
Akhtar berjalan mendekat ke arah yang dia tatap begitu lekat, seseorang yang tak asing di mata juga dalam kehidupannya.
Tak dipedulikan lagi keluarga dan barang, ia berjalan begitu saja menatap lurus orang yang ada di depan.
Hingga akhirnya, tepat di depan wanita yang tersenyum tipis di hadapannya dengan wajah yang lumayan masih pucat.
Suara Akhtar tercegat, bibirnya ingin mengeluarkan suara tapi begitu susah. Matanya berbinar dan tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"A-ayu?" gagap Akhtar dengan lirih. Sedangkan nama yang disebut hanya mengangguk dengan tangan dibuat di punggung tubuhnya.
Akhtar merasa tak percaya, ia menatap ke arah belakang yang sudah ada keluarganya juga Ningsih dan Angga dengan senyuman bahagia.
"K-kamu udah sembuh, Yu?"
"Hahaha, lu kenapa cengeng banget dah? Ngapain pake mau nangis segala?" tanya Ayu mencoba mencairkan suasana dengan terkekeh pelan.
Akhtar tiba-tiba maju dan memeluk Ayu begitu saja, Ayu refleks membulatkan mata kala Akhtar memeluknya begitu erat.
Ayu mendorong Akhtar dari tubuhnya, "Ma-maaf, maafin gue. Gue gak sengaja," gelagap Akhtar merasa bersalah karena dengan lancang memeluk Ayu begitu saja.
"Gak papa!" jawab Ayu singkat dan memalingkan wajah.
"Lu kenapa bisa di sini? Bukannya tadi pagi masih di rumah sakit?" tanya Akhtar yang mulai kepo dengan kenapa bisa Ayu sudah ada di hadapannya.
"Lu, enak bener main peluk-peluk temen gue! Halalin dulu kek baru peluk!" ketus Ningsih yang sudah ada di samping Akhtar dengan memukul bahu pria tersebut pelan.
"Ya, maaf. Gue refleks," kikuk Akhtar menggaruk tengkuk yang tak gatal.
"Ayu memang sudah sadar kemarin malam pas kamu pulang dari rumah sakit, Tar," jelas Angga yang berdiri di samping Ayu menatap hangat ke arah putrinya.
__ADS_1
"Kenapa Om gak ngasih tau Akhtar? Kenapa semua orang gak ada ngasih tau?" tanya Akhtar menatap satu per satu wajah orang yang ada di dekatnya.
"Kan, biar surprise!" seru Caca dengan mengepal kedua tangannya mengangkat ke atas.
"Udah bisa fokus dong kuliahnya?" celetuk Riki yang membuat Akhtar menatap ke arahnya. Akhtar mengalihkan pandangan menatap ke arah Ayu.
Sedangkan yang merasa di tatap memilih untuk menunduk, "Boleh Akhtar bicara berdua dengan Ayu?" tanya Akhtar meminta izin pada Angga.
Tak lama, anggukan diberikan Angga kepada Akhtar, "Tapi, jangan lu macem-macemin temen gue!" potong Ningsih menatap sinis ke arah Akhtar.
"Yu, yang lemah tubuh lu. Suara lu kagak, kalo di peluk-peluk sama nih orang lagi lu! Teriak aja yang kuat," sambung Ningsih dengan wajah serius menatap Ayu seolah sama sekali tak malu dengan orang tua Akhtar.
"Hahaha, siap Komandan!" kata Ayu sambil hormat ke arah Ningsih.
Mungkin, karena kejadian itu. Ningsih jadi trauma dan takut jika terjadi apa-apa lagi dengan Ayu, ia akan sangat khawatir dengan wanita itu.
Tak memperdulikan suasana jalanan yang lumayan sepi dan hari ini dirinya berhubung tidak ada jadwal kuliah bisa datang ke rumah sakit dan menemani Ayu di bandara.
Ayu dan Akhtar sudah lumayan jauh dari keluarga mereka yang tengah duduk di bangku penumpang.
"Yu, gue gak tau gimana bisa. Ini kejutan yang luar biasa dari Allah buat gue karena lu bisa datang ke sini untuk mengantar gue buat pergi."
