
Tiba-tiba, seseorang berdiri di samping meja mereka. Ayu menatap orang tersebut dengan senyuman ramah.
"Boleh ikutan gabung?"
"Duduk aja Kak Haykal!" suruh Ayu dan diangguki oleh Haykal.
"Ck! Kayak gak ada aja meja dan bangku yang lain," decak Akhtar menatap sinis ke arah Haykal.
"Biarin aja, kali!" ketus Ayu.
"Mmm ... kamu ikut nanti, Ayu?" tanya Haykal yang tak terlalu memperdulikan Akhtar.
"Belum tau sih, Kak. Minta izin dulu nanti sama Papa, lagian 'kan belum tentu juga kepilih nantinya."
"Tapi, kamu 'kan udah lama mendaki nih ya. Berarti pengalaman kamu udah lebih banyak daripada kita-kita, masa kamu gak kepilih."
"Haha, gaklah Kak. Ayu juga masih pemula banget, udah lama juga gak mendaki lagi," ujar Ayu dengan tertawa.
"Ehem-ehem!" dehem seseorang dengan suara yang disengaja kuat, "di sini masih ada orang lain, lho!"
***
"Ayu, tunggu!" teriak seseorang yang membuat Ayu membalikkan badannya melihat ke arah suara.
"Lu mau pulang?" tanya orang tersebut saat sudah berada di depan Ayu.
"Iya, kelas gue udah kelar. Kenapa?" tanya Ayu sedikit menyipitkan mata karena cahaya matahari.
"Temenin gue main basket, dong!"
"Dih, ogah banget gue Akhtar! Lu gak sepenting itu sampe gue harus nemenin lu!" ketus Ayu dan mengayunkan langkahnya kembali untuk keluar gedung kampus.
"Bagaimana caranya agar gue jadi penting di hidup lu!" teriak Akhtar yang di dengar jelas oleh Ayu.
Langkah yang tadinya terasa ringan seketika membeku dan terhenti sendiri. Akhtar kembali mendekat ke arah Ayu.
Dirinya berada di depan Ayu dan menatap wajah wanita yang pandangannya menatap ke bawah.
"Hmm?"
"Apa, sih? Lu lagi ngelantur, ya? Sana, ih! Gue mau pulang!" usir Ayu yang mencoba jalan melalui samping Akhtar.
Namun, langkahnya kembali di hadang oleh tubuh tegap Akhtar. Ayu menatap wajah tersebut.
__ADS_1
"Apa, sih Tar?"
"Lu belum jawab pertanyaan gue!"
"Gak ada yang harus gue jawab!"
"Ada!"
"Gak! Sekarang, lu menyingkir dari hadapan gue! Gue mau pulang!"
"Oke, ayo pulang!"
Akhtar menarik tas selempang yang dipakai Ayu, padahal Akhtar kini tengah menggunakan baju basketnya.
"Gak usah, gue sendiri aja!" kesal Ayu melepaskan tangan Akhtar dari tasnya.
Merasa tak digubris sama sekali oleh sang empu, hal tersebut membuat Ayu semakin kesal dibuat laki-laki yang entah mengapa tiba-tiba jadi seperti ini.
"Lu kenapa sih, Tar!" bentak Ayu memberhentikan langkanya yang otomatis Akhtar pun jadi terhenti.
"Gue mau lu jawab pertanyaan gue tadi, udah itu aja!"
"Penting banget emangnya buat gue jawab pertanyaan gak bermutu dari lu itu? Ha?" tanya Ayu yang sudah tersulut emosi.
Ayu mengayunkan kakinya mendekat ke arah Akhtar, dia mendongak dan menatap wajah Akhtar.
Deg ...!
Bagai tersambar petir di teriknya hari dan di bawah matahari, Akhtar terdiam mendengar ucapan Ayu.
Ayu segera berlalu dari hadapan Akhtar dan masuk ke salah satu taksi yang kebetulan lewat di hadapannya.
Merasa tak ada lagi terdengar suara langkah kaki Ayu, Akhtar membalikkan tubuhnya dan benar saja wanita itu sudah tak ada.
Akhtar meninju angin dan menjambak rambutnya, orang yang berlalu-lalang hanya bisa menatap aktivitasnya itu.
