Gara-Gara Sampah

Gara-Gara Sampah
Ungkapan Perasaan


__ADS_3

Di perjalanan pulang menuju Jakarta, Ayu sesekali melirik ke arah Ningsih yang masih sumbringah dan menatap jarinya yang sudah tersemat.


Rencananya, pernikahan mereka akan dilangsungkan beberapa tahun ke depan atau saat nunggu Ningsih lulus kuliah. Sedangkan Ahmad, dia akan langsung bekerja setelah wisuda.


"Kenapa? Mau? Biar habis ini gue langsung datang ke rumah lu," bisik Akhtar sambil melihat ke arah Ningsih juga.


Ayu mengalihkan pandangan ke arah Akhtar, "Dih, apaan! Siapa juga yang mau?"


"Ya, lu. Kan dari tadi liatin mulu, mana tau mau. Biar gue lamar juga," ungkap Akhtar dengan sedikit menjauhkan tubuhnya dari Ayu.


"Jadi, setiap apa yang gue liat. Artinya gue mau, gitu?"


"Maybe!" kata Akhtar menaikkan bahunya.


Ayu hanya menggelengkan kepala dan menatap ke depan, dirinya tak lagi ingin menanggapi ucapan Akhtar.


"Harus berapa lama lagi?" tanya Akhtar tiba-tiba membuat Ayu menautkan alis dan menatap ke arahnya.


"Apanya?"


"Gue nunggu, lu? Kalo lu emang gak ada rasa sama gue, biar gue bisa pergi dari kehidupan lu. Gue rencananya akan ngambil S2 ke Jepang sambil bekerja dan mungkin jika lu gak mau sama gue, akan cari wanita muslim di sana," jelas Akhtar melirik sekilas ke arah Ayu dengan wajah terkejut.


Degub jantungnya seolah dua kali lebih cepat berdegub dari biasanya, dengan cepat ia mengalihkan pandangan kembali ke depan.


Ada rasa yang sulit diungkapkan, tapi mudah untuk dipahami. Rasa sakit ketika mendengar ucapan menyerah dari seseorang yang ingin kita lihat memperjuangkan.


"Ayu ...," panggil Akhtar dengan pelan dan membuat Ayu kembali menoleh.


"Gue suka dan sayang sama lu, entah sejak kapan. Tapi, yang pasti. Gue ada rasa sama lu, lu gak perlu jawab sekarang. Gue akan meminta jawaban itu ketika gue wisuda. Apa pun itu jawaban dari lu, gue akan terima. Gue gak akan paksa lu buat nerima gue, kok," terang Akhtar dengan wajah serius. Di akhir kalimat senyuman terbit dari bibirnya.


Ayu bergeming, bibirnya kelu. Apakah saat ini Akhtar tengah mengungkapkan perasaannya? Atau ... ini hanya bohongan belaka?


Di tatap Ayu manik milik laki-laki di depannya sekarang, tampak tak ada kebohongan di dalamnya.


***


Pesawat landing di Jakarta, mereka mulai turun satu per satu. Dosen kembali men-cek siapa saja yang ada dan tidak ada.

__ADS_1


Mahasiswa/i boleh pulang dengan menggunakan jemputan masing-masing atau memakai bus kembali yang sudah menunggu.


Ayu berjalan dengan serius, dirinya masih bingung untuk jawaban dari ungkapan Akhtar tadi di dalam pesawat.


"Yu, lu kenapa?" tanya Ningsih melihat Ayu yang sedikit murung.


"Ha? Gue gak papa, kok," jawab Ayu dengan senyum tipis di bibirnya.


"Jadi, lu kapan nikahnya?" tanya Ayu mengalihkan perhatian Ningsih yang kebetulan berjalan di sampingnya.


"Ya, nunggu kapan gue siapnya aja sih."


"Pas kita lulus?" tanya Ayu menaikkan alisnya sebelah.


Ningsih menahan senyumnya dan menggelengkan kepala, Ayu membulat dengan senyum yang tertampil.


"Wah ... kayaknya lu deh yang duluan akan nyusul Kak Kiki," ejek Ayu dengan menunjuk ke arah Ningsih.


"Hahaha, lagian lu malah ngasih bunganya ke gue, sih. Aturannya 'kan ke lu, biar lu duluan yang nikah!" gerutu Ningsih mengingat kembali tentang bunga pengantin yang diberi Ayu padanya.


