Gara-Gara Sampah

Gara-Gara Sampah
Takdir


__ADS_3

"Nih, buat apa?" tanya Ningsih menyerahkan handphone-nya ke Ayu. Sedangkan Ningsih juga Angga menatap heran.


"Handphone kamu baik-baik aja Yu, sudah Papa service. Besok kamu bisa pake handphone itu lagi," celetuk Angga dan hanya mendapatkan anggukan dari Ayu.


Ayu memencet nomor yang sama berulang-ulang, jarinya semakin lincah memencet tombol telepon dan meletakkan di daun telinga yang tertutup kerudung.


"Kok gak diangkat, sih!" gerutu Ayu semakin panik.


"Lu punya nomor Tante Caca?" tanya Ayu menatap Ningsih.


"Punya, cari aja di kontak!" titah Ningsih yang masih menatap dengan keheranan.


Ayu dengan cepat mencari nomor Caca, tak berselang lama. Panggilan pun terhubungkan.


"Assalamualaikum, halo Tante. Ini Ayu Tan," salam Ayu terlebih dahulu.


"...."


Perlahan, handphone yang ada di daun telinga Ayu diturunkannya dengan gelengan juga mata yang sudah berembun.


Tubuhnya bergetar hebat, "Balik ke bandara, Pak!" perintah Ayu dengan meninggikan suara.


"Kenapa, Yu? Ada apa?" tanya Ningsih yang panik dan langsung membekap tubuh Ayu yang bergetar.


"Akhtar, Ningsih. Akhtar," isak Ayu dengan menggelengkan kepala sambil menatap ke arah Ningsih.


"Iya, kenapa dia?" tanya Ningsih yang ikut panik.


"Pesawat yang dia tumpangi ... jatuh ...."


Semua mata membulat dengan lebar tak terkecuali Angga yang dari tadi hanya menatap dan menyimak pembicaraan mereka.


Mobil sudah di jalankan menuju bandara kembali, di sepanjang jalan menuju bandara Ayu menangis sejadi-jadinya di dalam dekapan Ningsih.

__ADS_1


Dia hanya bisa menenangkan dan memberi saran positif bahwa Akhtar pasti akan baik-baik saja. Ningsih juga telah memberi tahu kabar ini kepada Ahmad.


Mereka, tak satupun ada yang percaya karena sebelumnya mereka masih berbicara dengan Akhtar di grup aplikasi hijau itu.


Namun, itulah takdir. Kita tak akan pernah tahu apa yang akan terjadi ke depannya bahkan sedetik kemudian.


Dengan tergesa, Ayu langsung berlari ke dalam bandara untuk melihat ke papan informasi. Ningsih pun akhirnya ikut juga berlari karena takut jika Ayu akan kenapa-kenapa.


Sudah ada Caca juga Riki yang duduk sambil memeluk tubuh Caca yang sudah bergetar hebat, Ayu menatap nama di papan informasi.


Nama-nama yang ada di dalam pesawat menuju Jepang tersebut dan yang pastinya, ada nama Akhtar di list korban jatuhnya pesawat.


Kaki Ayu lemas dan seketika terjatuh di lantai bandara, dirinya menggelengkan kepala membekap mulutnya.


"N-ningsih ... bilang sama gue kalo ini cuma bohong! Ini pasti bohong 'kan?" tanya Ayu mendongak dengan isakan.


"Ayu, jangan kayak gini. Ayo kita duduk, ini 'kan yang jadi korban jatuh dan belum tentu Akhtar gak selamat. Dia pasti selamat, kok," ujar Ningsih mencoba menenangkan dengan jongkok dan memegang bahu Ayu.


Ayu menatap ke arah Ningsih dengan lekat, ia langsung menghapus air mata, "Ya, lu bener Ningsih. Belum tentu Akhtar akan jadi korban meninggal, dia pasti akan pulang dan baik-baik aja!" pikir Ayu dan akhirnya bangkit dari lantai dingin tersebut dengan di bopong oleh Ningsih.


"Tante, jangan sedih begitu. Belum tentu Akhtar jadi korban meninggal, dia pasti akan selamat dan baik-baik aja, kok. Dia 'kan laki-laki yang kuat, mereka juga jatuh gak di saat ketinggian yang besar, kok. Jadi, untuk berharap penumpang ada yang hidup itu besar," jelas Ayu mengusap bahu Caca.


