Gara-Gara Sampah

Gara-Gara Sampah
Bayangan


__ADS_3

Hari yang di nanti Angga telah tiba, Ayu datang ke pernikahan Angga bersama Ningsih karena Mama Diva tak ingin ikut dengannya.


Ayu ditemani dengan Ningsih datang ke pernikahannya, pernikahannya pun cukup sederhana mengingat Angga yang sudah bukan lajang lagi.


"Bukannya seharusnya lu datang pagi, ya? Kan yang nikah Papa lu," kata Ningsih dengan mereka yang sudah berada di dalam mobil.


"Ya, emang gue disuruh datang pagi, sih. Tapi, gue males. Biarin aja, lagian ternyata Tante itu udah punya anak dan anaknya ada 3 semua cewek. Jadi, lebih baik mereka aja yang temenin Papa," jelas Ayu tersenyum getir.


Mereka telah sampai di depan rumah Angga, acara memang dibuat dikediaman Angga. Ayu turun bersama dengan Ningsih.


"Pak, tunggu bentar, ya," titah Ayu sambil menatap ke arah supir.


"Baik, Non. Saya ke parkiran, ya."


"Oke, Pak!"


Ayu hanya membawa paper bag sebagai hadiah untuk pernikahan Angga dan istri barunya itu, ya, wanita itu sudah sah menjadi istri Angga.


Acara akad dilaksanakan tadi pagi jam 10 sedangkan sekarang sudah jam 4 sore, Ayu sengaja jam segini perginya sekalian ingin jalan-jalan katanya.


Begitu masuk ke acara, banyak pasang mata menatap ke arah mereka. Bahkan, rekan bisnis Angga juga menatap ke arahnya.


Mereka pasti heran, kenapa bisa Ayu datang seolah sebagai tamu bukannya anak yang menemani Papanya.


"Yu, orang-orang pada natap ke arah kita," bisik Ningsih yang canggung.


"Udah, santai aja," kata Ayu dengan berbisik juga menatap lurus dengan senyuman dan penampilan yang anggun.


Ayu menaiki anak tangga untuk sampai di singgasana ratu dan raja sehari ini, anak-anak wanita yang sudah menjadi istri Angga menatap ke arah Ayu dengan tak suka.


Angga merentangkan tangan dan langsung memeluk Ayu, Ayu tersenyum dan menahan sebisa mungkin agar air matanya tak menetes.


Dilepas Ayu pelukan dan menatap ke arah Angga, "Selamat, ya, Pa. Semoga bahagia dan selalu dilindungi oleh Allah," ujar Ayu tulus.


"Kamu kenapa datangnya sebagai tamu? Bukankah Papa sudah menyuruhmu datang pagi? Dan kenapa bajumu malah seperti ini? Papa sudah mengantarkan baju yang sama dengan anak-anak Papa yang lainnya!"


Ayu melirik sekilas ke arah anak-anak sambung Angga, dirinya hanya ingin melihat model baju yang dimaksud oleh Angga.

__ADS_1


"Ayu gak suka yang ribet Pa, Ayu lebih suka yang polos biasa saja tapi elegan. Gak perlu banyak manik kayak gitu, kesannya malah norak," jelas Ayu dengan kekehan yang malah disambut dengan tawa oleh Ningsih.


Ayu melotot ke arah Ningsih yang malah ikut tertawa juga, sedangkan wanita di samping Angga tampak tak suka dengan penuturan Ayu barusan.


"Ini kado buat Papa, oh, ya, Ayu juga sebentar soalnya kami ada acara lainnya sama Ningsih. Iya 'kan Ningsih?" tanya Ayu menatap ke arah Ningsih yang kaget tiba-tiba ditanya seperti itu.


"Ha? I-iya, Om. Kita ada acara lainnya nanti," gagap Ningsih tersenyum kikuk ke arah Angga.


"Apakah kau menjaga jarak sekarang dengan Papa?" tanya Angga lirih menatap ke arah Ayu.


Ayu tertegun melihat ekspresi Angga, dilihat ke arah belakang dan samping Ningsih. Banyak orang yang sudah mengantri ingin bersalaman juga dengan mereka.


Direntangkan tangan sekali lagi, "Selamat, ya, Pa untuk pernikahannya!" Ayu memberi selamat sekali lagi dan berpindah ke wanita yang di samping Angga.


