
Akhtar yang mendengar penuturan itu hanya mampu menepuk jidat, entah dia yang salah bicara atau adiknya yang salah tanggap.
"Maaf lama, Sayang," ucap Angga yang baru selesai dari urusannya.
"Kenapa ngambil uang cash, Pa? Kan, di sini semuanya bisa bayar pake ATM," ujar Ayu sembari berdiri dari duduknya.
"Ada keperluan yang lain dan di toko itu gak bisa debit, harus cash."
Ayu hanya mengangguk, "Kita mau ke mana?"
"Makan dulu, Pa. Habis itu ke mushala, ya. Udah mau masuk waktu dzuhur."
"Oke, siap Tuan Putri!"
Ayu tertawa bahagia dan tangannya di genggam erat oleh Angga, sejenak ia melupakan kata-kata menyakitkan dari mulut Diva tadi siang.
Meskipun, nanti disaat pulang mungkin akan ada lagi cacian yang lebih parah dari itu. Apalagi jika Diva tahu bahwa Ayu tengah bertemu dengan Angga.
Ayu menepis pikirannya tentang hal itu, lebih baik sekarang fokus dengan bahagia yang tengah terjadi seperti sekarang.
"Kamu duduk aja, biar Papa yang pesankan, ya. Cari meja, nanti Papa datang bawakan makanannya," perintah Angga dan langsung dijalankan oleh Ayu.
Di restoran langganan mereka memang tidak ada sistem pelayan yang mengantarkan makanan, entah karena mereka yang kekurangan pegawai atau memang sudah seperti itu sistemnya.
Namun, Ayu dan Angga selalu singgah ke sini karena makanannya yang enak-enak.
"Permisi Buk, ini makanannya," ujar Angga sembari meletakkan makanan yang dibawanya ke meja.
"Haha, kalo Papa yang jadi pelayan. Auto penuh selalu nih tempat," kata Ayu diiringi tawa.
"Kenapa begitu?" tanya Angga dan duduk di bangku depan Ayu.
"Pelayannya terlalu ganteng!" bisik Ayu menggoda Angga.
"Haha, anak Papa sudah besar ternyata. Sudah pintar menggombal," puji Angga menoel hidung Ayu.
"Haha, tidak Pa," bantah Ayu yang tak terima jika di cap pinter gombal.
"Gimana mendakinya, seru?" tanya Angga sembari memasukkan makanan ke mulutnya begitu pun dengan Ayu.
"Seru Pa, tapi ini terakhir kalinya akan di pandu sama Kak Kiki. Soalnya dia mau ke luar negri buat kerja," lirih Ayu tersenyum getir.
__ADS_1
"Yaudah, kamu juga harus fokus kuliah 'kan?"
Ayu mengangguk dan dibalas senyum oleh Angga. Mereka menyelesaikan makan dan memutuskan untuk mengerjakan kewajiban terlebih dulu.
20 menit berlalu, mereka telah selesai mengerjakan kewajiban 4 rakaat itu. Jam menunjukkan pukul satu siang.
"Pa, Papa gak ada niatan buat nikah lagi?" tanya Ayu mendongak yang sekarang tengah berjalan di samping Angga.
"Kenapa? Kamu mau punya Mama tiri?" tanya Angga tersenyum.
"Papa udah punya pacar, ya?"
"Siapa yang bilang?"
"Ya, aneh tau. Penampilan Papa juga sekarang beda, Papa lagi ngincer siapa?"
"Emangnya, kalo Papa nikah lagi udah boleh?" tanya Angga berhenti di depan Ayu dan memegang bahu wanita itu.
Ayu pun langsung ikut berhenti, ia menatap netra sang cinta pertamanya itu lalu menunduk sendu.
"Jadi, bener? Papa mau nikah lagi?" tanya Ayu mendongak mencoba untuk tersenyum.
"Kalau Papa emang mau nikah lagi, gak papa kok. Ayu dukung," sambung Ayu dengan senyum yang tak luntur.
Sehingga, dirinya tak memberi sang ayah untuk menikah kembali hingga Ayu lulus SMA dan sudah akan masuk kuliah.
Angga memeluk Ayu dan sesekali mencium kepala, Ayu menitihkan air mata. Bingung. Antara senang dan sedih tapi yang pasti sedih lebih banyak daripada senangnya.