Caca diam lebih dulu, ia menghapus air matanya dan duduk dengan tegak menatap ke arah Ayu, "Ya, kamu benar!" seru Caca yang seolah lebih baik.


"Mas, kamu kerahkan orang lain selain petugas dari sini untuk menemukan Akhtar Mas!" titah Caca menatap ke arah Riki.


Riki mengangguk dan dia bangkit juga berjalan menjauh dari mereka, dirinya langsung mengeluarkan handphone dari saku celana dan menelpon seseorang yang mungkin adalah anak buahnya.


Sedangkan Angga, dia bertanya-tanya kembali tentang kejadian terjatuhnya pesawat pada bagian informasi.


Seluruh keluarga korban sudah berdatangan dengan isak yang tak tertahan, bahkan ada yang histeris hingga teriak dan pingsan mendengar keluarganya menjadi salah satu korban dalam jatuhnya pesawat ini.


"Nih, kalian minumlah," titah Angga memberikan kresek yang berisi minuman ke Ayu.

__ADS_1


Ayu langsung mengambil minuman tersebut, "Terima kasih, Pa," ujar Ayu dan langsung mendapatkan anggukan dari Angga.


Angga berjalan mendekati Riki yang masih setia menempelkan handphone di daun telinganya, Ayu memberikan satu per satu minuman ke Caca juga Ningsih.


"Tante, Leon mana?" tanya Ayu yang dari tadi tak melihat keberadaan Leon.


"Astaghfirullah, masih ada di mobil!" teriak Caca yang melupakan Leon di bangku belakang karena dia tengah tertidur.


"Ya, Allah. Yaudah, biar Ayu aja yang bawa dia ke sini!" potong Ayu berdiri. Caca langsung memberikan kunci mobil kepada Ayu.


"Tante kunci dia?" tanya Ayu dengan mata membulat.


"Iya, Tante lupa."


Tanpa aba-aba, Ayu langsung berlari menuju mobil terparkir, "Ayu, jangan lari lu! Ntar jatuh!" teriak Ningsih yang khawatir.


"Padahal, gak perlu lari. Leon bukan anak yang panikan, kok. Dia pasti akan santai-santai aja di dalam mobil," jelas Caca dan meneguk minuman yang diberi Ayu tadi.


Ayu membuka pintu belakang dan terlihat Leon yang sudah menatap ke arahnya, "Mama sama Papa mana Kakak cantik Ayu?" tanya Leon dengan wajah cemberut.


"Ada di dalam Sayang, yuk, kamu ikut sama Kakak," ajak Ayu dengan mata yang masih sembab.


"Kakak kenapa nangis, ini 'kan tempat ngantel Abang Akhtal tadi. Kita ngapain ke sini lagi? Abang udah pulang lagi? Gak jadi pelgi?" tanya Leon dengan menatap polos ke Ayu. Dirinya mendekat ke arah Ayu dengan merentangkan tangan.


Ayu tak dapat menjawab pertanyaan dari Leon, dirinya hanya tersenyum getir dan mulai membawa Leon ke dalam gendongannya.


Mereka berjalan menuju bangku yang sekarang sudah ada Angga juga Riki, mereka telah selesai berbicara.


"Yu, ayo kita ke rumah sakit. Pihak rumah sakit sudah menelpon, kamu terlalu lama pergi," papar Angga menatap ke arah Ayu dan berdiri.


Ayu menurunkan Leon, "Tapi, Pa? Gimana sama Akhtar, Ayu belum mau pulang," protes Ayu dengan wajah memelas.


"Om dan Tante juga akan pulang, kita berdoa aja semoga Akhtar bisa ditemukan dengan segera. Besok, pihak bandara akan menelpon keluarga korban kembali untuk memberi tahu perkembangannya. Jadi, hari ini ada baiknya kita pulang dan banyak-banyak berdoa agar Akhtar ditemukan dalam keadaan hidup dan masih bernapas," jelas Riki yang menatap ke arah Caca sedangkan yang lainnya menatap ke arahnya.

__ADS_1


Bahu Ayu merosot ke bawah, di tatap lantai berwarna putih tersebut, "Yuk, Sayang!" ajak Angga memegang bahu Ayu.


Ayu menatap Angga di sampingnya, dirinya mengangguk pelan dan mendekat ke arah Caca dan Riki untuk berpamitan tak lupa dengan Leon juga.


__ADS_2