
Waktu terus berjalan bersama dengan terus belajar untuk ikhlas melepaskan, Ayu dan Ningsih kini berada di ruangan yang sama.
Menunggu skripsi yang mereka buat selama berbulan-bulan mendapatkan ACC dari dosen yang ada.
"Oke, kalian minggu depan boleh ikut wisuda!" tegas dosen setelah selesai membaca skripsi Ayu dan Ningsih.
Kebahagiaan terpancar di wajah mereka berdua, Ayu dan Ningsih saling berpelukan di depan dosen.
"Terima kasih Pak, terima kasih!"
Setelah selesai, mereka luar dari ruangan dan langsung berteriak kegirangan. Ayu dan Ningsih menjadi pusat perhatian orang-orang yang lalu lalang.
Ayu menangkap sosok yang tak terlalu jauh darinya tengah tersenyum, Ayu membalas senyuman itu dan mengepalkan tangan ke atas tanda semangat.
Sosok tersebut kembali menghilang tanpa permisi seperti sebelum-sebelumnya, Ayu hanya bisa tersenyum menatap kepergiannya begitu saja.
"Ciee ... yang sebentar lagi akan nikah dong ini!" ejek Ayu saat mereka tengah berada di kantin kampus.
"Bulan depan Yu," ungkap Ningsih sambil memakan bakso.
"Apa?" teriak Ayu kaget dengan membulatkan mata membuat Ningsih tersedak bakso yang dikunyahnya.
"Uhuk-uhuk!" Ningsih dengan cepat mengambil air putih karena merasa sakit dan pedas di tenggorokan, seketika mata pun berembun akibat ulah Ayu.
Bukannya membantu dengan mengambilkan air, Ayu malah diam saja sambil mengerucutkan bibirnya.
"Astaga, Yu! Lu mau bunuh gue, ya? Bukannya diambilin air kek. Ini malah diam aja lu!" omel Ningsih yang sudah merasa lega.
"Lagian lu! Siapa suruh malah ngasih tau gue mendadak kayak gini, ha?" gerutu Ayu bersedekap dada.
"Masih sebulan lagi itu artinya lama, lho Yu! Kalo tinggal 2 hari lagi baru itu namanya bentar lagi!" jelas Ningsih yang tak terima bahwa dikatakan mendadak memberi tahu Ayu.
"Tau, ah! Gue mau pulang aja, males liat lu!" ketus Ayu dan pergi meninggalkan Ningsih di kantin begitu saja.
__ADS_1
"Woy, Ayu!" pekik Ningsih menatap punggung wanita yang sudah akan menghilang dari kantin.
Setelah dari kampus, sekarang Ayu tengah berada di mall. Ia ingin mencari kado spesial buat Ningsih nantinya.
Ia mencari-cari apa yang diinginkan di dalam toko, begitu fokusnya Ayu sampai tak menyadari bahwa salah satu barangnya terjatuh.
"Maaf, ini dompet kamu jatuh tadi pas di kasir," tegur seseorang dari belakang membuat Ayu menoleh.
"Eh, makasih. Ya, Allah. Maafin saya, ya, Kak. Jadi repotin," kata Ayu dan menatap ke wajah orang yang mengulurkan dompet miliknya yang jatuh tadi.
***
"Terus, Ma? Gimana kisah mereka? Apa ... putri baik itu jadinya menikah dengan laki-laki yang menemui dompetnya di mall?" tanya seorang anak kecil yang tengah berbaring di samping Mamanya.
Mamanya menoleh dengan mengerjapkan matanya serta mengangguk, "Putri baik menerima lamaran laki-laki penemu dompetnya itu, mereka tidak pacaran dahulu karena putri itu memang tak ingin pacaran. Temen putri baik pun akhirnya menikah juga dengan pangeran impiannya, akhirnya mereka hidup dengan bahagia dan tamat ...."
"Tapi ... kesian putra menjengkelkan itu, ya, Ma. Dia harus meninggal dan gak jadi menikah dengan putri baik. Qabell pengen ketemu sama putra menjengkelkan itu deh Ma, Qabell mau marahin dia kenapa meninggalkan putri baik begitu saja!" ketus Qabell bersedekap dada dengan mengerucutkan bibirnya.
"Allah!" timpal Qabell dengan semangat.
"Tepat sekali! Maa Syaa Allah anak Mama, sekarang tidur, ya. Sudah malam, besok Qabell harus sekolah 'kan?"
