Gara-Gara Sampah

Gara-Gara Sampah
Jauhi Dia


__ADS_3

Rahman telah pulang kembali ke Bandung, kediaman Riki kembali sepi di siang ini. Leon memilih untuk tidur siang di temani oleh Caca.


Sedangkan Akhtar, dia ke kamar untuk bermain gitar juga melakukan hal lainnya Riki memilih untuk menyelesaikan tugas yang ada.


[Cari tau tentang kehidupan Diva, Angga juga anak mereka yang bernama Ayu] pesan Riki ke Farhan.


[Diva? Dia ada di Jakarta?] tanya Farhan.


[Ya, aku mau 30 menit lagi sudah ada laporan tentang mereka!]


[Ck! Kau ini!]


[Apa? Kau berani menyebutku dengan begitu?]


[Hehe, maaf Pak Riki😁] balas Farhan dengan emoticon nyengir.


Riki langsung mematikan handphone dan beralih ke layar laptopnya, mengetik dan membaca serta mempelajari data-data yang ada.


Dia terdiam sebentar seolah tengah mengingat sesuatu atau ada ide yang terlintas di benaknya. Bangkit dari kursi dan keluar ruangan.


Riki menaiki satu per satu anak tangga, membuka pintu dan membuat orang yang berada di dalamnya menatap heran ke arah dirinya yang berada di ambang pintu.


"Ada apa Pa?" tanya Akhtar yang tengah bermain gitar di kasur.


Riki berjalan mendekat ke arah Akhtar dan duduk di pinggir ranjang, Akhtar langsung meletakkan gitar yang tadinya ada di pangkuannya.


"Kamu kenal dengan Ayu anak Angga?" tanya Riki serius.


"Kenal Pa, emangnya kenapa?" tanya Akhtar menaikkan satu alisnya.


"Apa saja yang kau kenal tentang dia?"


"Tak banyak."


"Iya, sebutkan."


"Dia satu universitas dengan Akhtar, dia anaknya pak Angga, Akhtar tau rumahnya jalan apa, dia suka mendaki, dia jurusan kedokteran, dia suka membantu dan juga perawat lingkungan," jelas Akhtar.


"Kau menyukainya?"


"Ha?" tanya Akhtar kaget, "kenapa Papa bisa ngomong begitu?"

__ADS_1


"Kenapa kau sampai se-detail itu menyebutkan tentang dia?"


"Lah 'kan Papa yang minta."


"Terus, kau pernah liat Ibunya?"


Akhtar menggelengkan kepala, "Lagian, untuk apa juga Akhtar harus pernah liat ibunya?"


Riki menatap sekejap ke arah Akhtar, dia menepuk lutut sebentar dan berdiri.


"Jauhi dia dan jangan pernah suka apalagi ada hubungan dengan anak itu!" tegas Riki berjalan keluar.


"Tunggu, Pa!" henti Akhtar dan turun dari kasur dengan menautkan alis.


"Kenapa Papa sekarang ngelarang-larang Akhtar buat berteman?" tanya Akhtar dan membuat Riki berbalik menghadapnya.


"Khusus untuk wanita itu saja, selain dia kau boleh berteman. Jangan membantah keputusan Papa!" tekan Riki dan pergi meninggalkan kamar Akhtar.


Akhtar berjalan hingga ke ambang pintu, menatap tubuh tegap itu yang berjalan menuruni anak tangga.


Dirinya hanya bisa terdiam tak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi, Akhtar menutup pintu kembali.


Berjalan ke arah balkon yang sudah tersedia sofa, mengambil handphone dan membuka situs internet.


"Lah, kok gak ada apa-apa, sih? Masa gak ada? Mama aja yang cuma mantan dokter ada, kok tentang biodatanya," gerutu Akhtar tak mendapatkan apa-apa yang dicari.


Ia berdiri dengan kesal dan meninju angin, tangan berada di pinggang dan pandangan menyorot tajam ke depan.


"Ini pasti ada yang gak beres, aku akan cari tau sebenarnya ada masalah apa antara Papa dengan Ayu. Kenapa dia ngelarang aku buat gak berteman dengan cewek sok itu!"


Akhtar kembali masuk ke kamar karena panas semakin menantang di luar.


"Tar, kamu gak mau es koteng?" teriak Caca dari luar.


Akhtar segera membuka pintu dan melihat ke bawah, sudah ada Caca yang sendirian di ruang tamu sambil menyalakan televisi.


