
POV Ayu
Aku, Ayu Puspita Sari atau kerab dipanggil Ayu. Lahir dari keluarga yang broken home, hahaha. Namun, tenang bukan berarti aku akan menjadi anak yang nakal.
Pun tak semua anak korban broken home akan nakal, kok. Sudut pandang orang-orang saja yang terlalu rendah menilai setiap anak korban broken home.
Semenjak dilahirkan ke dunia, aku tak disambut dengan tawa bahagia atau tangis haru. Aku tak pernah tahu bagaimana dekapan seorang Nenek dan Kakek.
Bukan mereka tak ada lagi di alam semesta ini. Namun, mereka menjaga jarak kepadaku tak kalah dengan Mamaku. Dia bahkan enggan kupanggil Mama.
Berbeda dengan Papa, dia benar-benar sosok cinta pertama bagiku. Jika tak ada dia? Mungkin, aku tak sampai di usiaku sekarang yang masih muda, sih 19 tahun.
Akan tetapi, aku bersyukur masih ada Papa. Kalau tidak? Aku mungkin tak tahu cara tersenyum, tertawa dan mendapatkan cinta.
Kupilih hobi mendaki, tempat yang terkadang sepi juga ramai jika hari libur panjang. Di situ, aku bisa teriak dengan kencang.
Di saat menanjak, aku bisa sambil menangis mengingat perlakuan buruk orang-orang dan jika ada yang nanya aku kenapa. Aku akan jawab, "Aku capek."
Padahal, aku capek bukan karena menanjak. Namun, aku capek dengan hidupku yang tengah kujalani.
Sekarang, aku mulai masuk ke pendidikan lebih tinggi. Aku kuliah dengan sahabatku yang sangat dekat denganku. Ningsih, itu namanya.
Dia terlahir dari keluarga sederhana, ya, sangat sederhana. Dia punya dua orang adik lagi yang masih SMP dan SD.
Namun, keluarga mereka yang sederhana mampu membuat aku iri sekaligus minder karena kehangatan keluarganya itu.
Kini, aku tengah berada di kampus. Tempat yang semoga saja akan tempat menimba ilmuku kelak.
Kutinggalkan orang yang berbicara denganku tadi, orang yang entah kenapa bisa-bisanya mengatur aku untuk tak dekat dengan orang lain.
"Ck! Emangnya siapa dia? Sibuk banget ngurusin orang!" gerutuku berjalan ke luar pagar.
"Udah selesai daftarnya Neng?" tanya supir yang berdiri di depan pintu bangku belakang.
"Sudah, Pak," jawabku tersenyum dan melihat ke arah tempatku tinggalkan orang tadi, "dih, ngapain masih di situ?"
Supir ternyata mendengar ucapanku, dia melihat ke arah yang tengah kutatap, "Siapa Neng?" tanya Supir melihat ke arah yang sama.
Aku yang merasa bahwa ternyata ucapanku tadi bukan dalam hati langsung menatap ke arah supir, "Apa, Pak?" tanyaku seolah tak tahu.
"Neng liat cowok itu 'kan? Dia siapa? Hayo ...," goda supir dengan tersenyum ke arahku.
"Apa sih, Pak?" Aku segera masuk ke dalam mobil meninggalkan supir yang masih penasaran.
Pak supir yang melihat aku sudah masuk langsung berlari memutari mobil dan masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Hari ini, aku akan kembali ke persidangan. Kata Papa temannya bisa membantu untuk adopsi di pindah atas nama Papa.
Meskipun sebenarnya itu sudah tak perlu lagi, bagaimana pun aku sudah dewasa bukan anak-anak lagi yang harus dijaga atau dirawat.
Aku sudah bisa memilih mau tinggal dan ikut siapa. Namun, Kakak terlalu egois karena dari awal memang hak atasku diberi padanya.
"Neng, kata Papa ke kantornya dulu. Mau konsultasi sama temen Papa dulu."
"Iya, Pak," jawabku seadanya dan menatap jalanan.
Hanya menempuh jarak 35 menit dari kampus, aku sudah sampai di tempat Papa bekerja. Meskipun bukan kantor milik Papa sendiri.
Namun, jabatannya sudah lumayan bisa menghasilkan; rumah, mobil, juga usaha sendiri.
Papa pernah ingin resign dari pekerjaan, hanya saja boss pemilik perusahaan tak menerima ajuannya itu karena Papa sudah sangat dipercaya di perusahaan tersebut.
"Mau cari siapa, Dek?" tanya seorang wanita berpenampilan sopan.
"Nyari Pak Angga, Mbak."
"Maaf, udah ada janji?"
"Sudah, Mbak."