Qabell hanya menjawab dengan anggukan, wanita yang bergelar Mama Qabell menarik selimut dan menutup tubuh anak perempuan yang berumur 5 tahun tersebut sampai ke dadanya.
Cup
Sebelum keluar, kecupan diberikan di kening putrinya terlebih dahulu dan lampu pun akhirnya di matikan.
Mama Qabell keluar dari kamar putrinya menuju ke kamar miliknya yang berada di samping kamar anak perempuan itu.
Ia menuju balkon dan menatap hamparan gedung-gedung yang ada di depannya, air mata turun dengan derasnya bahkan menimbulkan isakan.
"Sayang ... apa kita perlu ziarah ke makamnya agar kau tenang?" timpal seseorang yang datang dan langsung berada di samping wanita itu.
__ADS_1
"Gak perlu Mas, Ayu yakin Kak Akhtar sekarang sudah jauh sangat bahagia di sana," jelas Ayu menyenderkan kepalanya di pundak laki-laki itu.
"Aku tak akan melarang kau untuk merindukan dia, itu hal yang wajar. Namun, cobalah untuk ikhlas akan hal yang sudah begitu lama terjadi," saran laki-laki tersebut mengusap kepala Ayu dengan lembut.
"Iya, Mas Haykal. Akan Ayu coba," terang Ayu menghapus air matanya.
'Kak Akhtar, sekarang gue udah punya anak yang begitu cantik. Gue pakein nama lu untuk dia agar gue selalu ingat tentang lu, 'Qabell' meskipun kata orang-orang seperti laki-laki namanya. Hahaha, gue gak masalah. Dia juga baik-baik saja dengan nama itu. Dia juga seneng kok dengan nama itu, sekarang gue di negri sebrang Kak. Tepatnya di Malaysia. Gue hidup bahagia di sini selayaknya seorang istri dan Ibu untuk anak gue.'
'Di sana gimana, Kak? Lu happy 'kan? Mama Caca sekarang udah gak terlalu sedih, lu tau Kak? Lu punya adik cewek yang cantik banget, sedikit pengusir kesedihan Mama Caca. Leon, ya, laki-laki itu sekarang sudah meranjak remaja. Dia jadi laki-laki yang sama seperti Om Riki, dia belajar menembak juga ilmu bela diri lainnya. Katanya, buat lindungi adiknya yang cewek dari laki-laki kayak lu dulu hahaha. Padahal, Leon juga dulunya playboy, ya, hahaha.'
'Aku tak bisa terus terpuruk dalam masalah dan kenyataan yang menerpa, jika aku tak bangkit sekarang. Lantas, akan seperti apa masa depanku nanti? Itu sebabnya, aku harus bangkit dan melanjutkan impian dan harapanku.'
'Bukan berarti aku tak cinta padamu dan rasa ini sudah memudar dimakan waktu. Namun, hidup terus berjalan dan kita tak bisa diam di tempat yang sudah mengusir kita habis-habisan, bukan?'
"Sayang ... ayo kita masuk, anginnya semakin kencang," ajak Haykal memegang bahu Ayu.
Ayu mendongak dan mengangguk pertanda setuju, mereka masuk ke dalam kamar, "Ayu saja yang nutup pintunya Mas," ungkap Ayu dan diangguki oleh Haykal.
Saat ingin menutup pintu balkon, Ayu kembali melihat sosok itu. Sosok yang sudah lama tak pernah hadir kembali di hadapannya.
Ayu mengangkat bibirnya dan tersenyum ke arah sosok tersebut, ia melambaikan tangan dan dibalas oleh sosok yang pernah hadir dalam hidupnya tapi tak menjadi takdirnya.
Terkadang ... kita hanya perlu waktu. Waktu, untuk bisa bangkit dan membuka lembaran baru dalam kisah hidup kita.
Beri jeda jika memang itu diperlukan, kita hanya manusia biasa yang tak harus selalu tampak kuat, bukan?
Namun, jangan pernah berhenti ketika takdir tak sesuai dengan ekspektasi. Bukankah kita memang tak boleh berharap dengan sesuatunya?
Berhenti berharap pada apa pun itu, serahkan semua pada Sang Maha Tahu. Dia, akan mengurus sebaik-baiknya kisah hidup kita.
Karena skenario terbaik hanyalah buatan Allah.
TAMAT
__ADS_1