"Ini buat Tante, selamat ya," kata Ayu memberi paper bag tanpa memeluk wanita itu terlebih dahulu.


Setelah selesai acara salaman, Ayu dan Ningsih langsung turun dan berjalan ke luar tanpa berfoto lebih dulu.


Sebelum benar-benar menghilang dari tempat, Ayu berhenti dan menatap ke arah belakang. Ia sedikit menatap sendu ke arah Angga dan ternyata laki-laki itu juga menatap ke arahnya.


Sebuah senyuman diberikan Ayu tanda perpisahan mungkin untuk selamanya, karena pasti Angga akan sibuk dengan keluarga barunya sekarang.


"Enggak, siapa juga yang nangis? Gue gak nangis, kok," terang Ayu menghapus air mata di pipinya.


"Lah, itu? Apaan kalo gak nangis?" tanya Ningsih yang berniat ingin menghibur Ayu.


"Aer liur ini mah!" ketus Ayu berjalan dengan cepat mendahului Ningsih.


Ningsih hanya terkekeh melihat kelakuan wanita itu, "Lu kuat banget sih Yu, gue kira jadi orang kaya itu enak banget. Ternyata gue salah, orang kayalah ujiannya paling banyak gue liat. Belum lagi nanti di hari akhir dipertanyakan tuh harta dari mana dan buat apanya. Huh ... syukur aja gue miskin," gumam Ningsih dengan menggelengkan kepalanya.


***


Karena tak sempat makan di tempat Angga tadi, mereka berdua sekarang tengah makan di pinggir jalan dekat taman.


Makan bakso di tempat yang lumayan ramai mereka lihat, "Lu kapan nikah?" tanya Ayu tiba-tiba melirik ke arah Ningsih.


"Bentar lagilah, 'kan kita juga bentar lagi lulusnya." Ayu mengangguk dan menatap ke arah taman.

__ADS_1


Suara tawa dan berlari-lari menjadi penghias di taman itu, "Lu?" tanya Ningsih dan membuat Ayu menatap ke arahnya.


Ayu menaikkan bahu acuh, "Gak tau," kata Ayu singkat.


"Tapi, akan nikah 'kan?"


"Ya, kalo jodohnya udah ada mah pasti nikah. Kalo gak ada, ya, gak nikah."


"Pasti ada, lu cantik, baik. Gak mungkin gak ada, pasti ada itu!"


"Hahaha, sotoy banget dah lu!"


"Eh, bukan sotoy. Emang itu kenyataannya, masa cowok pada gak mau sama cewek yang bukan cuma cantik tapi juga baik, sih?"


"Udah, apaan jadi larinya ke gue!"


"Mm ... btw, lu pernah didatangi Akhtar gak di dalam mimpi?"


Ayu terdiam sebentar dan menopang dagunya menggunakan tangan, Ayu tersenyum tipis dan mengangguk.


"Kapan?"


"Setelah gue pulang dari rumah Tante Caca."


"Lu pernah datang?"


"Iya, waktu itu disuruh buat ke kamar Akhtar juga."


"Gimana kamarnya?"


"Bagus, kayak orangnya," jelas Ayu tersenyum dengan manis ke arah Ningsih dan mengalihkan pandangan ke arah taman kembali.


Di taman ada seseorang berdiri, Ayu menyipitkan mata melihat ke arah orang tersebut. Tangan yang melambai membuat dia menampilkan senyuman.


'Bahagialah di sana Tar, tak perlu lagi khawatir dengan gue. Tugas lu udah selesai buat menjaga gue,' batin Ayu membalas lambaian ke arah yang sama.


Sepersekian detik, bayangan tersebut menghilang.

__ADS_1


"Yu! Lu kenapa?" tegur Ningsih memukul bahu Ayu dan membuat wanita itu tersadar. Ia dengan cepat menghapus air matanya dan tersenyum ke arah Ningsih.


Ayu hanya memberikan gelengan kepada Ningsih sebagai jawaban, sedangkan Ningsih yang melihat apa yang Ayu lakukan tadi menautkan alis menatap ke arah taman. Tak ada siapa-siapa dan apa pun itu kecuali anak kecil yang sudah pasti tak dikenal oleh mereka.


__ADS_2