Gara-Gara Sampah

Gara-Gara Sampah
Firasat


__ADS_3

Jam telah menunjukkan pukul 7 malam, Ayu keluar dari kamar untuk makan malam. Tak ada terdengar suara Angga. Mungkin dia tengah salat di luar.


"Bibik temenin, Neng?" tanya Bibik yang sudah manata makanan.


"Bibik mau ikut makan juga?" tanya Ayu dan duduk di bangku.


"Enggak, Bibik udah makan tadi."


"Yaudah, gak usah Bik. Ayu gak papa makan sendiri, kok," jelas Ayu tersenyum dengan mengangguk, "lagian, Bibik juga pasti capek 'kan? Udah, istirahat aja."


Akhirnya, Bibik pun hanya mengikuti ucapan Ayu. Dia memilih untuk kembali ke kamar beristirahat dan membiarkan Ayu makan sendirian.


"Assalamualaikum!" salam seseorang dan masuk ke dalam rumah.


"Waalaikumsalam, Pa," jawab Ayu sambil mengambil nasi juga lauk-pauk ke piringnya.


"Kamu makan sendirian, Sayang?" tanya Angga dengan suara yang masih merasa tak enak.


"Haha, Papa kenapa? Kok suaranya bergetar gitu? Gak perlu takut, Pa. Duduk-duduk!" titah Ayu menunjuk ke kursi yang kosong dengan mulut mengunyah makanan.


Angga mengikuti saran Ayu, dia duduk dengan menghela napas terlebih dahulu agar bisa menjawab dengan baik segala pertanyaan Ayu nantinya.


Dirinya bahkan sengaja melakukan kewajiban di Masjid, walaupun memang kewajiban seorang laki-laki adalah salat di Masjid atau Musala.


Karena, ingin menguatkan hatinya agar bisa sabar dan tak deg-degan menjawab pertanyaan dari Ayu nanti.


"Kalau Ayu tanya 'Papa udah makan?' kayaknya gak logis, deh. Soalnya pasti udah 'kan?" tanya Ayu terkekeh, "tapi, kalo mau makan lagi gak papa kok Pa."

__ADS_1


"Enggak, Yu. Soal itu, Papa minta maaf, ya, sama kamu. Papa gak jujur kalau Papa udah punya kekasih, Papa takut kamu akan marah atau benci nantinya sama Papa kalo tau Papa akan menikah lagi," jelas Angga menatap sendu ke arah Ayu.


Ayu meletakkan sendok yang ada di tangannya, di teguk air putih terlebih dahulu dan menopang dagu.


"Pa, Ayu gak akan pernah marah. Lagian, ngapin Ayu harus marah untuk kebahagian Papa? Papa ... Ayu akan selalu dukung Papa jika itu bisa membuat Papa bahagia," papar Ayu dengan senyuman tulus yang tertampil di wajahnya.


"Kamu gak marah, Sayang?"


Ayu menggeleng dengan cepat, "Ngapain Ayu harus marah, Pa?" tanya Ayu menaikkan satu alisnya.


"Boleh Papa bawa dia ke sini untuk bertemu dengan kamu? Bukan sekarang, mungkin minggu depan."


"Kalau Papa udah yakin sama calon Mama Ayu, maka nikahi dia minggu depan!" tegas Ayu dan berdiri, "Ayu masuk ke kamar dulu, Pa. Selamat malam, Pa."


Ayu pergi meninggalkan Angga yang masih menatap punggung Ayu yang semakin menjauh, dia memijit pelipisnya, "Ini, dikasih izin atau enggak, sih?" gumam Angga yang merasa bingung.


Pintu dikunci Ayu, tubuhnya merosot ke lantai dengan punggung menempel di pintu. Ia manangis lagi dan lagi disebabkan sesuatu yang terjadi begitu tiba-tiba dihidupnya.


***


Satu per satu anak tangga dinaiki Caca, dia berjalan ke lantai dua tempat di mana Akhtar biasanya akan beristirahat, bermain, latihan musik dan lainnya.


Ceklek ...!


Pintu dibuka oleh Caca, seketika air mata yang sudah ditahan langsung turun tanpa aba-aba. Kamar yang rapi karena Akhtar tahu dirinya akan lama meninggalkan kamar tersebut akibat ingin kuliah di Jepang.