"Adek siapanya, ya?"
Ekspresi wajah resepsionis kantor seketika berubah, kaget dan tak percaya pastinya. Ia melihat penampilanku dari atas hingga bawah membuat aku mengikuti hal tersebut.
Kutatap wajahnya dengan senyuman ketika dia telah selesai melihat penampilanku, hilang senyum tadi. Apa dia mengira bahwa aku pembohong?
"Sebentar, ya, saya tanya lebih dulu sama Pak Angga," ujarnya kemudian.
Kupaksa tersenyum dan mengangguk, dengan bersedekap dada sembari melihat-lihat kantor ini.
"Ck! Gak percayaan amat, sih! Emangnya ada manusia pembohong modelan kayak aku ini, ya?" gerutuku.
Kulihat Mbak resepsionis telah selesai menelpon Pak Angga, "Gimana, Pak? Apa Pak Angganya bisa saya ganggu?" tanyaku seramah mungkin.
"Maaf, ya, Dek. Saya gak tau kalo kamu itu anaknya," katanya dengan kikuk.
"Gak papa, Mbak. Santai aja, saya emang jarang ke sini. Kalo gitu, saya udah boleh ke ruangan Papa?" tanyaku memastikan.
"Sudah, Dek. Silahkan!"
Aku pamit dari hadapannya menuju ruangan Papa, Papa sudah memberi tahu sebelumnya di mana ruangannya.
__ADS_1
Jadi, aku tak perlu bertanya sama Mbaknya tadi di mana ruangan Papaku.
Tok ...!
Tok ...!
Dua ketukan kuberikan pada pintu yang entah terbuat dari apa, bukan kaca.
"Masuk!" titah dari orang yang berada di dalam.
Ceklek ...!
Aku masuk dan melihat Papa tengah bercerita dengan seseorang di sofa ruangannya..
"Masuk, Nak!" panggil Papa membuat orang yang ada di depan Papa menatap ke arahku juga.
Aku mengangguk dan berjalan dengan senyuman di samping Papa, sedikit menunduk ke arah teman Papa.
"Jadi, ini anak saya Pak. Dia yang ingin saya buat alih hak adopsinya," jelas Papa ke temannya yang kalo bisa aku tebak umurnya sudah lebih setengah abad.
Pria tersebut mengangguk, "Seperti yang saya katakan tadi Pak. Pengasuhan anak yang belum di umur 12 tahun maka hak seorang Ibunya. Namun, jika sudah di atasnya maka dia bisa memilih hak ingin di asuh dengan siapa. Apalagi dia sudah berusia 19 tahun sebagai mana menurut pasal 105 KHI yang menyatakan:
Dalam hal terjadinya perceraian:
Pemeliharaan anak yang belum mumayyiz atau belum berumur 12 tahun adalah hak ibunya;
Pemeliharaan anak yang sudah mumayyiz diserahkan kepada anak untuk memilih di antara ayah atau ibunya sebagai pemegang hak pemeliharaannya;
Biaya pemeliharaan ditanggung oleh ayahnya.
Jadi, ada baiknya sebelum kita lapor ke pengadilan. Saya akan ajak Buk Diva agar berdamai lebih dulu. Daripada nanti kita cepat-cepat menyerahkan berkas ke pengadilan kalau bisa cara damai kenapa, tidak?"
Aku hanya bisa diam dan membalas senyuman pengacara Papa di depanku ini sebentar lalu murung lagi.
Papa mengangguk mendengar penjelasan pengacaranya, mungkin apa yang Papa harapkan dan inginkan sudah pasti tercapai atau apalah. Aku juga tak mau terlalu sok tahu, hihihi.
"Baik, Pak! Kalau begitu saya serahkan semuanya ke Bapak, apa saja yang Bapak mau saya akan ikutin. Jika menurut Bapak jalan baiknya seperti ini, maka saya hanya bisa mengikuti saja," jelas Papa percaya pada pengacaranya.
"Baik kalau begitu, saya pamit pergi kalau begitu Pak!" Pengacara Papa berdiri dan berjabat tangan dengan Papa yang juga berdiri.
Kukatupkan tangan di dada saat pengacara Papa menatap ke arahku juga senyum agar tak dikira sombong.
Jika kau tak menginginkan aku, maka lepaskanlah! Jangan mengekang diriku dan menyakiti aku. Bukankah inginmu aku pergi? Atau malah mati?
Aku membatin merasa lelah dengan hidup ini, pengacara sudah tak terlihat lagi. Kujatuhkan tubuh ini kembali ke sofa.
__ADS_1
"Pa, lebih baik Ayu gak ada, iya gak sih? Gak buat repot Papa," lirihku menatap lurus.