"Oh, iya, aku juga bisa nanya nanti sama Mama kenapa Papa gak ngasih izin aku buat temenan sama Ayu. Mama pasti tau," gumam Akhtar segera turun ke bawah.


Mereka duduk bersampingan dengan tangan Caca sibuk memasukkan makanan ringan ke mulutnya.


"Telah terjadi kecelakaan beruntun di jalan Suprapto (bohongan hihihi) yang memakan 5 orang korban. Ini semua terjadi karena pengendara mobil yang masih di bawah umur dan ugal-ugalan membuat dia menabrak 3 sepeda motor yang tengah berhenti karena lampu merah."

__ADS_1


"Beruntungnya, hanya satu korban jiwa dan empat lagi bisa tertolong. Menurut saksi di tempat kejadian ada seorang wanita yang bernama Ayu membantu korban-korban ini, bahkan dia juga sempat beradu pendapat karena tak ada orang lain yang berani membantunya."


Deg ...!


Akhtar dan Caca saling pandang ketika nama orang tersebut diucapkan.


"Ayu siapa, ya, Tar?" tanya Caca menatap bingung.


"Mana handphone Mama, biar kita liat Ayu siapa yang dimaksud tadi."


Caca menyerahkan handphone dan dengan cepat tangan Akhtar mencari video tentang lokasi tersebut.


Matanya membulat saat melihat siapa yang ada di video tersebut, ia berpaling melihat ke arah Caca yang sudah penasaran.


Dirinya langsung merebut handphone dari tangan Akhtar, "Maa Syaa Allah, bener-bener Ayu," kata Caca kagum.


Berita sekilas tadi telah selesai dan ternyata yang disebutkan reporter tadi namanya adalah orang yang benar-benar dikenal oleh Akhtar juga Caca.


Akhtar meraih es koteng yang ada di meja mereka, ia masih tak paham kenapa Riki menyuruh dia untuk tak dekat dengan Ayu.


'Padahal dia baik, kenapa Papa malah larang aku buat deket sama dia?' batin Akhtar termenung.


"Hey! Malah bengong nih anak!" sentak Caca membuat Akhtar mengerjapkan matanya agar pikirannya keluar dari lamunan.


"Kamu kenapa?" tanya Caca.


Akhtar melihat sekitar, ia memilih mendekat ke arah Caca, "Ma, kenapa Papa nyuruh Akhtar buat gak temenan sama Ayu? Padahal, Ayu baik 'kan?" bisik Akhtar.


Caca menatap dengan tersenyum ke arah Akhtar, "Kenapa emangnya kalo disuruh menjauh, kamu gak bisa emangnya? Bukannya selama ini kalo disuruh menjauh dari orang, kamu biasa-biasa aja?" tanya Caca seraya menggoda Akhtar.


"Ck! Bukan gitu, Ma. Cuma, aneh aja gitu," ucap Akhtar datar.


"Mama juga gak tau," kata Caca.


'Apa Mas Riki memang setidak mau itu kalo Akhtar berteman dengan Ayu? Padahal, Ayu belum tentu sejahat Diva,' batin Caca.


Caca dan Akhtar akhirnya saling diam dan fokus ke siaran televisi di depan mereka, mereka memang agak jarang melakukan hal seperti ini karena kesibukan Akhtar jika sedang waktunya ngampus.


[Semenjak memilih menikah dengan Angga, Diva memang pindah ke Jakarta dengan keluarganya. Angga bekerja di salah satu perusahaan dan menjabat sebagai direktur. Sedangkan Diva, dia hanya bekerja di salah satu perusahaan milik keluarganya yang berada di luar kota.]


[Ayu sekarang tengah mengenyam pendidikan di kampus Akhtar, Ayu seorang anak yang mempunyai hobi mendaki pernah menolong Akhtar waktu di gunung rinjani. Diva belum menikah lagi dengan pria lain, dirinya cerai dengan Angga ketika dirinya sudah melahirkan bahkan Diva tak memberi Angga untuk tinggal di rumah orang tuanya semasa mereka masih sah menjadi suami-istri.]

__ADS_1


[Sampai sekarang belum ada yang menikah baik Diva maupun Angga, sedangkan anak mereka Ayu sebelumnya ikut dengan Diva, hanya saja beberapa hari ini dia tinggal dengan ayahnya.]


Riki meletakkan kembali handphone setelah membaca pesan dari Farhan mengenai Diva, ia menatap ke arah depan dengan sedikit bergeming.


__ADS_2