"Nah, udah rapi. Nanti, kalo ada tamu yang datang boleh kok Ma masuk ke kamar Akhtar atau tidur. Tapi, jangan kasih izin buka laci-laci Akhtar, ya," pesan Akhtar sebelum pergi ke bandara waktu itu.

__ADS_1


Caca masuk ke dalam kamar dengan pintu yang sengaja dibuka lebar, dengan langkah gontai dirinya duduk di kasur milik Akhtar.


"Tar ... hiks ... mau bagaimana pun keadaan kamu kami akan terima, Sayang. Cepatlah ketemu, Mama Sayang sama Akhtar," lirih Caca mengusap kasur Akhtar.


Dirinya menghapus air mata dan menatap laci milik Akhtar, laci yang diberi amanah oleh Akhtar agar orang lain tak boleh membukanya.


Ia berjalan menuju laci tersebut, dibuka Caca laci dan menatap begitu banyak kertas juga foto di dalamnya.


[Hay, Ayu. Lu tau, ini hari tepat seminggu lu koma. Lu tau gak? Gue hampir lakuin hal gila sebab lu, ini gue yang gila atau lu, sih? Lu mampu buat gue sampe lakuin hal nekat kayak gitu. Gue sampe di tampar Papa, lho. Pokoknya nanti kalo lu bangun, lu harus tanggung jawab. Sakit lho ini, udah segini aja untuk cerita hari ini. Love you, cepat bangun wanita kuat!]


Dan banyak lagi tulisan Akhtar tentang Ayu yang dia tuliskan ke surat-surat tersebut, hingga rasa sesak kembali memenuhi Caca saat membaca kertas terakhir.


[Hari ini, gue akan ke Jepang. Sesuai keinginan gue, alhamdulillah. Gue seneng? Lumayan, seharusnya gue seneng banget 'kan? Tapi, entah kenapa perasaan gue gak enak meninggalkan orang-orang di sini. Bahkan, beberapa kali gue mau bilang ke Mama dan Papa agar batalin kuliah dan keberangkatan gue. Namun, gue gak mungkin bego bagaimana pun biaya kuliah sudah dibayar dan pendaftarannya gak sedikit. Juga, mereka pasti akan berpikir gue batalin kuliah karena Ayu. Ayu pun pasti akan nyuruh gue buat ke sono, jadi, yaudah deh. Gue mau, gue kembali dan merobek kertas ini suatu saat nanti. Gue mau mencaci diri sendiri yang sempat berpikiran terlalu berlebihan atas sesuatunya. Padahal, yang tau tentang hari ini, besok dan seterusnya cuma Allah bukan perasaan gak jelas gini wkwwk]


"Akhtar!" teriak Caca histeris, ia menutup mulutnya.


"Caca kenapa Riki?" tanya Milda panik. Riki yang berada di ruang tamu langsung berlari ke atas untuk melihat Caca.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Riki yang sudah membawa Caca ke dalam pelukannya. Caca sudah berada di bawah bangku dengan tangisan yang membanjiri wajah.


"Mas ... Akhtar!" Caca memberikan kertas dengan tangan yang bergetar hebat.


Riki melepas pelukan dan melihat isi dari tulisan Akhtar yang sudah memiliki perasaan buruk tentang kepergiannya ini.


"Sayang, sudah tenang. Jangan seperti ini terus, kamu gak kesian sama Akhtar? Besok, ada lagi korban pesawat yang dibawa ke bandara. Kita liat sama-sama, ya. Jangan seperti ini, berdoalah agar diberi keikhlasan sama Allah dalam menerima takdirnya!" tegas Riki kembali membawa Caca ke dalam pelukannya.


Ia mengecup pucuk kepala Caca dengan tubuh yang sudah bergetar hebat, hanya ini yang mampu Riki lakukan.

__ADS_1


Kalau dibilang hancur, dia pun sangat hancur ketika mendengar kabar seperti itu. Namun, apa yang harus dia lakukan selain hanya bisa pasrah?


Anak buahnya sudah dia tugaskan, tapi tetap saja tak mendapatkan informasi soal keberadaan Akhtar.


__ADS_2