
40 menit telah berlalu, cake sudah selesai. Ayu memotong-motong cake dan membiarkannya di meja makan.
"Bik, Ayu mau mandi dulu, ya. Papa juga paling keluar habis shalat magrib," jelas Ayu.
"Iya, Neng."
Ayu pergi setelah merasa semua selesai, ia kembali ke kamar untuk membersihkan tubuh yang sudah lengket dengan keringat.
***
"Ma, kita jadi ke mall nanti malam?" tanya Leon menatap Caca.
"Jadi, Sayang," jawab Caca lembut mengelus kepala Leon.
"Sebelum ke mall, kita main ke lumah Kakak cantik Ayu dulu, yuk!" ajak Leon memegang tangan Caca yang tengah duduk di sisi ranjang.
"Ngapain?" tanya Caca menaikkan satu alisnya.
"Bial Leon buktikan bahwa kami itu benelan pacalan, Ma," kata Leon yang masih beranggapan bahwa antara dirinya dan Ayu ada hubungan.
"Ya, Allah. Tapi, Mama gak tau di mana rumahnya. Kamu bujuk Abang Akhtar sana," titah Caca.
"Oke, Ma!" seru Leon dan langsung meninggalkan kamar Caca.
Caca hanya mampu menggelengkan kepalanya menatap tingkah laku Leon itu, apakah dia benar suka sama Ayu? Apakah dia tidak tahu bahwa usia mereka sangat berbeda.
Leon berlari menaiki anak tangga menuju kamar Akhtar, padahal tadi sore Caca sudah berkata bahwa Akhtar tak diajak.
Sekarang, giliran ada maunya mereka baru mengajak Akhtar pergi.
"Abang!"
"Abang!"
"Abang!"
Teriak Leon sambil mengetuk pintu dengan kedua tangannya, pintu kamar Akhtar terkunci itu sebabnya Leon harus berteriak.
Ceklek ...!
Pintu terbuka membuat Leon menghentikan aksinya, Akhtar menatap dengan tajam ke arah Leon.
"Apa lagi kali ini?" tanya Akhtar malas.
"Abang ...," rayu Leon menautkan kedua tangannya di hadapan Akhtar.
__ADS_1
"Kalo lu ngira itu imut, lu salah besar Singa! Lu gak ada imut-imutnya!" ungkap Akhtar yang membuat Leon menatap kesal ke arahnya.
"Abang, kata Mama nanti malam antalkan ke lumah Kakak cantik Ayu!" tegas Leon tak mau basa-basi.
Karena, percuma saja. Sepertinya Akhtar bukan orang yang gampang untuk dirayu dengan gaya. Eh!
"Buat apa?" tanya Akhtar menaikkan alisnya sebelah, "bukannya kalian mau ke mall?"
"Iya, singgah dulu ke situ. Mama mau ketemu sama Kakak cantik Ayu."
"Mama atau lu Singa?" selidik Akhtar yang tak percaya pada ucapan Leon.
"Mamalah!" terangnya membuang pandangan ke arah lain.
"Ck! Yaudah, habis shalat magrib kita ke sana. Gak mungkin datang ke sana jam segini, udah jam 6 sore juga."
"Yee ... oke, Bang. Telima kasih," seru Leon kembali ke bawah dengan berlari.
"Kok dia yang ngucapin terima kasih? Kan-kan bener! Bukan Mama yang mau ketemu sama tuh cewek, pasti dia!" cibir Akhtar bergeleng dan membuang napas kasar.
Ia kembali menutup pintu kamarnya agar bisa siap-siap untuk pergi ke rumah Ayu nanti malam.
Tepat pukul 7 malam, Ayu dan Leon sudah siap untuk pergi ke rumah Ayu tanpa mengabari wanita itu terlebih dahulu.
Bagaimana ingin mengabari, mereka saja bahkan tak memiliki nomor gadis tersebut. Akhtar mulai menuruni anak tangga dan menatap ke arah dua orang yang juga menatap dirinya.
"Ck! Ngapain juga cepat-cepat bertamu ke rumah orang," jawab Akhtar menahan kesal.
"Udah-udah, kalian ini. Ribut mulu tiap hari, bisa gak sih jangan ribut?" tanya Caca yang bosen mendengar perdebatan kedua anaknya ini.