"Seharusnya gue tau kalo dia emang gak ada rasa ke gue dan entah kenapa si tolol ini malah jatuh cinta begitu dalam pada wanita seperti dia!" gumam Akhtar dan berjalan dengan langkah kaki tegap ke arah lapangan basket.
"Tar, dari mana aja lu! Ayo, mulai!" teriak Ahmad yang sudah berada di dalam lapangan karena antara lapangan dan tempat duduk penonton diberi semacam jaring seperti itu.
Bukannya menjawab, Akhtar malah mengambil tasnya yang ada di bangku tempat pemain. Ia langsung keluar dari gedung tersebut menuju mobilnya yang diparkir.
"Lah, kenapa tuh si Akhtar?" tanya Ahmad.
__ADS_1
"Pasti lagi ada masalah, nih!" timpal Bambang.
"Ayo, kita ikutin! Daripada terjadi hal yang macam-macam sama dia!" potong Bayu cepat.
Mereka bertiga akhirnya pergi begitu saja meninggalkan teriakan dari teman tim juga lawan main lainnya.
Tapi, mereka tak peduli soal itu sekarang. Daripada nantinya Akhtar akan kenapa-kenapa.
Akhtar memang bukan laki-laki yang akan melampiaskan marahnya ke minuman apalagi wanita-wanita yang bisa ia sewa.
Melainkan, ke balapan-balapan liar atau resmi yang ada. Tentu saja hal itu menurun dari Riki yang dulu juga menyukai hal tersebut.
Ahmad mengikuti mobil Akhtar yang sudah melesat lumayan jauh dari kampus, benar dugaan mereka bahwa laki-laki itu tak akan pulang ke rumah.
"Dia mau ke mana, ya?" tanya Bayu yang berada di belakang.
"Setau gue, gak ada balap liar atau pun resmi. Dia pasti gak akan balapan," kata Bambang sedikit menenangkan.
Sedangkan Ahmad hanya menyimak dan fokus dengan jalanan yang cukup padat. Mereka mengerutkan alis ketika melihat mobil Akhtar masuk ke kawasan pantai.
Dia memarkirkan mobilnya dan turun tanpa menoleh ke arah lain.
"Gimana, kita ikutin dia?" tanya Ahmad yang memberhentikan mobil di luar area parkir.
"Gak usah deh, kayaknya dia butuh sendiri. Lagian, kita 'kan sahabat dia. Bukan berarti kita harus tau semua permasalahan yang ada dalam hidup dia," jelas Bambang membuat Ahmad dan Bayu mengangguk.
Mereka akhirnya memutuskan untuk pergi dan tak mengikuti Akhtar lagi, setidaknya mereka sudah sedikit tenang karena tahu bahwa Akhtar tak akan melukai dirinya sendiri.
"Iya, gue tau gue emang gak pantas buat lu! Mana pantas manusia kayak gue bersanding dengan manusia separuh bidadari kayak lu!"
"Tapi ... apa gue gak boleh berharap kalo perasaan gue ini terbalaskan? Apa gue gak boleh mengharapkan hal itu?"
Akhtar berteriak di pantai dengan memilih menjauh dari keramaian, dia sengaja melakukan itu agar bisa mengeluarkan amarah yang terpendam.
"Gue marah, cemburu, kesal, emosi dan lainnya saat mata-mata laki-laki menatap lu seakan mereka ingin memiliki lu. Belum lagi si Haykal manusia sok paling keren itu!"
"Dia sama gue bahkan lebih ganteng gue, apa lu doyannya emang sama manusia pake kacamata tebal kayak dia? Apa gue juga harus pake kacamata tebal biar dapat perasaan dan perhatian dari lu?"
Napas Akhtar memburu kala merasa sesak sudah lumayan tak memenuhi dadanya, memang salah satu mengungkapkan kekesalan bisa dengan berteriak.
"Sialan! Kenapa gue bisa suka sama wanita itu! Gila lu Tar!" umpat Akhtar memukul kepalanya tak keras.
"Gak semua yang kau inginkan harus kau dapatkan, ada masanya yang kau inginkan harus kau ikhlaskan karena akan mendapat ganti yang mungkin akan lebih baik lagi," celetuk seseorang dari samping Akhtar yang berdiri dan menatap hamparan air.
__ADS_1
Akhtar terkesiap, dia langsung mendongak dan menatap orang yang berada di sampingnya.
"L-lu?" gelagap Akhtar menautkan alisnya sambil berdiri.