Gara-Gara Sampah

Gara-Gara Sampah
Hanya Titipan


__ADS_3

Angga langsung menampilkan wajah kaget dan takutnya, ia mendongak dengan seberusaha mungkin untuk memastikan wajah siapa yang ada di depannya.


Sedangkan wanita yang ada di samping Ayu ikut kaget juga karena ekspresi dari Angga, "A-ayu, Papa bisa jelasin," gelagap Angga berdiri menatap ke arah Ayu.


Ayu bergeser dari tempat berdirinya, ia belum melihat wajah wanita yang sedang makan bareng dengan Papanya.


Wajah wanita itu sedikit ditutupi oleh tangannya, Ayu semakin tersenyum melihat tingkah kedua orang yang padahal sudah berumur ini.


Seperti anak ABG yang pacarannya sembunyi-sembunyi saja, "Ayu, Papa bisa jelasin!" terang Angga mengusap wajahnya kasar setelah beberapa menit keheningan tercipta di meja mereka.


Ayu melihat sebagian wajah wanita tersebut, ia mengalihkan pandangan menatap ke arah Angga.


"Kalau udah sama-sama mau dan yakin, lebih baik langsung nikah Pa. Gak enak, udah sama-sama berumur juga 'kan?" tanya Ayu tersenyum tipis dan berlalu dari restoran.


Dirinya mengayunkan kaki menuju mobil kembali, niatnya untuk membeli pot diurungkan karena melihat pemandangan seperti tadi.


"Lah, Neng? Pot-nya mana?" tanya Pak supir yang menatap Ayu tak membawa apa-apa masuk ke dalam mobil.


"Oh, itu. Iya Pak, soalnya apa yang saya cari gak ada. Nanti deh, ke pasar aja," papar Ayu tersenyum simpul ke arah kaca spion.


Mobil akhirnya keluar dari area mall menuju rumah, hari pun sudah hampir malam karena senja sudah menunjukkan jingganya.


'Ya, aku ikhlas atas apa pun itu kedepannya yang terjadi. Aku bahagia, kok,' batin Ayu sedikit terkekeh.


"Neng, kenapa nangis?" tanya supir yang melihat ke arah Ayu karena terkekeh.


"Hahaha, siapa yang nangis Pak?" tanya Ayu dengan tawa juga mengelap air mata yang turun ke pipinya.


"Itu ... Neng lagi nangis lho," ujar supir yang sedikit panik dan bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi pada Ayu.


"Hahaha, iya, ya Pak. Kenapa saya nangis, ya? Hahaha, kok ada air mata sih? Padahal saya gak lagi nangis lho." Ayu mengelap air matanya menggunakan tangan, supir memberikan tisue ke arah Ayu.

__ADS_1


"Neng, Neng gak harus selalu jadi manusia yang hebat dan kuat. Cuma, jangan jadi manusia yang lemah juga. Kalau mau nangis, ya, gak papa. Itu manusiawi, kok gak ada yang salah atas hal tersebut," jelas supir yang membuat Ayu langsung menangkup wajah dan menangis sejadi-jadinya.


Namun, dirinya tak ingin terlalu berlarut-larut. Bisa-bisa nanti Angga tahu bahwa ia menangis akibat matanya yang bengkak.


Ayu menghela napas panjang dan mencoba tersenyum setelah menghapus bekas air mata menggunakan tisue tadi.


"Kita mau singgah lebih dulu atau jalan mobil lebih dipelankan, Neng?"


"Gak perlu Pak, saya juga mau salat soalnya. Lebih baik langsung pulang aja," jelas Ayu tersenyum dan mengangguk paham.


***


Angga terduduk dan menjambak rambutnya setelah kepergian Ayu tadi, ia tidak mengejar Ayu sama sekali karena tahu bahwa Ayu pasti akan langsung pulang.


"Sekarang gimana, Mas? Apa aku perlu ketemu sama Ayu?"


"Ya, karena sudah terlanjur juga semuanya. Kita akan ketemu sama Ayu mungkin seminggu lagi, sekarang dia juga lagi ada masalah soalnya," pasrah Angga dengan menyenderkkan punggung ke bangku.


Angga menatap dengan menaikkan bahunya, ia pun tak tahu sekarang harus melakukan apa bahkan untuk pulang pun sedikit takut.