Akhtar berada di samping Caca menatap sinis ke arah Leon, Leon pun sama ia tak peduli meskipun Akhtar lebih tua.
"Ini mau tetap diam atau pergi?" tanya Caca menatap ke arah Leon dan Akhtar secara bergantian.
"Jadi dong, Mama," jawab Leon cepat sembari bergelanjut manja di lengan Caca.
"Yaudah, ayo!" ajak Caca berjalan duluan diikuti Leon juga Akhtar.
"Dengel, ya, Bang. Kakak cantik Ayu cuma punya Leon, jangan deketin apalagi ajak bicala Kakak cantik Ayu nanti," ucap Leon menatap tajam ke arah Akhtar.
Akhtar yang mendapatkan ucapan juga tatapan itu hanya memutar bola mata malas, lebih baik diam daripada Caca marah ke dirinya.
Mereka masuk ke dalam mobil dengan Akhtar yang menjadi sopir dan Leon berada di sampingnya.
Keadaan sepi dan sunyi di dalam mobil, tak ada yang membuka suara. Leon bahkan hanya menatap ke arah luar jendela tanpa menoleh ke arah Akhtar.
__ADS_1
Sesampainya di depan gerbang rumah Ayu, Akhtar keluar sebentar untuk memberi tahu penjaga agar membuka gerbang.
"Bentar, ya, Nak. Bapak tanya dulu ke bos bapak," jawab Pak penjaga tersenyum sembari memencet nomor handphone.
Akhtar kembali ke dalam mobil, Pak penjaga akan langsung membuka gerbang jika di izinkan nantinya oleh bosnya.
"Kenapa Tar?" tanya Caca menatap ke arah Akhtar dengan alis tertaut.
"Gak papa, Ma," jawab Akhtar menatap ke arah Caca.
"Kalo gak papa, kenapa gak langsung dibuka gerbangnya?"
"Emang begitu Ma, Papanya tuh cewek gak ngasih orang masuk kecuali udah janji sama mereka atau anaknya lebih dulu."
"Wah ... sepertinya orang penting, ya, Papanya?"
Akhtar hanya menaikkan bahunya, Pak penjaga berjalan ke arah kaca mobil Akhtar. Akhtar membukanya.
"Gimana Pak?" tanya Akhtar tersenyum mencoba seramah mungkin.
"Silahkan masuk Nak, maaf nunggu lama, ya," jelasnya dan berlari membuka gerbang rumah Angga.
Caca tersenyum meskipun Pak penjaga tak melihat ke arahnya, dia menyukai sikap dari penjaga rumah ini.
'Pasti, Papanya Ayu orang yang baik. Sehingga memiliki pekerja yang baik juga,' batin Caca sambil menatap bangunan yang mereka masuki kawasannya.
***
"Sayang, ada temen kamu yang mau datang ke sini," ucap Angga berjalan kembali ke ruang makan.
Mereka tengah menikmati makan malam, bahkan cake buatan Ayu belum mereka makan karena rencananya akan makan cake sambil menonton televisi nantinya.
Ayu menautkan alisnya, "Siapa?" tanya Ayu yang merasa bahwa tak mungkin jika temannya tak mengabari dirinya terlebih dulu.
"Itu, yang tadi sore main ke sini," jawab Angga duduk sambil minum.
"Bik, tolong bukakan pintu, ya," titah Angga menatap ke arah pembantunya.
"Siap, Pak!" Pembantu rumahnya langsung berjalan meninggalkan makanannya di meja yang masih ada sisa.
Ayu, Angga dan pembantunya makan di meja yang sama. Tak ada kata bahwa pembantu harus makan di lantai dalam keluarga Angga.
"Siapkan teh dan buat cake kamu di nampan, ya, Sayang. Papa mau ke depan lebih dulu," ujar Angga mengusap bahu Ayu terlebih dahulu sebelum pergi.
Ayu hanya mengangguk dan mengakhiri makanannya karena telah habis, ia minum terlebih dahulu baru bangkit mencari nampan di tempatnya.
__ADS_1
Ia tata cake juga gelas berisi teh anget buatannya, jika tehnya panas sama saja artinya membuat tamu tak jadi meminum tehnya.