"Yu ... gue belum dapat jawaban dari pertanyaan gue waktu itu. Cukup lama gue nunggu jawaban itu dan hari ini, gue nagih jawaban tersebut dari lu," jelas Akhtar dengan menatap lekat ke arah Ayu.
"Kenapa masih nunggu? Padahal, lu punya waktu yang banyak untuk bisa mencari wanita lain yang sudah jelas-jelas akan menerima lu," papar Ayu dengan wajah datar menatap ke arah Akhtar.
"Ya, lu bener," ucap Akhtar berjalan sedikit menjauh ke Akhtar, "gue bisa nyari wanita lain yang sudah pasti akan nerima gue dan pergi ninggalin lu waktu itu." Akhtar menatap Ayu yang juga tengah menatap laki-laki tersebut.
"Namun, apakah hati gue bisa buat wanita itu? Buat apa gue punya hubungan dengan wanita lain tanpa cinta? Artinya gue laki-laki brengsek menjalin hubungan yang hanya sebatas pelarian, menjadikan wanita lain pelampiasan karena lu yang belum tentu akan nerima cinta gue. Tapi, gue bukan begitu orangnya Yu. Gue lebih baik menikmati rasa sakit sendiri tanpa mencari pelampiasan, ketika gue sudah ngerasa siap dan sembuh dari luka. Baru, gua akan membuka untuk wanita yang lainnya," jelas Akhtar panjang lebar membuat Ayu terdiam.
__ADS_1
Ayu menghela napas, mencoba untuk mencairkan suasana yang terasa canggung akibat berdua.
"Jadi, gimana? Gue harus nunggu lagi atau lu nolak gue?" tanya Akhtar tanpa basa-basi menatap lekat Ayu.
"Tar, gue baru bangun lho! Lu mah langsung nanya ke situ aja!" ketus Ayu mencebik dan bersedekap dada.
Pengumuman bahwa pesawat yang akan Akhtar tumpangi sebentar lagi berangkat membuat Ayu dan Akhtar akhirnya saling pandang.
"Yaudah, kalo lu emang belum siap gak papa. Ketika gue di sana, lu boleh dengan laki-laki lain dan ketika gue di sana gue boleh dengan wanita lain. Kita hidup seperti layaknya orang yang gak kenal aja kembali, seperti dulu, ya," potong Akhtar tersenyum, "yaudah, yuk! Gabung balik sama mereka!" Akhtar mengangguk dan tersenyum ke arah Ayu.
"Nyerah?" tanya Ayu membuat Akhtar berhenti dan menatap ke belakang kembali.
Akhtar tersenyum dan mengangguk, "Lebih ke sadar diri, gue sayang dan cinta sama lu. Tapi, bukan berarti gue harus bego hanya karena hal itu. Gue gak bisa paksa lu yang gak suka sama gue, yaudah, yuk!" ajak Akhtar balik dan berjalan menuju ke keluarga yang sudah berdiri dari tempat duduknya.
Ayu memajukan bibirnya menatap Akhtar yang lagi-lagi berjalan meninggalkan dirinya, ia melangkah dengan menghentakkan kaki.
"Akhtar!" pekik Ayu dengan wajah marah.
"Akhtar!" teriaknya lagi dan membuat Akhtar akhirnya menatap ke arahnya kembali.
"Gue gak tau harus jawab apa! Gue lupa lu dulu nanyanya gimana dan apa yang harus gue jawab!" omel Ayu bersedekap dada dan memalingkan wajahnya.
Mereka sudah tak terlalu jauh jaraknya dengan keluarga, senyuman tertampil di wajah mereka yang mendengar omelan Ayu.
Akhtar berjalan mendekat ke arah Ayu dengan mata yang berbinar seolah sedang diberi harap, padahal Ayu hanya bertanya apa yang ditanya Akhtar.
"Apakah harus gue ulangi?" tanya Akhtar membuat Ayu menatap ke arahnya. Tanpa menunggu persetujuan Akhtar jongkok dengan kepala menatap lekat ke arah Ayu.
Ayu membulatkan mata melihat apa yang dilakukan oleh Akhtar, "Tar, bangun ih! Malu diliatin orang-orang!" bisik Ayu menatap sekitar yang melihat ke arah mereka.
__ADS_1