"Yuk, kamu saya antar pulang. Habis ini saya mau langsung bicara sama Ayu," putus Angga menepuk lututnya terlebih dahulu lalu berdiri.


Mereka akhirnya memutuskan untuk pulang dengan Angga yang mengantar wanita atau lebih tepatnya kekasih hatinya itu.


***


"Mas, gimana kalau Akhtar gak ditemukan?" tanya Caca dengan cemas dan panik di ruang tamu.


"Kita doakan saja, Allah yang tahu semuanya. Udah ada lagi informasi tentang penemuan korban?"


Caca menggelengkan kepala lemah, wajahnya terlihat sangat pucat bahkan dari kemarin tak ada satu butirpun masuk nasi ke perutnya.

__ADS_1


Tok ... tok ... tok


Suara ketukan, Riki langsung bangkit dan membuka pintu untuk melihat siapa yang datang.


"Akhtar ...!" teriak Milda yang begitu datang langsung berlari ke dalam dengan histeris.


Bahkan, Riki tak sempat menyalim atau bertegur sapa dengan mertuanya tersebut lebih dulu. Riki menutup kembali pintu dan berjalan ke arah dua wanita yang tengah saling peluk dan menangis.


"Kalian kenapa ngasih dia izin, sih! Kalian gak liat apa keadaan cuaca terlebih dahulu, ha?" bentak Milda marah menatap ke arah Caca juga Riki.


Caca hanya bisa menunduk dengan meremas ujung bajunya, Riki yang menatap keadaan istrinya merasa iba.


"Maaf, Ma. Bisa jangan marah-marah sama kita? Kita juga sama kayak Mama, kita ngerasa kehilangan apalagi Caca selaku ibunya," jelas Riki yang mencoba menenangkan.


Milda langsung menatap Caca dalam, ia begitu merasa bersalah apalagi sekarang melihat keadaan Caca yang sedikit memprihatinkan.


"Sayang-sayang, bukan begitu maksud Mama. Mama sayang sama Akhtar, mangkanya Mama marah kayak gini," potong Milda menangkup wajah Caca dan mengusap pelan.


Caca mendongak, ia menganggukkan kepala, "Doakan aja Ma, semoga Akhtar baik-baik aja. Kalau pun dia pulang dengan keadaan tidak bernyawa lagi, kita harus ikhlas dan terima dengan takdir yang sudah di tetapkan," papar Caca menatap wajah Milda dan Riki bergantian.


Mereka mengangguk perlahan dengan menatap kosong ke arah lantai, "Anak itu titipan, bukan hanya anak. Bahkan yang ada pada diri kita; rumah, mobil, anak, nyawa juga bahkan titipan yang kapan saja bisa Allah ambil. Sang Pemilik segalanya yang ada di langit dan di bumi, sekarang. Kita berdoa agar Akhtar cepat ketemu aja, masalah dia selamat atau tidaknya biarkan Allah yang mengatur itu semua," kata Ayu mencoba untuk kuat menerima apa saja yang akan diterima nantinya.


Terlalu berharap juga akan membuat sakit hati, bukan? Bahkan, bisa jadi setelah apa yang kita dapatkan ternyata tak sesuai yang diharapkan membuat diri ingin memberontak dan membenci Sang Pencipta.


Itu sebabnya, ada lebih baiknya serahkan saja. Apa pun itu yang menjadi takdir dari Sang Ilahi, "Mama mau nginap di sini 'kan? Ayo, beres-beres dulu. Setelah itu, kita shalat bareng-bareng doain Akhtar biar cepat ketemunya," usul Caca dengan mengusap bahu Milda dengan tersenyum.


Milda mengangguk dan bangkit dari tempat duduk menuju kamar Leon, Caca dan Riki pun memilih untuk masuk ke kamar terlebih dahulu.


"Kalau Akhtar beneran meninggal bagaimana?" tanya Riki sambil menutup pintu.


"Gak papa Mas, memang sudah begitu garis takdirnya," sahut Caca tersenyum tipis dan masuk ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


Riki menghempaskan tubuhnya di kasur dan mengusap wajahnya dengan kasar, "Gue kayak suami yang gak berguna banget!" cacinya pada dirinya sendiri.


__ADS_2