bahwa Riki yang akan datang bukanlah orang yang sama dengan kejadian beberapa tahun silam.


Orang yang membawa dirinya ke ruang make up dan sempat menghajar tubuhnya akibat kekesalan Riki yang dijadikan kambing hitam akibat ulahnya.


"Om, lebih baik Om pulang deh. Ayu juga gak deket sama anak Om, Ayu gak ada hubungan apa-apa juga sama anak Om. Lebih baik Om pulang," usir Ayu yang masih kesal dengan kejadian waktu itu.


Bukannya merasa sakit hati atau tersindir, Riki malah berjalan santai ke arah sofa dan duduk di situ.


Angga dan Ayu hanya menatap kelakuan Riki saja, "Duduklah sini Tuan, agar aku memberi tahu apa maksud kedatanganku ke sini yang sudah pasti bukan ingin mengajakmu ribut," ajak Riki menepuk-nepuk sofa di sampingnya.


Mereka tak bergeming, tetap berdiri dan menatap Riki dengan tatapan aneh, "Ck! Apakah kalian tak capek?" tanya Riki kembali.


Angga menatap ke arah Ayu saat wanita tersebut pun tengah menatapnya, Angga mengangguk tanda agar mereka ikut duduk bersama dengan Riki.


"Maksudnya apa, ya, Om?" tanya Ayu mengerutkan dahi.


"Pertama, saya mau minta maaf kepada Tuan Angga atas kejadian puluhan tahun yang lalu. Saya seperti itu karena merasa kesal akibat saya dijadikan kambing hitam oleh Diva atas hubungan kalian tersebut," ujar Riki membuka pembicaraan dan membuat Angga juga Ayu mendengar dengan seksama.


"Dan juga, saya mau minta maaf ke Ayu karena kejadian tempo waktu yang bahkan saya tidak tahu bisa membuat Ayu sampai terluka sedemikian rupa."


"Di sini, saya juga mau menjelaskan beberapa hal yang mungkin tidak diketahui oleh tuan Angga tentang liciknya Diva."


"Ha? Maksud Tuan Riki, apa?" tanya Angga membuka suara.


"Ayu, bukan anak kandung tuan dan Diva," ungkap Riki menatap ke arah Ayu.


"Ha?" kaget mereka secara bersama-sama.


"Anda jangan mencoba untuk membuat saya dan Ayu berpisah!"


"Bukankah Diva sudah mengandung sebelum kalian menikah? Lantas, kenapa umur anak saya Akhtar jauh lebih tua dibanding Ayu? Ayu masih 19 tahun sedangkan Akhtar sudah 21 tahun."

__ADS_1


"Saya sudah mencari tau tentang Ayu juga Diva, ternyata Diva mengalami keguguran. Cuma, dia malu dan takut jika ketauan. Itu sebabnya dia mengadopsi anak dari salah satu panti asuhan dan itu adalah Ayu."


"Jadi, Ayu kamu tenang aja. Diva tak akan bisa mengambil kamu dari Angga lagi dan dia tak akan bisa mengancam kamu lagi sekarang. Karena, dia tak berhak atas dirimu."


Angga mencoba mengingat kejadian lagi, "Anak Anda? Siapa anak Anda?" tanya Angga yang memang belum mengenal anak Riki.


"Akhtar dan Leon, istri saya Caca."


Angga tampak terkejut saat mengetahui bahwa ternyata selama ini Akhtar adalah anak Riki, anak yang selalu membantu dirinya bahkan kadang menjaga Ayu.


"Ak--akh?" tanya Angga terbata-bata menatap Ayu.


"Iya, Pa. Akhtar yang satu kampus sama Ayu," timpal Ayu.


"Dari mana Om tau kalo Ayu bukan anak Papa dan Mama Diva?" tanya Ayu yang masih belum percaya.


"Kamu tinggal tes DNA biar kamu percaya, tes DNA saja lebih dulu dengan Papa kamu."


Ayu menatap Angga, memang dirinya tak ada kemiripan dengan Angga atau pun Diva sedikit pun kecuali sifat.


Karena, dirinya memang mengikuti bagaimana sifat dan sikap Angga. Dirinya menjadikan Angga sebagai patokan.


"Jadi, maksud Anda memberi tahu semua ini untuk apa?"


"Untuk Ayu, agar dirinya tidak terus-terusan di siksa dan di kekang dengan Diva dengan alibi bahwa Diva adalah Mamanya yang sudah melahirkan dirinya ke dunia ini dan untuk Anda agar Anda tidak terjebak lagi oleh wanita ular itu."


"Sebenarnya, saya sudah berjanji dengan Akhtar untuk bertemu dengan kalian sebulan yang lalu. Tapi, saya masih penasaran dengan Ayu. Kenapa kalian menutup kehidupan Ayu bahkan tidak memberi media izin untuk mengepost tentang Ayu."


"Karena, Diva tak memberi izin. Itu sebabnya saya hanya bisa mengikuti kata-katanya saja, daripada saya dan Ayu harus dipisahkan lebih baik saya menutup kehidupan Ayu dari media. Lagian, itu juga salah satu hal yang bagus. Ayu bisa santai dan hidupnya tak akan tertekan akibat rekan bisnis yang mungkin licik."


"Punten, permisi. Ini diminum dulu," potong Bibik sambil memberikan teh juga cemilan.


"Terima kasih," ucap Riki dan meminum teh yang tak terlalu panas itu.


Setelah lehernya disirami hampir setengah gelas habis tehnya, ia kembali menatap wajah Angga dan Ayu secara bergantia.


Ayu tampak menjadi murung dan menatap lantai, sedangkan Angga seolah tengah memikirkan apa yang baru saja dikatakan dan diungkap oleh Riki.


"Tenanglah Ayu, kau tak perlu sedih. Aku bahkan akan mendukung di urutan depan hubungan antara kau dan Akhtar ketika tau kau ternyata bukan anak dari wanita ular tersebut, hahaha," goda Riki dan membuat Ayu menatap kaget ke arah Riki.

__ADS_1


Semburat merah muncul akibat godaan dari calon mertuanya itu, eh! Maksudnya dari Riki tersebut, Angga yang mendengar kalimat itu hanya tertawa.


__ADS_2