'Pa ... maafkan Ayu dulu egois sama Papa, sehingga membuat Papa harus menahan diri untuk tak menjalin hubungan lagi karena keegoisan Ayu. Sekarang, Ayu ikhlas Papa buat nikah meskipun setelahnya kita akan sulit buat berjumpa atau bahkan mungkin tak akan pernah berjumpa lagi,' batin Ayu menitihkan air mata di dalam dekapan Angga.
"Maafin Ayu yang egois, ya, Pa," ucap Ayu dengan tangan segera mengusap pipi agar Angga tak tahu.
"Enggak, Sayang. Itu hal yang wajar dan Papa bersyukur artinya kamu sangat membutuhkan dan menganggap keberadaan Papa," jelas Angga.
Ayu melepaskan pelukan, "Pa, sampai kapan pun Ayu akan membutuhkan Papa dan menganggap Papa itu ada dan penting di dalam hidup Ayu," tegas Ayu menangkup wajah Angga dan mengusap air mata di pipi laki-laki itu.
Angga tersenyum dan mencium kening Ayu, mereka kembali berjalan ke arah lantai tiga untuk mengambil mobil.
Sedangkan di lain tempat, kediaman rumah orang tua Diva. Diva telah pulang dari urusannya dan langsung mengedarkan pandangan.
Ia berjalan menuju meja makan dan melihat makanan yang tak berusik, "Bik Tati!" teriak Diva memegang kursi.
__ADS_1
Dengan sedikit berlari, Bik Tati menghadap Diva sambil menunduk, "Iya, Non?"
"Kenapa makanan gak berusak? Apa anak haram itu tidak makan?" tanya Diva dengan nada yang tinggi.
"T-tidak Non," jawab Bik Tati terbata-bata. Diva yang tadinya membelakangi Bik Tati langsung menatap ke arah wanita paruh baya itu.
"Maksud Bibik? Ini sudah jam berapa? Kenapa dia tidak makan siang?"
"Neng A-ayunya pergi Non."
"Pergi? Pergi ke mana dia?"
"Ke mall katanya ketemu sama Neng Ningsih."
"Mau ngapain?"
"Bahas soal kuliah, Non."
Diva yang sudah marah dan tahu bahwa Ayu berbohong memukul kursi, ia segera mengambil handphone dan mencari nama Ningsih.
"Halo, ada apa Tante?" tanya Ningsih di sebrang.
"Di mana Ayu?" tanya Diva tanpa basa-basi.
"Di rumah Tante. Tante gak di Jakarta, ya?" tanya Ningsih yang bingung.
Ningsih memang tak pernah tahu kapan Diva berada di rumah, karena setiap kali Ningsih berkunjung ke rumah Ayu pasti Diva tengah berada di luar kota.
Tanpa aba-aba, Diva langsung mematikan panggilan begitu saja dan berjalan ke arah kamar Ayu.
Dibuka pintu kamar dengan kasar, Diva berjalan ke arah handphone milik Ayu yang memang disengaja tak dipasang kata sandi atau lainnya jika berada di rumah.
Tak ada pesan sama sekali, "Sia lan tuh anak, dia udah berani sekarang menghapus pesan dari siapapun itu? Liat aja, kalo sampe pulang akan kuberi dia pelajaran!" geram Diva menatap tajam ke arah jendela seolah-olah ada Ayu di sana.
Kembali turun ke bawah dengan Bik Tati yang sudah tak ada, "Bik!" teriak Diva.
"Iya, Non?" tanya Bik Tati tertunduk.
"Kalau dia sudah pulang, jangan kasih ke kamar atau masuk terlebih dahulu. Biarkan dia di teras!" titah Diva dan pergi menuju kamarnya.
Bik Tati hanya bisa mengangguk, "Neng Ayu, kamu ke mana toh nduk!" lirih Bik Tati yang khawatir.
__ADS_1
"Pa, Ayu pulang naik taksi aja Pa," pinta Ayu yang sudah berada di dalam mobil Angga.
"Gak, Papa mau antarkan kamu. Papa mau liat apa yang dilakukan Kakak kamu selama ini terhadap kamu kalo dia tau kamu ketemu sama Papa," tegas Angga melirik sekilas ke arah Ayu dan fokus kembali ke jalanan.