"Halah, dasar lu-nya aja yang emang udah mau nikah!" ketus Ayu dan memutar bola matanya malas.


"Ransel saya sudah masuk, Pak?" tanya Ayu ke supir yang berada di depan pintu.


"Sudah, Neng."


Ayu mengangguk dan menatap ke arah Ningsih, "Lu mau bareng?" ajak Ayu menunjuk ke arah mobilnya.


"Gak usah, deh. Gue sama Ahmad aja, dia mau main ke rumah sekalian. Mau membicarakan acara lamaran ke orang tua gue," jelas Ningsih tersenyum sambil melihat ke arah Ahmad yang berjalan ke arah mereka.


Aku mencebik bibirnya, "Hadeuh, kalo orang yang lagi di mabok cinta mah susah. Ya, udah gue duluan. Nanti, kalau emang lamarannya ada acara. Lu undang aja gue, oke!"


"Gue duluan, ya, bye ...," pamit Ayu dan berjalan ke arah mobilnya. Ia masuk ke bangku belakang yang sudah dibuka oleh supir.


Di perjalanan, pikiran Ayu kembali mengingat ucapan Akhtar di dalam pesawat tadi. Dirinya langsung menggelengkan kepala.


"Ga-gak, Ayu! Dia pasti cuma bercanda," gumam Ayu denga menepuk kepalanya pelan.

__ADS_1


"Kenapa Neng, kepalanya pusing? Kita singgah ke dokter?" tanya supir menatap ke arah Ayu melalui kaca spion.


"Eh, enggak usah Pak. Gak kenapa-kenapa, kok," jawab Ayu dengan cengengesan.


Supir hanya mengangguk paham dan fokus kembali ke jalanan. Suara dering handphone milik Ayu seketika memenuhi mobil.


Ayu segera mengambil handphone dan mengangkatnya.


"Assalamualaikum, iya, Tante ada apa?" tanya Ayi saat nama Caca yang tersemat di layar teleponnya.


"Waalaikumsalam, Sayang. Maaf, Tante mau tanya. Kalian udah pulang? Soalnya Akhtar ditelpon gak bisa-bisa," ujar Caca di sebrang dengan suara sedikit panik.


"Udah, Tante. Ayu udah di dalam mobil menuju pulang, sih. Tadi, Akhtar dan temen-temennya masih ada di bandara, gak tau sekarang Tante."


"Oh, syukur deh. Kalian baik-baik aja 'kan? Akhtar, gimana?" tanya Caca membuat Ayu kaget.


"Eh, a-apanya yang gimana Tante?" gagap Ayu yang tak mengerti arah pembicaraan Caca.


"Hahaha, kenapa kamu jadi gagap gini, Sayang? Maksud Tante, apa Akhtar di sana demam juga? Kan, waktu itu dia juga demam," terang Caca dengan sedikit tertawa.


Ayu menghembuskan napasnya pelan, dia juga mengusap dadanya yang kaget akibat ucapan Caca.


"Mm ... dia kayaknya terkena hipotermina deh Tante. Soalnya, dari gejalanya menunjukkan ke arah situ," jelas Ayu dengan wajah serius meskipun tak dapat dilihat oleh Caca.


"Terus, kamu kasih apa dia pas kambuh hiponya?"


"Apa yang ada aja, Tante. Kadang, kurma dan kalo ada yang jual alpokat dikasih itu juga. Ya, apa aja biar kalorinya lebih tinggi."


"Huftt ... makasih banget, ya, Ayu. Dia sama kayak kamu, suka mendaki tapi tubuhnya gak pernah memberi izin. Tante juga gak mungkin akan terus larang dia sedangkan dia semakin dewasa. Otomatis, mau gak mau Tante lepaskan dan beri izin. Beruntungnya, setiap dia sedang mendaki pasti ada kamu. Jadi, Tante sedikit tenang," jelas Caca yang membuat Ayu sedikit tersenyum.


"Sama-sama Tante, lagian sudah kewajiban sesama untuk saling tolong-menolong."


"Kamu bener, Cantik. Yaudah kalau gitu, ya. Tante tutup dulu teleponnya, selamat istirahat. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam Tante."


Tut ...!

__ADS_1


Panggilan diputus oleh Caca, Ayu memeluk handphone dan menatap ke arah samping dengan tersenyum bahagia.


__ADS_2